
Pagi ini Gevin terbangun, namun tidak menemukan keberadaan istrinya di sana. Gevin tersenyum sendiri dengan apa yang terjadi semalam. Bagaimana dia yang melakukannya kembali bersama dengan Zaina. Perasaannya bisa lebih baik pagi ini setelah dia melepaskan rindu dengan istrinya tadi malam.
Ya Tuhan, kalau aku tahu menikah akan sebahagia ini mungkin aku tidak akan menolak saat Ibu memintaku menikah dari dulu.
Gevin yang sudah menerima takdir, dia yang terpaksa harus menikah dengan Zaina yang awalnya dia anggap seperti saudara sendiri. Tapi sekarang Gevin benar-benar tidak menyesal jika dirinya harus bersama dengan Zaina. Karena nyatanya dia sangat bahagia bisa bersama dengan Zaina saat ini. Meski cukup banyak rintangan yang harus dia hadapi selama ini.
Gevin keluar dari kamar dan langsung menuju dapur untuk menemui istrinya karena dia yakin kalau Zaina pasti sedang berada di dapur dan sedang menyiapkan sarapan. Benar saja, ketika dia sampai di dapur dia melihat istrinya yang sedang mengaduk masakan di dalam wajan. Gevin segera menghampirinya dan memeluk Zaina dari belakang.
"Sayang, sekarang pergi ke sekolah lagi?"
Zaina mengangguk, dia sudah lebih baik dan tidak mungkin terus berdiam di rumah. "Iya Mas, aku ke sekolah lagi sekarang"
Gevin mengecup bahu istrinya dengan lembut. "Beneran udah sehat? Kamu harus istirahat dulu deh sepertinya"
Zaina tersenyum mendengar itu, dia berbalik setelah mematikan kompor. Mengalungkan lengannya di leher suaminya sambil tersenyum.
"Mas, aku sudah tidak papa, lagian bukan karena aku ngajar di sekolah aku sampai kecapean. Tapi karena kegiatan malam yang selalu membuat aku lelah" ucap Zaina dengan mata mengedip menggoda
Gevin tersenyum mendengar itu, dia mengecup bibir istrinya itu. "Jangan menggodaku lagi, atau pagi ini kamu tidak akan jadi pergi ke sekolah"
Mendengar itu Zaina langsung melepaskan lingkaran tangannya di leher Gevin. Berbalik dan mengambil wadah untuk menuangkan masakan yang di buatnya di dalam wajan ke dalam wadah itu.
"Sudah ah, kita sarapan saja sekarang" ucap Zaina sambil berjalan ke arah meja makan, melewati Gevin yang terus menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Mas, cepat makan. Kenapa malah diam saja di situ?"
Gevin tersenyum, dia langsung berjalan mendekati Zaina dan duduk di sampingnya.Zaina langsung mengambilkan makanan untuk suaminya itu. Gevin mulai memperhatikan sekitar, dia tidak menemukan Lolyta sejak tadi.
__ADS_1
"Sayang, Lolyta dimana?"tanya Gevin
Gerakan tangan Zaina langsung terhenti ketika mendengar pertanyaan dari Gevin barusan. "Emm. Lolyta...Lolyta... Dia..."
Gevin menatap Zaina dengan kening berkerut bingung. Zaina yang terlihat gugup dan takut, seolah apa yang akan dia katakan akan membuat Gevin kecewa. Gevin mulai menyadari jika memang ada yang tidak beres dengan kedua istrinya itu.
"Sayang, dimana Lolyta?" tanya Gevin dengan penuh penekanan
Zaina tidak bisa lagi menghindar, dia menyimpan piring berisi makanan itu di depan Gevin. "Makan saja dulu sarapannya Mas"
Semakin Gevin di buat curiga dengan sikap Zaina ini. Mau bagaimana pun Zaina tidak akan pernah bisa berbohong pada Gevin. Karena selama beberapa bulan ini bersama, tentu Gevin bisa mengenali bagaimana Zaina yang sebenarnya yang tidak bisa berbohong pada siapapun.
"Sayang, jawab aku sekarang! Dimana Lolyta?" tanya Gevin sekali lagi dengan penuh penekanan
Zaina menundukan kepalanya, dia jelas sudah tidak bisa lagi terus berbohong pada suaminya itu. "Se-sebenarnya Lolyta pergi dari Apartemen ini"
Gevin tentu sangat terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Gevin menatap Zaina dengan lekat. "Pergi? Pergi kemana Zaina? Dan kenapa dia pergi, kenapa juga kamu izinkan dia pergi?"
Zaina semakin menundukan kepalanya, tangannya saling bertaut di bawah meja. "Aku juga tidak tahu dia pergi kemana, tapi memang Lolyta sendiri yang meminta untuk pergi"
Gevin langsung mengusap wajah kasar, dia bingung dan harus mencari Lolyta dimana. Yang ada di pikiran Gevin hanya Lolyta yang keadaannya suda pasti tidak baik-baik saja. Bagaimana cara Gevin mencarinya sekarang.
"Ya ampun Lolyta, kamu pergi kemana sebenarnya. Aku khawatir dengan keadaannya itu Za, takut dia kenapa-napa. Apalagi kamu tahu sendiri bagaimana keadaannya itu"
Zaina menoleh dan menatap Gevin yang terlhat benar-benar khawatir dengan keadaan Lolyta yang pergi saat ini. Zaina mengelus punggung Gevin dengan lembut, dia juga bingung harus melakukan apa sekarang. Sementara dia sudah berjanji pada Lolyta untuk tidak memberi tahukan keberadaannya pada Gevin. Sementara sekarang dia melihat bagaimana suaminya yang begitu terpukul dengan kepergian Lolyta.
######
__ADS_1
"Bantu aku untuk pergi dari sini, Za"
Zaina terdiam mendengar itu, dia menatap Lolyta dengan helaan nafas panjang. "Lolyta, apa kamu yakin dengan semua ini? Apa kamu benar-benar yakin untuk pergi dan meninggalkan Gevin lagi?"
Lolyta memegang tangan Zaina, dia menatapnya dengan lekat. "Aku memang pernah meninggalkan Gevin, dan waktu itu aku benar-benar menyesal karena sudah meninggalkan Gevin. Tapi saat ini, aku lebih menyesal karena kembali dan telah masuk dalam pernikahan kalian itu. Aku tidak mau terus menjadi duri dalam pernikahan kamu dan Gevin, Za"
Zaina terdiam mendengar itu, tentu saja dia juga tidak tahu harus melakukan apa saat in. "Ly, kamu jangan merasa jika kamu telah menjadi duri dalam pernikahan aku. Karena sebenarnya, pernikahan aku dan Gevin hanya sebuah sandiwara saja. Gevin tidak mencintaiku, dia masih mencintai kamu sampai sekarang"
Lolyta menggeleng pelan, dia menatap Zaina dengan lekat, tangannya masih memegang tangan Zaina. "Kamu salah Za, sebenarnya Gevin sudah tidak mempunyai perasaan apapun lagi padaku. Dia mencintai kamu, Za"
Zaina tertawa mendengar itu, dia tentu tidak langsung percaya pada apa yang ucapkan oleh Lolyta. "Jangan bercanda kamu, Lolyta. Jelas aku hanya istri yang tidak di harapkan oleh Gevin. Dia sendiri yang bilang padaku untuk menjalani sandiwara pernikahan dengannya"
Lolyta menghela nafas pelan, dia juga tidak tahu harus melakukan apa jika saat ini Zaina tidak percaya dengan ucapannya itu. "Kamu akan tahu suatu saat nanti, siapa yang dicintai oleh Gevin saat ini. Yang terpenting sekarang kamu harus bantu aku pergi dari sini"
Zaina terdiam mendengar itu, dia menatap Lolyta dengan tatapan tidak percaya. Masih merasa tidak yakin jika saat ini malah Lolyta yang memilih untuk pergi dan menyerah dari kehidupan Gevin.
"Kamu yakin?"
Dengan mantap Lolyta menganggukan kepalanya. Dia sudah yakin dengan keputusan yang dia buat ini. Karena memang seharusnya Gevin bahagia bersama dengan Zaina tanpa kehadran dia sebagai masa lalu dari Gevin.
Akhirnya Zaina membantu Lolyta untuk pergi dari Apartemen siang itu. Dengan uang yang dia punya, dia menyewakan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Zaina juga memberikan uang pegangan pada Lolyta. Dan Zaina tetap menugaskan perawat yang biasanya merawat Zaina itu untuk tetap menjaga Zaina. Dan Zaina juga yang akan membayarnya. Uang bulanan dari Gevin lebiih dari cukup untuknya, belum lagi dia yang juga masih mempunyai tabungan. Lagian saat ini Zaina juga sedang bekerja.
"Tolong jangan kamu beritahu Gevin keberadaan aku ini. Mau apapun itu, kamu jangan pernah memberi tahu Gevin ya"
Zaina menganguk, meski hatinya tidak yakin dia bisa benar-benar menjaga rahasia ini.
Bersambung
__ADS_1