Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Kedatangan Mertua Dan Adik Ipar


__ADS_3

Terbangun pagi ini, Zaina hanya diam dalam pelukan suaminya. Keduanya masih dalam keadaan polos dan hanya bergelung di bawah selimut tebal itu. Sekarang Zaina bisa menatap dengan jelas wajah suaminya. Masih teringat dan terbayang apa yang terjadi tadi malam. Setelah sekian lama bahkan dirinya tidak menyangka akan merasakan hal ini lagi bersama dengan suaminya. Setelah beberapa bulan berlalu.


Jari telunjuk yang lentik itu perlahan menyentuh pipi Gevin dengan lembut. Menoel-noelnya, tersenyum sendiri dengan apa yang dilakukannya ini. Dengan segala hal yang pernah terjadi dalam hidupnya dan pernikahan mereka. Akhirnya saat ini tiba juga, dimana keduanya bisa kembali bersama dengan kebahagiaan dan kepastian akan cinta diantara keduanya.


"Sayang jangan menggodaku lag"


Zaina mengerjap kaget mendengar itu, dia langsung menjauhkan tangannya dari wajah Gevin. Dia tidak tahu kalau Gevin sudah bangun dari tadi.


"Mas, kamu sudah bangun, kenapa tidak bilang dari tadi" ucap Zaina dengan melengos pelan ke samping kanan. Malu juga karena ketahuan oleh suaminya jika dia sedang mengganggunya.


Gevin tersenyum dengan sikap istrinya ini, dia memeluk Zaina dan mengecup bahu polosnya beberapa kali. Pagi ini benar-benar sangat ceria untuk Gevin. Dia sudah bisa melepaskan dahaga selama beberapa bulan ini.


"Kenapa malu? Kan kita ini sudah suami istri. Jadi tidak perlu malu begitu, Sayang" bisik Gevin, sedikit menggigit telinga istrinya dengan lembut.


Tubuh Zaina meremang seketika, dia tidak tahu kenapa. Mungkin juga karena kecupan dan gigitan dari suaminya. Gawat nih, aku harus segera pergi dan menjauh dari Gevin. Zaina langsung bangun terduduk di atas tempat tidur, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Namun belum juga dia duduk dengan benar, tangan suaminya malah sudah memegang bagian-bagian sensitive.


"Mas.."


Gevin terkekeh, dia mendongak dan menatap wajah istrinya yang tegang itu. Membuat Gevin tidak tega juga, dia langsung bangun dan ikut duduk menyandar di samping istrinya. Mengelus kepala Zaina dengan pelan.


"Mandi dulu ya, aku juga harus ke Kantor hari ini. Kamu mandi dulu saja" ucap Gevin, dia menatap Zaina dengan tatapan yang sulit di artikan. "...Atau mau aku temani mandi?"


"Tidak usah!" teriak Zaina, dirinya sampai kaget sendiri dengan suaranya yang kencang itu. "...Emm. aku bisa mandi sendiri Mas. Kamu tunggu saja disini sebentar ya"


Zaina segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti. Dia tidak mungkin mandi bersama dengan suaminya, karena pastinya akan membuat waktu mandinya lebih lama dari biasanya.

__ADS_1


Gevin hanya tertawa lucu melihat kelakuan istrinya itu. Padahal apa yang dilakukan semalam itu bukan pengalaman pertama untuk mereka berdua. Tapi istrinya itu masih saja terlihat sangat malu.


########


Siang ini, Zaina sedang duduk di atas sofa di ruang tengah rumah ini. Sambil menonton drama kesukaannya dengan sepiring kecil buah segar yang sudah di potong-potong yang di buatkan Mbak pelayan sebagai cemilan.


Sampai beberapa saat kemudian, Ibu mertua dan adik iparnya datang. Tentu saja Zaina sangat senang karena sudah lama juga dirinya tidak bertemu dengan keduanya.


"Ya ampun Bu, Gen, mau kesini kok gak bilang-bilang dulu"


Vania hanya tersenyum, dia mengelus perut menantunya yang semakin membesar itu. Tentu saja dia juga sangat menantikan kelahiran cucu pertamanya ini.


"Sengaja saja Ibu datang hanya ingin melihat keadaan kamu. Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu lagi. Oh ya, ibu dengar kemarin kamu dan Hildan datang ke orang tua kamu. Bagaimana respon Daddy kamu pas tahu kalau kalian kembali bersama?" tanya Vania


Zaina tersenyum, pasti Ibu mertuanya ini juga mencemaskan hal yang sama dengan Zaina. Takut jika Hildan akan menolak dan tidak menyetujui jika dirinya kembali bersama dengan Gevin. "Semuanya baik Bu, bahkan Daddy juga tidak melarang. Karena dia sudah di beri tahu oleh Bunda, jika memberi kesempatan kedua pada orang yang sudah pernah berbuat salah pada kita, itu adalah hal yang bagus. Karena dengan seperti itu kita bisa lebih tahu apa memang dia sudah benar-benar berubah atau tidak"


"Bunda kamu itu memang yang paling terbaik, dia selalu menjadi sosok pemaaf sejak dulu" ucap Vania


Zaina hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya barusan. Buktinya Jenny masih bisa memaafkan dan menerima kembali Ayahnya setelah apa yang pernah dilakukan Hildan padanya. Bahkan apa yang di alami Jenny jauh lebih menyakitkan dari apa yang di alami Zaina saat ini.


"Gen, nginep saja disini ya. Biar Kakak ada temannya juga" ucap Zaina pada adik iparnya itu.


Genara yang sejak tadi fokus pada ponselnya langsung mendongak dan menatap Kakak iparnya itu. "Boleh aja Kak, kalau memang di izinkan sama Kak Gevin"


"Kenapa juga Kakak kamu melarangnya, udah kamu menginap saja disini" ucap Zaina

__ADS_1


Genara mengangguk saja, lagian dia senang bisa bersama dengan Zaina. Karena selama ini dirinya itu selalu ingin punya Kakak perempuan agar bisa lebih leluasa untuk di ajak bercerita.


"Yaudah Gen, kalau memang kamu mau disini. Ibu nanti pulang di antar sopirnya Gevin saja" ucap Vania


Dan akhirnya hari ini Genara benar-benar menginap di rumah Kakaknya ini. Senang saja karena dia bisa menemani Kakak iparnya. Dan mereka bercerita banyak hal sampai tertawa-tawa senang.


Hingga ketika malam hari, Gevin baru saja pulang bekerja. Dia menatap istri dan adiknya yang sedang mengobrol sambil bercanda di ruang tengah. Gevin langsung menghampiri mereka dan menatapnya.


"Gen, ngapain kamu disini? Udah malam ini, sana pulang" ucap Gevin


"Dih, aku di suruh menginap sama Kak Zaina kok" ucap Genara santai


Zaina meraih tangan suaminya dan menggenggamnya. "Iya Mas, aku memang meminta Genara untuk menginap disini. Biar aku ada teman saja gitu"


Genara menatap Kakaknya dengan tatapan meledek. Jelas dia melihat Gevin yang seolah tidak rela kalau istrinya sampai lebih menghabiskan waktu bersama Genara daripada dirinya.


"Sudah ah, sekarang ayo kita ke kamar dulu. Kamu juga belum mandi, nanti kita makan malam bersama" ucap Zaina


Dan Gevin hanya menurut saja, dia bersama dengan istrinya pergi ke kamar mereka. Zaina yang ingin menyiapkan air untuk Gevin mandi, langsung di larang olehnya.


"Sayang duduk saja, biar aku saja yang siapin airnya"


Zaina hanya tersenyum mendengar itu, jelas dia tahu bagaimana suaminya yang masih saja khawatir berlebih padanya. Padahal keadaannya juga baik-baik saja. Dokter sudah bilang jika dirinya sudah lebih baik dan sudah pasti akan bisa melahirkan normal.


"Mas, aku sudah tidak apa-apa. Kenapa kamu masih saja khawatir berlebih" ucap Zaina

__ADS_1


Gevin mengelus kepala istrinya, mengecup keningnya dengan lembut. "Sudah diam saja, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu"


Bersambung


__ADS_2