
"Selamat pagi Mas, ayo sarapan"
Gevin terdiam melihat pemandangan di depannya. Zaina yang menggunakan apron, tersenyum padanya dengan begitu manis. Sungguh entah kenapa hati Gevin berdebar.
"Mas, ayo sarapan" kata Zaina sekali lagi ketika dia melihat Gevin yang malah diam saja.
Gevin mengerjap, dia berjalan menghampiri istrinya. Dia duduk di kursi meja makan. Menatap makanan yang di siapkan oleh istrinya.
"Padahal kamu tidak perlu masak kalau capek Za, kita bisa pesan saja"
"Kan aku lagi memerankan sandiwara kita sebagai istri kamu"
Gevin hanya tersenyum mendengarnya, menganggap jika Zaina sudah mulai terbiasa dengan sandiwara yang mereka lakukan ini. Namun tanpa Gevin ketahui ada hati yang sangat terluka dengan semua ini.
Zaina tersenyum, menatap suaminya yang makan dengan cukup lahap sanwich buatannya itu. Aku senang hanya bisa makan berdua denganmu seperti ini saja, apalagi jika kamu bisa menerima aku sebagai istrimu. Gumamnya dalam hati yang terus berharap jika suatu saat nanti semuanya akan berubah, Gevin yang akan menganggapnya sebagai istri sungguhan.
"Em, Mas apa bisa kalau hari ini kita pergi jalan-jalan keluar. Mencari toko oleh-oleh gitu, kan kita disini hanya beberapa hari saja"
Gevin mengangguk, dia tidak menganggap keinginan Zaina ini berlebihan. "Oke, kalau gitu kamu siap-siap setelah selesai makan"
Zaina mengangguk dengan wajah yang berbinar. Setidaknya Gevin tidak sekeras itu padanya, mungkin hal ini bisa Zaina manfaatkan untuk bisa mendapatkan hati suaminya.
Setelah selesai sarapan, mereka langsung pergi untuk berkeliling di tempat ini. Tentu saja banyak toko oleh-oleh yang tersedia disini. Zaina memilih berbagai barang untuk orang-orang terdekatnya saja. Zaina menatap Gevin yang memilih jam tangan pasangan, Zaina tersenyum sendiri karena berpikir jika Gevin akan membeli jam itu untuk dirinya.
"Sudah semuanya Za? Atau masih ada yang ingin kamu beli?"
"Tidak ada, aku ingin langsung pulang saja ke Villa. Capek juga ya belanja seperti ini"
Gevin terkekeh lucu mendengar keluhan istrinya itu. Dia mengacak rambut Zaina dengan gemas. "Yaudah, kalau begitu aku bayar dulu semuanya"
Dan benar saja, Gevin mengambil satu jam tangan pasangan dan juga sebuah gelang pasangan. Zaina semakin senang saja karena mungkin Gevin akan memberikannya nanti saat dia kembali ke Ibu kota.
__ADS_1
Semoga saja, Gevin bisa berubah dan bisa menerima pernikahan ini.
Harapan yang selalu terucap di setiap do'anya. Karena Zaina hanya berharap jika suaminya akan bisa menerima dia sebagai istrinya, bukan hanya sekedar sandiwara.
########
Zaina baru saja selesai masak untuk makan malam. Masih berada di Villa dengan acara bulan madu sandiwara mereka ini. Zaina masuk ke dalam kamar sambil melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Hingga ketika dia mendongak, ponselnya langsung jatuh menimpa kakinya.
Zaina melihat Gevin yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Bagian atas tubuh pria itu benar-benar polos dengan tetesan air dari rambutnya, semakin membuat kesan tampan untuk ukuran seorang lelaki.
"Mas, kenapa bilang kalau belum pakai baju"
Zaina langsung membalikan tubuhnya, membelakangi Gevin. Wajahnya sudah memanas sejak tadi, mungkin karena merasa malu harus melihat tubuh polos suaminya. Karena ini pertama kalinya dia melihat tubuh polos seorang pria dewasa.
"Maaf Za, aku juga lupa kunci pintu. Kirain kamu tidak akan masuk tiba-tiba begini"
"Aku gak tahu kalau Mas belum pakai baju"
Zaina langsung berbalik, namun masih dengan wajahnya yang menunduk. Dia jadi malu sendiri dengan apa yang telah terjadi barusan.
"Makan malam sudah siap, ayo makan malam bersama"
Gevin mengangguk, dia berjalan keluar dari kamar bersama dengan Zaina. Gevin merasakan ada kehangatan baru ketika setiap pagi Zaina selalu membangunkannya dan juga menyiapkan pakaian ganti untuknya, bahkan sarapan pun juga dia yang menyiapkan. Gevin merasa jika Zaina sangat sama dengan Ibunya. Bagaimana Ibu yang selalu memperhatikan segala hal untuk dirinya itu.
"Za, apa kamu punya pacar?"
Zaina mendongak, dia menatap Gevin dengan tidak percaya. Bagaimana bisa suaminya bertanya seperti itu padanya. Zaina benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya ini.
"Maksud aku, apa kamu pernah pacaran? Atau mungkin ada pria yang kamu sukai?"
"Ada"
__ADS_1
Gevin langsung mendongak dan menatap Zaina dengan penasaran. "Siapa?"
"Ada seorang pria yang aku sukai sejak SMA. Aku kira si awalnya hanya sebuah rasa kagum saja, tapi ternyata aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dan ini bukan cinta monyet, karena aku masih mencintainya hingga sekarang"
"Loh, kenapa kamu tidak menyatakan perasaan kamu pada pria itu?"
Zaina menghela nafas pelan, dia menatap Gevin dengan lekat. "Karena pria itu tidak pernah mencintaiku"
Gevin terdiam mendengar ucapan Zaina, dia langsung memalingkan wajahnya ketika dia mendapatkan tatapan Zaina yang begitu lekat.
"Sayang sekali ya, padahal kamu baik dan cantik. Kenapa pria itu tidak mencintaimu"
"Kalau aku cantik dan baik seperti yang kamu katakan, kenapa juga kamu tidak mencintaiku, Mas?"
Gevina langsung menoleh dan terkekeh pelan dengan pertanyaan Zaina yang dia anggap sebagai candaan saja. "Ya, karena kamu sudah seperti saudaraku sendiri. Logikanya mana mungkin aku mencintai saudaraku sendiri"
Zaina hanya tersenyum tipis, lalu dia kembali makan. Tidak ada lagi pembahasan diantara mereka, Zaina hanya sudah mencoba memancing, namun suaminya tetap dengan reaksinya yang sama. Mungkin memang Gevin tidak pernah mencintainya karena menganggap Zaina adalah saudaranya.
Selesai makan, mereka berada di ruang tengah. Menonton drama yang sedang ramai di perbincangkan itu. Gevin juga ikut menonton, tapi bukan karena dia suka hanya sedang mencoba menemani Zaina agar tidak merasa jenuh saja. Namun lama-lama dia mulai tidak bisa menahan ngantuknya, Gevin menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan terlelap begitu saja.
Zaina mematikan layar televisi, dia menoleh pada suaminya yang sudah tertidur. Zaina memperhatikan garis wajah tampan Gevin. Pria yang dia cinta sejak duduk di sekolah menengah atas, ketika dia mulai mengenal yang namanya perasaan suka dan cinta.
Perlahan Zaina mengelus pipi Gevin, lalu memberikan kecupan lembut disana. "Aku menyayangimu Gevin" ucapnya dengan sangat lirih.
"Mas, ayo bangun..." Zaina menggoyangkan tubuh Gevin untuk membangunkannya. "...Pindah ke kamar kalau mau tidur"
Gevin membuka matanya, dia menguap lebar karena memang sudah sangat mengantuk. "Kamu juga tidur Za, ini sudah malam. Besok lagi saja nontonnya"
"Iya"
Gevin berlalu ke kamar tanpa menghiraukan Zaina yang masih berada di ruang tengah. Zaina yang masih memikirkan tentang bagaimana cara yang harus dia lakukan agar bisa mendapatkan hatinya.
__ADS_1
Bersambung