Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Keadaan Zaina?


__ADS_3

Genara tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh Kakak laki-lakinya pada istrinya. Membuat dia yakin jika saat ini Gevin tidak sedang melakukan sandiwara. Genara melihat ketulusan yang diberikan oleh Gevin pada istrinya itu.


Semoga saja, selamanya mereka akan bahagia. Gumamnya pelan. Genara memakan makananya sambil sesekali melirik sepasang suami istri itu yang terlihat begitu bahagia.


Selesai makan malam, Genara menemani Zaina untuk menonton televisi. Sementara Gevin sudah pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


"Kak, sudah beli perlengkapan bayi belum? Oh ya usia kandungan Kakak ini berapa bulan?" tanya Genara sambil mengelus perut Kakak iparnya.


"Sudah tujuh bulan Gen, aku belum membeli apapun si untuk perlengkapan bayi. Soalnya Mas Gevin juga masih sibuk dan dia tidak mengizinkan aku untuk pergi beli sendiri" ucap Zaina


"Ck, memang ya itu pria satu gak benar banget. Masa usia kandungan sudah besar begini belum mempersiapkan apa-apa. Masa mau nunggu lahiran si, kalau sampai lahiran besok bagaimana coba"


Zaina hanya terkekeh lucu melihat Genara yang marah dan kesal hanya karena Gevin yang belum mempersiapkan apa-apa untuk persalinan Kakak iparnya ini.


"Besok saja pergi bersamaku, bagaimana Kak?" tanya Genara


Zaina sedikit berpikir, mungkin memang jika suaminya tidak bisa mengantarnya, mungkin dia bisa pergi bersama dengan Genara. "Emm. Kamu tanyakan dulu sama Kakak kamu deh, takutnya dia tidak mengizinkan. Karena aku sudah pernah minta di antar supir juga tidak boleh. Entahlah, kenapa Gevin yang selalu khawatir dengan keadaan aku, padahal nyatanya aku tidak papa"


Genara terdiam, dia mengelus perut Kakaknya. Dan langsung kegirangan ketika merasakan tendangan dari dalam perut Kakak iparnya itu. "Kak, dia menendang. Apa mungkin dia sedang menyukaiku?"


Zaina tertawa kecil, merasa lucu dengan mimik wajah adik iparnya yang terlihat sangat kaget sekaligus senang saat merasakan tedangan dari bayinya di dalam sana.


"Iya Gen, dia menyukai Tantenya"

__ADS_1


Genara tersenyum, dia menggeser duduknya yang sejak tadi duduk di atas karpet berbulu di depan Zaina yang duduk di atas sofa. Menempelkan telinganya di perut buncit Kakak iparnya itu.


"Hai Sayang, ini Tante. Sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Cepat lahir ya" ucap Genara


"Haha. Kamu ini Gen, masa iya suruh cepat lahir, kan baru tujuh bulan" ucap Zaina sambil tertawa lucu dengan ucapan adik iparnya itu.


"Iya ya" ucapnya pelan. Tapi entah kenapa aku malah merasa jika Kak Zaina akan segera melahirkan ya. Atau mungkin salah menghitung bulan kali, bisa saja 'kan? Tapi mana mungkin si.


Genara terdiam dengan perasaannya sendiri yang tidak menentu ini. Seolah ada hal yang ingin dia ungkapkan dan sebuah hal yang mengganjal di hatinya. Genara yang benar-benar merasa jika Kakak iparnya ini akan segera melahirkan. Padahal jelas usia kandungan Zaina juga masih belum memadai. Perlu waktu dua bulan lagi untuk benar-benar melahirkan secara normal.


Aneh deh aku ini, mungkin hanya perasaan saja.


#########


Di dalam kamar, sebelum keduanya tidur. Zaina sedang berada dalam pelukan suaminya yang nyaman. Dia sedang mencoba mencari cara untuk mengatakan pada suaminya jika dia akan pergi berbelanja untuk perlengkapan bayi bersama dengan Genara. Tapi Zaina takut untuk berkata, karena biasanya Gevin suka langsung melarangnya.


Gevin mengecup puncak kepala istrinya, dia tahu jika Zaina juga pastinya sangat ingin segera untuk membeli perlengkapan untuk bayi mereka. Apalagi ini adalah anak pertama bagi mereka, akan menjadi hal yang sangat bersejarah karena menjadi pengalaman pertama mereka nantinya.


"Semuanya biar di siapkan sama Ibu dan Bunda saja ya. Aku sudah bilang pada mereka, kamu kan harus banyak istirahat dan tidak boleh jika sampai kelelahan" ucap Gevin sambil mengelus kepala istrinya.


Zaina menghela nafas pelan, memang suaminya ini terlalu khawatir berlebih. "Tapi Mas, aku juga ingin ikut memilih pakaian untuk anak kita ini. Lagian aku tidak papa kok, kemarin juga Dokter tidak bilang apa-apa, hanya bilang Hemoglobin aku aja yang rendah"


Gevin hanya diam, kemarin Dokter memang tidak menjelaskan apapun pada Zaina. Hanya saja dia menghubungi Gevin saat sudah berada di Kantor dan memintanya untuk janji temu. Hingga tadi sore, Gevin menemuinya. Dia tahu jika pastinya akan ada kabar tidak baik untuk dirinya.

__ADS_1


"Jadi ada apa Dok? Kenapa anda memanggil saya datang kesini?" Tanya Gevin, hati dan pikirannya sudah tidak bisa tenang karena memikirkan tentang keadaan istrinya.


"Risiko yang akan dialami ibu dengan hemoglobin rendah saat persalinan adalah risiko pendarahan yang lebih banyak. Selain itu, ibu hamil juga akan rentan mengalami infeksi, termasuk pada luka bekas jahitan di jalan lahir atau caesar. Resiko bayi meninggal juga sangat rentan, belum lagi Ibu yang akan lemah dan anemia ketika pasca melahirkan"


Penjelasan Dokter itu benar-benar membuat dunia Gevin seakan runtuh. Kekhawatirannya yang semakin tinggi terhadap istrinya. Apalagi ketika sekarang kandungan sang istri yang sudah besar dan mendekati kelahiran.


"Tapi saya akan lebih berikan obat dan juga tolong pola makannya di jaga. Nanti saya tuliskan beberapa resep dan makanan yang bagus untuk menaikan hemoglobin yang rendah. Dan kita akan lihat lagi perkembangan kedepannya" jelas Dokter lagi, sengaja hanya memberikan penjelasan ini pada Gevin. Karena Dokter tidak mau mempengaruhi kondisi Zaina yang sedang hamil.


Gevin hanya bisa menurutinya, dia tidak mungkin bisa melakukan apapun. Sekarang yang harus dia lakukan adalah membuat Zaina tetap sehat dan juga menjaga pola makannya. Berharap akan ada perkembangan yang baik kedepannya, sebelum Zaina melahirkan.


"Mas.."


Gevin mengerjap kaget ketika dia mendengar suara istrinya. Terbawa cukup lama dalam lamunannya, membuat Gevin tidak sadar jika saat ini sedang bersama dengan istrinya.


"Sayang, sekarang kamu hanya perlu menurut padaku. Karena kamu harus lebih menjaga kesehatan kamu" ucap Gevin lembut


Zaina terdiam melihat suaminya dengan cemberut. Tapi Zaina juga tidak bisa membantah ucapan Gevin. Meski dia juga bingung kenapa Gevin begitu khawatir padanya. Padahal Zaina merasa baik-baik saja.


"Sudah jangan cemberut gitu, mau aku cium dan kita akan lakukan hal lain? Kau tahu kalau aku begitu menginginkan kamu setiap harinya" ucap Gevin dengan tatapan menggoda


Zaina memukul dada suaminya, kesal juga dengan ucapan suaminya. "Mas, kamu ini ih. Kenapa selalu mengingat tentang hal itu"


"Karena aku menyukainya"

__ADS_1


Dan Gevin benar-benar merubah posisinya, mengukung tubuh Zaina. Memulai semuanya dari sebuah kecupan di kening. Lalu berlanjut ke hal lain. Meski pikirannya sedang kacau, Gevin hanya mencoba untuk tidak membuat Zaina curiga dan malah jadi kepikiran.


Bersambung


__ADS_2