
"Mas cepat, kenapa lama sekali?" teriak Zaina dari dalam kamarnya, menunggu suaminya yang masih berada di dalam ruang ganti.
"Iya Sayang, ini sudah"
Gevin langsung menghampiri istrinya yang sudah terlihat sangat cantik. Gevin mengecup kening Zaina dengan lembut. "Sayang cantik sekali, jangan genit-genit sama pria lain ya nanti"
Zaina hanya memutar bola mata malas mendengar ucapan suaminya itu. Memang terlalu posesif sampai selalu saja mengira istrinya akan berpaling darinya. Padahal lihatlah perubahan Zaina setelah melahirkan dan menyusui. Berat badannya yang naik cukup melonjak dan tubuhnya yang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Zaina berpikir sudah tidak mungkin lagi ada yang suka padanya.
"Kamu gak lihat ya Mas, tubuh aku aja sekarang gendut banget kayak gini. Rasanya gak mungkin kalau sampai ada yang masih suka sama wanita yang udah punya anak seperti aku. Kamu jangan berlebihan deh"
Gevin duduk disamping istrinya, dia menoel gemas pipi anaknya yang terlihat gembil itu. "Karena memang Mama kamu ini sangat cantik ya, Nak. Papa jadi takut tersaingi oleh pria lain diluar sana"
Zaina hanya mendengus pelan mendengar ucapan suaminya itu. "Sudah ah, malah bahas tentang Mama. Ayo kita berangkat Mas, kamu gak mau sampai ketinggalan melihat adik kamu itu menikah dengan pria pilihannya itu 'kan"
Gevin mengangguk, dia langsung berdiri dari duduknya dan beralih menggendong Gazia dari gendongan istrinya. Sekarang mereka langsung berangkat menuju gedung untuk acara pernikahan Genara dan Edgar dilaksanakan.
Akhirnya setelah acara syukuran kelahiran bayi Zaina dan Gevin waktu itu, Edgar benar-benar datang pada orang tua Genara dan meminta Genara untuk dia jadikan istri dan Ibu dari anak-anaknya. Sebenarnya saat itu Genara sangat tidak percaya ketika melihat Edgar yang tiba-tiba datang ke rumahnya dengan begitu berani dia langsung bilang untuk meminta Genara pada orang tuanya untuk dia jadikan seorang istri.
Dan disinilah bagaimana Genara yang merasa hatinya cukup tersentuh. Melihat bagaimana kesungguhan Edgar untuk menikahinya. Melihat ketulusan pria itu akhirnya membuat Genara luluh dan akhirnya mencoba untuk membuka hati lagi setelah cukup lama hatinya dia tutup untuk cinta yang baru karena cinta pertamanya yang gagal.
Dan beberapa bulan setelah saling mengenal dan Genara semakin yakin dengan segala ketulusan dari Edgar padanya. Akhirnya hari ini adalah waktunya untuk mereka meresmikan hubungan mereka dengan ikatan pernikahan.
Pancaran kebahagiaan yang terlihat jelas dari wajah kedua mempelai yang saat ini sedang bersanding dipelaminan. Genara akhirnya bisa merasakan hal ini. Menikah dengan pria yang sangat dia cintai dan juga begitu mencintainya.
__ADS_1
Satu hari sebelum pernikahan ini, Genara sempat datang berkunjung ke Kantor polisi untuk melihat keadaan Aldo. Sudah tidak ada lagi dendam atau kebencian di hatinya pada Aldo yang sudah menghancurkan hidupnya saat itu.
"Genara?" tentu saja kedatangan wanita yang dia sakiti itu, membuat Aldo cukup terkejut.
Genara tersenyum pada Aldo. "Hai, bagaimana kabarmu?"
Aldo mengangguk pelan, merasa sangat malu ketika lagi-lagi dia harus berhadapan dengan Genara dengan penampilannya yang seperti ini. "Aku baik Gen, bagaimana denganmu"
Genara tersenyum, senyuman yang memancarkan begitu banyak kebahagiaan saat ini. "Aku juga baik Kak, oh ya besok aku akan menikah dengan pria pilihanku. Do'akan pernikahan kami lancar ya"
Tubuh Aldo membeku seketika saat dia mendengar ucapan Genara barusan. Tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum. Memang seharusnya dia senang dan bahagia saat wanita yang dia lukai hati dan perasaannya itu, kini sudah menemukan kebahagiaannya kembali.
"Aku ikut senang mendengarnya, Gen. Semoga pernikahan kamu lancar dan kamu bisa bahagia selalu dengan pernikahan kamu itu" ucap Aldo begitu tulus dari hatinya.
Aldo mengangguk sambil tersenyum tipis, meski dirinya juga tidak yakin akan bis amelakukan apa yang Genara ucapkan barusan. Tapi setidaknya dia memang sudah harus bisa memperbaiki dirinya mulai saat ini untuk bisa menjalani hidup yang lebih baik lagi setelah dia bebas dari masa hukumannya.
Dan setelah itu Genara merasa lebih lega sekarang, akhirnya dia bisa melepaskan cinta masa lalunya dengan ikhlas. Dan sekarang malah dia sudah mendapatkan cinta yang baru yang lebih besar dari cinta sebelumnya.
Terima kasih Tuhan, karena sudah mengirimkan sosok sempurna seperti suamiku ini.
Tuhan yang telah mengirimkan sosok Edgar untuk mengobata segala luka yang Genara alami saat masih bersama dengan Aldo. Dan sekarang akhirnya Genara bisa merasakan dicintai.
#######
__ADS_1
Acara pernikahan yang sudah selesai dan juga cukup melelahkan. Zaina menidurkan anaknya di dalam box bayi saat sudah selesai asi dan terlelap sekarang ini. Dia kembali naik ke atas tempat tidur, memeluk suaminya yang masih bermain dengan laptop di atas pangkuannya.
"Lagi lihat apa si Mas? Ayo tidur" ucap Zaina sambil melirik ke arah layar laptop yang menyala itu.
"Sebentar lagi Sayang, ini sedang mengecek satu email lagi" ucap Gevin.
Zaina hanya diam saja, dia tetap memeluk suaminya dengan lembut. Rasanya lelah sekali setelah acara pernikahan ini. Membuat dia langsung terlelap begitu saja dalam pelukan suaminya.
Gevin menutup laptopnya dan menyimpannya di atas nakas. Lalu dia melihat istrinya yang ternyata sudah terlelap didalam pelukannya. Gevin tersenyum melihat wajah istrinya yang terlelap itu. Selalu saja merasa gemas dengan wajah istrinya ini. Apalagi ketika melihat wajah istrinya yang saat ini semakin chubby.
"Entah apa yang akan aku lakukan saat dulu kamu tidak mau kembali padaku. Tapi sekarang aku sangat bersyukur karena akhirnya kita bisa melewati semua ini"
Gevin menidurkan kepala istrinya di atas bantal dengan perlahan. Lalu dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Gevin pun ikut merebahkan tubuhnya disamping istrinya. Memeluk tubuh istrinya dengan lembut.
"Aku mencintaimu Sayang, sehat selalu dan akan selalu bersama denganku"
Pernikahan yang awalnya hanya sebuah sandiwara, akhirnya sekarang dia bisa merasakan untuk kebahagiaan ini. Meski banyak sekali rintangan yang harus mereka hadapi, tapi pada akhirnya tetap bisa melihat istri dan anaknya bahagia.
Zaina berbalik dan memeluk suaminya dengan erat. Jadilah malam ini keduanya tidur dengan saling berpelukan. Sudah tidak ada lagi masalah yang mengganggu pikiran mereka. Meski mungkin kedepannya akan tetap ada cobaan dan rintangan lainnya. Tentu saja mereka hanya perlu menghadapinya dengan bersama-sama.
Sandiwara pernikahan telah berakhir.
...End...
__ADS_1