
Sayang, maaf ya aku gak bisa jemput kamu sore ini. Aku harus menemani Lolyta, dia mau kemoterapi, kasihan tidak ada yang menemani.
Zaina hanya menghela nafas melihat pesan dari suaminya itu. Untuk saat ini Zaina hanya bisa mencoba untuk mengerti. Karena memang begini resiko seorang wanita yang menjalani pernikahan dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya. Apalagi alasan tidak saling mencintai semakin membuat keduanya tidak bisa menjalani pernikahan yang selayaknya.
"Miss Zaina pulang dengan siapa?" tanya Ibu Cicin
"Pesan taksi online mungkin Bu, suami saya tidak bisa jemput sedang ada pekerjaan"
"Biar aku antar saja" uap Aldo tiba-tiba
Zaina menatap pada guru olahraga itu, dia tersenyum padanya. "Tidak usah Al, aku bisa pulang naik taksi saja"
Zaina mengutak-ngatik ponselnya untuk memesan taksi online. Namun masih belum mendapatkan, dia menghela nafas pelan. Padahal siang ini dia masih ada jadwal mengajar di sekolah yang satu lagi.
"Gak dapat taksi onlinenya? Sudah biar aku antar saja, kamu juga harus mengajar lagi di sekolah yang satunya lagi 'kan?"
Zaina menatap Aldo, lalu dia menghela nafas pelan karena tidak mempunyai pilihan lain lagii. "Yaudah, maaf ya ngerepotin Al. Tapi apa kamu memang sedang santai? Bukannya kamu masih harus ngajar?"
"Anak-anak masih istirahat, aku ngajar di jam ke dua"
Zaina mengangguk, dia menyelempangkan tasnya di bahu. Berpamitan pada guru yang ada disana, lalu keluar dari ruang guru itu bersama dengan Aldo.
"Kamu beneran gak papa Al? Sampe harus anterin aku segala, padahal aku juga bisa naik ojek kalau memang tidak mendapatkan taksi"
Aldo tersenyum, dia menyodorkan helm cadangan yang dibawanya pada Zaina. "Gak papa Za, kamu pakai dulu helmnya"
Zaina mengambil helm itu dan memakainya. Naik ke atas motor sport milik Aldo dengan sedikit kesusahan, dia berpegangan pada bahu Aldo untuk naik ke atas motornya.
__ADS_1
"Susah banget si Al naik motor kamu ini, mungkin karena akunya yang terlalu pendek ya. Haha" ucap Zaina sambil tertawa kecil
Aldo ikut terkekeh mendengar ucapan Zaina. Dia mulai men-stater motornya dan melajukannya meninggalkan kawasan sekolah. "Gak papa Za, biar kamu bisa merasakan naik motor gede ya gini"
Zaina hanya tertawa kecil, dia berpegangan pada bahu Aldo karena sangat takut jatuh. Jarang sekali Zaina naik motor, paling dia hanya naik motor bersama dengan adiknya. Zaina selalu di larang oleh Ayahnya untuk bisa belajar motor, alasaannya karena takut Zaina akan jatuh dan kenapa-napa.
Sampai di sekolah kedua tempat dia mengajar tambahan, disini hanya satu jam jadwal mengajarnya juga. Itu pun tidak setiap hari karena dia hanya memegang dua kelas saja.
"Makasih sudah antar aku ya, Al. Kamu hati-hati pulangnya" Zaina menyodorkan helm yang barusan di pakainya pada Aldo
"Iya Za sama-sama. Kamu yang semangat ngajarnya"
"Iya Al, kalau gitu aku masuk dulu ya"
Zaina masuk ke dalam sekolah ini, meski pikirannya masih tertuju pada suaminya yang tadi mengirimkan pesan padanya. Zaina benar-benar harus lebih lapang dada dan bersabar untuk semua ini. Zaina harus terus mencoba untuk mengerti posisi suaminya.
Zaina yang memilih untuk menjalani pernikahan ini. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja dengan pernikahan ini. Dia sudah memutuskan untuk tetap bertahan sampai kesabaran dia benar-benar sudah mengikis dan habis.
"Gevin, terima kasih karena kamu sudah membantu aku. Membayar tunggakan ke rumah sakit ini. Jujur, aku sudah tidak mempunyai tabungan lagi untuk terus berada disini dan menjalani pengobatan ini"
Gevin mengelus kepala Lolyta yang sudah plontos itu, Lolyta hanya menggunakan penutup kepala untuk menutupi kekurangannya itu.
"Tidak papa Ly, aku hanya ingin melihat kamu sembuh dan ceria lagi seperti sebelumnya"
Lolyta tersenyum, dia sangat bersyukur pernah bertemu dengan Gevin yang sangat baik dan tulus. Di saat dia hanya seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai siapapun di dunia ini, kini hadir Gevin yang begitu menerima kehadirannya dengan tulus.
"Yaudah, kamu baik-baik ya sekarang. Istirahat yang cukup, aku mau pulang dulu. Ada hal yang harus aku urus"
__ADS_1
Lolyta mengangguk, dia tidak mungkin melarang Gevin untuk pulang dan akan terus berada disini. Lolyta tidak bisa menahan Gevin. "Hati-hati di jalannya ya Vin, besok kamu kesini lagi?"
Gevin mengangguk, dia mengelus kepala Lolyta dengan lembut. "Iya, aku kesini lagi untuk melihat kondisi kamu. Aku juga mau bicara dengan Dokter yang menangani kamu itu"
Lolyta tersenyum, dia sangat beruntung bisa mempunyai Gevin sekarang. Lolyta tidak lagi sendiri untuk melewati semua masa sulit dalam hidupnya. Sekarang ada Gevin yang bahkan rela menemani dia menjalani kemoterapi.
Aku menyesal karena dulu malah meninggalkan dia. Karena ternyata hanya Gevin yang peduli denganku dan mau menerima keadaan aku yang seperti ini. Aku tidak akan lagi melepaskan Gevin dari genggamanku.
Gevin kembali ke Apartemen, dia tersenyum saat melihat istrinya yang sedang duduk di atas sofa yang berada di ruang tengah. Gevin menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang. Gevin mengecup pipi Zaina dengan lembut.
"Sayang lagi apa?"
Zaina tersenyum dengan kelakuan suaminya ini. Dia mengusap tangan Gevin yang melingkar di dadanya itu. "Sedang menunggu kamu untuk makan malam bersama. Aku sudah masak cumi asam manis"
"Wah, itu makanan kesukaan aku. Tahu darimana kamu tentang makanan favorit aku itu?" Gevin beralih duduk di samping Zaina
Zaina menoleh dan menatap suaminya dengan sebuah senyuman. Dia mengelus pipi Gevin dengan lembut. "Aku punya Ibu mertua yang baik banget, dia yang kasih tahu aku sekaligus dengan resepnya juga"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia meraih tangan Zaina yang berada di pipinya. Mencium telapak tangan istrinya itu dengan lembut. "Kamu memang sudah merebut perhatian Ibuku. Entah kenapa sejak ada kamu, aku merasa menjadi anak tiri Ibu. Dia selalu lebih dekat dan memperhatikan kamu"
Zaina terkekeh melihat wajah cemberut suaminya. "Karena aku bisa buat anaknya makan enak terus setiap hari, jadi Ibu sayang sekali padaku"
Gevin memeluk Zaina, mencium gemas pipi istrinya itu. Rasanya Gevin benar-benar sudah mulai menerima Zaina dalam hidupnya ini. Meski tidak bisa di pungkiri jika saat ini dia sedang sangat bingung, karena ada Lolyta yang juga harus dia jaga untuk saat ini.
"Yaudah, kamu mandi dulu saja. Aku siapkan dulu untuk makan malamnya"
Gevin mengangguk, dia membiarkan Zaina untuk menyiapkan makan malam. Dan dia berlalu ke kamar. "Aku akan mencoba tetap mempertahankan Zaina, sampai aku bisa membuat Lolyta untuk sembuh"
__ADS_1
Gevin hanya merasa mempunyai tanggung jawab yang berbeda pada keduanya. Zaina yang menjadi istrinya dan Lolyta yang sedang membutuhkan bantuan darinya saat ini. Gevin hanya membalas setiap waktu yang pernah di berikan Lolyta padanya selama ini. Sementara di saat dia membutuhkan seseorang untuk menyemangatinya, Gevin tidak ada di sampingnya. Jadi saat ini Gevin hanya ingin membantunya.
Bersambung