
Ketika malam hari Gevin pulang bersama dengan Papa Gara yang berniat untuk menjemput istrinya. Gevin tersenyum melihat istrinya yang tersenyum bahagia bersama dengan Ibu dan Bunda juga Genara.
Ketiga perempuan itu terlihat sangat senang karena mereka sedang membahas tentang kehamilan. Hanya Genara saja yang diam dan tidak terlalu menanggapi obrolan diantara mereka, karena memang dia yang masih sendiri di antara semuanya.
Kira-kira siapa jodohku ya? Genara malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Berpikir tentang siapa jodohnya di masa depan. Meski belum terlihat hilalnya. Karena sampai usia sekarang, Genara belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun.
"Yaudah, kita makan malam dulu yuk. Ngobrolnya di lanjut nanti saja" ucap Zaina
Dan malam ini suasana meja makan terasa lebih ramai karena kehadiran Ibu dan Bunda. Gevin menatap Ibunya dan Bunda yang terlihat sangat antusias mengobrolkan tentang kehamilan Zaina dan cucu pertama untuk mereka. Mereka semua belum tahu bagaimana keadaan Zaina saat ini.
Setelah makan malam selesai, Gevin langsung mengantar istrinya ke dalam kamar untuk istirahat. Meski Zaina menolak keras, namun Gevin tetap tidak menghiraukannya.
"Sayang, nurut ya. Aku mau ke ruang kerja sebentar, ada yang mau aku obrolin sama Papa" ucap Gevin
Akhirnya meski dengan wajah yang cemberut, Zaina tetap menurut. Meski dia benar-benar bingung kenapa suaminya itu bisa bersikap seperti ini. Padahal Zaina juga merasa jika keadaannya juga baik-baik saja. Tapi entah kenapa Gevin terlihat begitu khawatir padanya.
Gevin mencium kening istrinya, lalu dia segera berlalu keluar kamar. Gevin sudah meminta Papa Gara untuk mengajak Ibu dan Bunda ke ruang kerja. Karena memang dia ingin memberikan penjelasan tentang keadaan Zaina yang sebenarnya. Mau bagaimana pun mereka harus tahu. Sampai di ruang kerja, Gevin sudah melihat tatapan penasaran dari Ibunya dan juga mertuanya.
"Sebenarnya ada apa Vin? Kenapa kita di kumpulkan disini?" tanya Ibu dengan sangat penasaran.
Gevin duduk di depan mereka, menghela nafas berat. Dia juga bingung sekarang, ketakutan yang semakin besar dalam dirinya dengan keadaan istrinya saat ini. Jujur saja Gevin sangat tidak bisa menahan diri jika memang satu hal buruk terjadi pada istri dan anaknya.
__ADS_1
"Bunda, Ibu, aku juga tidak tahu apa mungkin semua ini adalah sebuah hukuman untuk aku atas semua yang aku lakukan pada Zaina. Tapi, kenapa harus Zaina yang mengalami semua ini. Kenapa tidak aku saja" ucapnya pelan
Vania dan Jenny semakin bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Gevin barusan. "Apa maksud kamu, Gevin?" tanya Vania
Gevin menatap Ayahnya, dan Papa Gara menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju jika Gevin memang harus menceritakan semuanya. Karena semakin banyak orang-orang di dekat Zaina yang tahu tentang keadaannya, maka akan semakin banyak juga yang memperhatikan dan menjaga Zaina.
"Keadaan Zaina tidak baik-baik saja, kehamilannya termasuk resiko yang tinggi. Banyak kemungkinan yang buruk akan terjadi padanya. Meski Dokter juga masih yakin jika Zaina akan bisa melewati semua ini. Namun beberapa hari ini, keadaan Zaina juga terlihat berbeda. Tubuhnya yang lemah dan juga wajahnya yang sering terlihat pucat. Aku juga bingung harus melakukan apa, Bu, Bunda" jelas Gevin dengan nada frustasi dari cara bicaranya.
Vania dan Jenny tentu sangat terkejut mendengar ucapan Gevin. Bahkan Jenny sudah meneteskan air matanya begitu saja. Membayangkan keadaan anaknya saat ini.
"Apa Zaina sudah mengetahui tentang keadaannya?" tanya Jenny
Gevin menggeleng pelan. "Dokter juga sengaja tidak memberi tahunya karena memang takut malah menamba beban pikiran Zaina dan nantinya malah membuat dia stres"
Dan semuanya hanya mengangguk mengerti. Saat ini mereka semua hanya perlu menjaga Zaina dengan baik dan tetap menjaga emosionalnya dan juga pikirannya.
Setelah memberi tahukan pada semuanya tentang keadaan Zaina. Jenny langsung menemui anaknya di dalam kamar, dan Gevin mengizinkannya karena pastinya Jenny juga ingin melihat keadaan putrinya itu. Dengan sekuat tenaga Jenny mencoba menahan air matanya agar tidak menetes lagi. Dia tetap harus terlihat baik-baik saja di depan Zaina.
"Loh Bunda, aku kira sudah tidur. Ada apa Bun?" tanya Zaina yang masih duduk menyandar di atas tempat tidur sambil membaca buku panduan Ibu dan anak di tangannya.
Jenny tersenyum, dia berjalan mendekati putrinya. Duduk di pinggir tempat tidur, sedikit mengelus kaki Zaina yang berselonjor.
__ADS_1
"Bunda masih belum ingin tidur, rasanya Bunda masih kangen sama kamu" ucap Jenny
Zaina hanya tersenyum, dia menutup buku dan menyimpannya di sampingnya. Lalu dia segera memeluk Jenny. Rasa nyaman dan hangat yang selalu Zaina rasakan ketika dia memeluk Bundanya ini. Meski bukan Ibu kandungnya, tapi Jenny memang menyayangi Zaina dengan tulus.
"Kakak juga kangen banget sama Bunda, rasanya memang aku ingin selalu menjadi gadis kecilnya Bunda yang selalu Bunda mandikan dan kepang rambutnya" ucap Zaina dengan terkekeh
Jenny tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala anaknya itu. Mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Putri kecil Bunda sekarang sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Pokoknya kamu jangan banyak pikrian apapun. Semuanya pasti akan baik-baik saja dan kamu juga akan bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak kamu nantinya"
Zaina tersenyum, dia melerai pelukannya. Menatap Jenny dengan tersenyum haru. Bersyukur sekali karena dia bisa mempunyai Ibu sambung seperti Jenny yang begitu baik dan tulus sepertinya.
"Makasih ya Bun, Kakak janji akan menjadi Ibu yang baik seperti Bunda" ucap Zaina
Jenny hanya tersenyum, dia kembali memeluk anaknya. Matanya sudah berkaca-kaca lagi. Merasa sedih dengan keadaan Zaina yang sebenarnya. Jenny sangat takut jika anaknya ini kenapa-napa.
Kamu akan baik-baik saja, Nak. Bunda dan Daddy akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan calon anak kamu.
########
Ketika pagi ini Zaina terbangun, dia merasa aneh dengan perutnya yang tidak merasakan tendangan seperti biasanya dari bayinya di dalam sana. Zaina duduk menyandar di atas tempat tidur. Mengelus perutnya dengan lembut. Perasaannya mulai tidak nyaman karena beberapa hari ini gerakan dari bayinya yang tidak terlalu aktif.
"Sayang.." Gevin yang menyadari istrinya sudah bangun, langsung ikut bangun dan menatap istrinya yang sedang duduk dengan tangan mengelus perutnya. "...Ada apa hmm? Apa ada yang sakit?"
__ADS_1
Zaina menggeleng pelan, dia tersenyum menenangkan pada suaminya. Tidak mau membuat suaminya ikut khawatir saat ini.
Bersambung