Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Bertemu?!


__ADS_3

"Aku juga ingin menghadiri pemakaman Lolyta, Bu. Masih gak nyangka kalau dia akan berhenti berjuang sampai saat ini"


Vania mengelus punggung menantunya, dia menatap Zaina yang masih begitu tulus menerima Lolyta setelah apa yang pernah terjadi dalam pernikahannya.


"Sayang, kapan kamu siap untuk bertemu dengan Gevin? Usia kandungan kamu ini sudah semakin besar, apa kamu tidak mau memberi tahu Gevin tentang ini?" tanya Vania dengan lembut


Zaina menggeleng pelan, tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Namun memang dia yang belum siap untuk bertemu lagi dengan suaminya.


"Untuk saat ini, aku belum siap bertemu dengannya Bu. Tolong mengerti aku ya, Bu"


Vania mengangguk, dia memeluk menantunya dengan hangat. "Tidak papa, Nak. Ibu mengerti"


Sore ini tiba-tiba Zaina menginginkan membuat salad buah. Namun tidak ada bahan di dalam lemari es untuk membuat salad buah yang dia inginkan itu. Jadi, Zaina memutuskan untuk pergi ke supermarket sekalian belanja keperluan yang dia perlukan selama di rumah itu.


Zaina memesan taksi online untuk pergi ke Supermarket di kotanya ini. Dia sudah membayangkan salad buah yang segar, sampai membuat dia menelan ludahnya sendiri.


Sampai di Supermarket, Zaina langsung mengambil kereta belanja dan membeli apa yang dia butuhkan. Memilih beberapa buah-buahan yang dia perlukan.


Sementara di dalam sebuah mobil, Gevin baru saja mendapat telepon dari adik perempuannya itu yang meminta dia untuk di belikan beberapa barang di Supermarket.


"Kamu 'kan bisa beli sendiri, Gen. Kenapa malah suruh Kakak segala"


"Aku lagi males keluar Kak, ayolah Kakak 'kan baik hati. Gak kasihan apa sama adiknya yang lagi datang bulan"


Hah..

__ADS_1


Gevin hanya menghembuskan nafas pelan, dia tidak bisa juga menolak permintaan adiknya itu. Gevin menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan itu. Lalu segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam Supermarket itu.


Gevin memilih beberapa barang yang sudah di tulis dalam sebuah pesan yang di kirimkan oleh adiknya setelah menelepon tadi. Gevin mengambil barang-barang sesuai yang di pesan oleh adiknya. Sampai ke tempat buah segar, tiba-tiba saja Gevin menginginkan buah segar. Dia mengambil beberapa buah-buahan disana.


Sebuah jeruk jatuh dan menggelinding mengenai ujung sepatu yang di pakainya, Gevin mengambil jeruk yang entah darimana asalnya. Lalu dia mendongak dan menatap wanita hamil yang menggunakan masker penutup wajah dan juga kacamata hitam itu.


"Ini punya anda, Nona" ucap Gevin sambil menyodorkan satu buah jeruk itu pada wanita itu. Gevin menatap lekat gelagat wanita di depannya yang terlihat aneh itu. 


"I-iya, terima kasih"


Zaina langsung pergi dari hadapan Gevin, sejak tadi dia terus menundukan wajahnya agar sedikit tertutup dengan rambutnya yang tergerai. Zaina masih terlalu shock karena tiba-tiba dia bertemu dengan Gevin. Pusat perbelanjaan banyak di kota ini, tapi kenapa Gevin harus datang ke tempat ini juga. Gumamnya dalam hati.


Gevin menatap heran pada wanita hamil itu, gelagatnya benar-benar aneh. Apalagi dia yang terus menundukan kepalanya seolah tidak mau bersitatap dengan Gevin.


Gevin mengangkat bahunya acuh, dia tidak terlalu memikirkan tentang wanita itu. Gevin melanjutkan membeli apa yang dia inginkan, dua buah jeruk, mangga dan pir. Aneh juga kenapa Gevin sampai membeli buah-buahan seperti ini. Padahal biasanya dia sangat sulit untuk memakan buah-buahan.


Memang Gevin yang tidak terlalu suka dengan buah-buahan dan sayuran sejak kecil. Tapi kali ini dia benar-benar merasa sangat menginginkannya.


#######


Zaina sampai di rumahnya, dia menaruh tas belanjaannya di atas meja makan. Membuka masker penutup wajah dan juga kacamata hitam yang dia gunakan. Masih beruntung karena dia memakai dua benda itu, jadi dia tidak dikenali oleh Gevin. Semoga saja.


Zaina duduk di kursi meja makan sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit. Tidak pernah menyangka dalam pikirannya, jika satu bulan setelah dia pergi dari Apartemen suaminya, ternyata dia malah di nyatakan hamil. Zaina marah? Tidak. Dia tidak marah atas kehamilannya ini. Zaina tetap seorang calon Ibu yang baru pertama kali merasakan hamil. Dan dia benar-benar menikmati setiap proses kehamilannya ini.


Namun sampai saat ini, dia masih belum mau untuk bertemu dengan suaminya. Karena memang Zaina yang belum bisa menyiapkan hatinya yang sudah terlanjur terluka dengan Gevin, dan sekarang harus bertemu lagi dengan pria itu. Hatinya masih belum siap untuk itu.

__ADS_1


"Sekarang ayo kita buat salad buahnya, Nak. Mama juga sudah tidak sabar untuk memakan salad buah segar ini, kamu juga pasti begitu ya" ucap Zaina pada bayi yang berada di dalam perutnya


Hari-harinya memang dia lewati seperti ini, membuat makanan yang dia inginkan dan selalu mengajak ngobrol anak dalam perutnya. Bayinya sudah mulai memberikan respon padanya, membuat Zaina senang dan selalu merasa hangat ketika dia meraskan gerakan dari bayi di dalam perutnya itu.


Zaina mulai mengupas, buah-buahan yang barusan dia beli. Ada buah mangga, jeruk dan pir yang dia beli hari ini. Dia akan membuat salad untuk makan malamnya nanti. Memang selera makannya sejak hamil cukup berkurang. Dia hanya makan apa yang benar-benar dia inginkan untuk saat itu. Jarang sekali makan, makanan yang berat. Makan nasi saja hanya satu kali sehari. Selebihnya hanya dia isi dengan buah-buahan atau mungkin biskuit saja.


Seandainya tadi Gevin mengenaliku, kira-kira apa yang akan terjadi ya. Bagaimana reaksinya ketika dia melihat aku yang sedang hamil saat ini.


Zaina mengelus perut buncitnya itu, dia menghela nafas pelan ketika dia terus menghindar dari suaminya. Namun, mau bagaimana pun dia belum bisa untuk bertemu dengan suaminya. Zaina masih takut jika dia akan kembali kecewa ketika bertemu dengan pria yang masih mengisi hatinya saat ini. Namun entah Gevin juga mencintainya atau mungkin masih menganggapnya sebagai saudara.


"Jangan takut Nak, ada Mama yang akan selalu menjaga kamu dan akan membuat kamu bahagia"


Kehamilannya ini membuat Zaina sedikit senang, karena dia tidak terlalu kesepian lagi. Ada nyawa lain di dalam perutnya yang bisa sekedar dia ajak mengobrol. Meski tahu jika calon bayinya itu tidak mengerti apapun. Tapi setidaknya dia bisa memberikan respon dengan gerakan di dalam perutnya.


#######


Genara masuk ke dalam kamar Kakak laki-lakinya, dia melihat Gevin yang sedang tidur terlentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Genara duduk di pinggir tempat tidur itu.


"Kak.."


"Hmm"


Genara menghela nafas pelan, dia baru kali ini melihat bagaimana Kakaknya yang terlihat sangat rapuh sejak kepergian Zaina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2