Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Apa Mencintai Kak Zaina Sekarang?!


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Genara melihat Gevin begitu rapuh, bahkan kerapuhan yang di alami oleh Gevin saat dia di tinggalkan oleh Lolyta un, tidak sampai seperti sekarang. Mungkin memang Gevin yang sudah banyak melakukan kesalahan dan dia yang tidak tahu jika selama ini istrinya itu sudah mencintainya.


Genara ikut merebahkan tubuhnya, kepalanya beradu dengan kepala Kakaknya. Meletakan ponselnya di atas dadanya. Kakinya masih menggantung ke atas lantai.


"Apa sekarang Kakak mencintai Kak Zaina?" tanya Genara


Gevin menghela nafas pelan, dia tahu jika keluarganya saja seolah masih ragu dengan seriusan perasaannya pada Zaina. Semuanya karena apa yang dia lakukan sejak masih bersama dengan Zaina.


"Bahkan aku mencintainya sebelum aku tahu jika dia memang mencintaiku sejak dulu. Perasaanku pada Lolyta sudah lama hilang, lebih tepatnya ketika aku menikah dengan Zaina dan mulai menjalani hari-hariku dengannya"


"Lalu kenapa Kakak harus menikahi Lolyta juga?" tanya Genara penasaran


"Karena Zaina yang memintanya, dia bilang kalau dia ingin aku juga menikahi Lolyta karena dia tahu rasanya menjadi Lolyta" jelas Gevin


Genara menghembuskan nafas kasar, sekarang dia tahu dimana kesalahan Kakaknya pada awalnya. "Semuanya karena memang Kakak yang tidak peka. Kakak tidak mengatakan cinta pada Kak Zaina?"


Gevin menggeleng, dia mengira jika Zaina juga akan mengerti dengan segala perlakuannya padanya.


"Ck. Kak Gevin, perempuan itu juga butuh sebuah pernyataan. Bukan hanya dengan perbuatan" ucap Genara kesal dengan kebodohan Kakaknya itu.


Gevin hanya menatap adiknya yang pergi begitu saja dari kamarnya. Dia masih memikirkan tentang ucapan adiknya barusan. Membutuhkan pernyataan? Mungkin memang benar jika Zaina juga membutuhkan sebuah pernyataan darinya.


Gevin bangun dan mencoba mencari cara untuk menyatakan cinta yang romantis dari internet. Dia harus memberikan yang terbaik jika nanti dia bertemu dengan Zaina lagi dan akan menyatakakn cintanya dengan sangat romantis. Tapi apa mungkin Zaina akan kembali lagi dan mau menerima cintanya? Semua itu akan dia pikirkan nanti.


Hampir semalaman Gevin men-scroll media sosialnya hanya untuk mengetahui caranya untuk menyatakan perasaan cint pada Zaina. Meski sebenarnya hatinya juga tidak begitu yakin jika nanti Zaina akan menerimanya. Sementara saat ini saja dia belum bertemu lagi dengan Zaina.

__ADS_1


Sementara di tempat yang berbeda Zaina sedang diam sambil mengelus perutnya. Dia sepertinya tidak mempunyai rasa kantuk untuk malam ini. Bahkan sudah mencoba untuk tidur, tapi tetap tidak bisa.


Akhirnya Zaina malah menonton acara televisi saja di ruang tengah sambil di temani dengan beberapa potongan buah segar di atas meja.


"Kalau nanti kamu sudah lahir, kamu pasti akan menemani Mama nonton seperti ini, Sayang. Jadinya Mama tidak kesepian seperti ini deh, Mama akan mengobrol dengan kamu nantinya"


Zaina tersenyum saja sambil mengelus perutnya. Tidak pernah menyesal karena dirinya yang telah melewati banyak hal yang sangat menyakitkan selama ini. Karena sekarang dia bisa memiliki buah hati dengan Gevin. Tidak peduli jika memang dia tidak bisa memiliki hati Gevin seutuhnya. Yang terpenting sekarang dia bisa mempunyai calon anak dari darah Gevin. Pria yang dia cintai dan jujur, masih menjadi pemilik hatinya sampai saat ini.


########


Pagi ini Gevin bangun terlambat, karena semalaman dia malah membuka sosial media dan terus men-scroll untuk mencari referensi untuk menyatakan cinta pada Zaina nantinya.


"Vin, kamu sudah bangun. Tumben mau menginap disini? Biasanya paling betah di Aparteman" ucap Vania yang sedang duduk di sofa dan melihat anaknya yang menuruni anak tangga


Vania menghela nafas pelan, bukannya dia tidak merasa kasihan pada anaknya itu. Namun dia tidak mungkin bisa memberi tahunya dimana keberadaan Zaina. Karena memang dirinya yang tidak bisa mengingkari janjinya pada Zaina jika dia akan merahasiakan tentang keberadaannya dari Gevin.


"Vin, kamu akan bertahan sampai kapan untuk menantikan Zaina kembali atau mengharapkan kamu bisa bertemu lagi dengannya?" tanya Vania


Gevin yang sedang duduk di kursi meja makan dengan menggigit sandwich yang memang sudah tersedia disana, langsung menoleh pada Ibunya yang duduk di sofa ruang tengah rumah ini. Jaraknya memang tidak terlalu jauh.


"Aku akan tetap menunggunya sampai kapanpun, Bu. Aku tidak mau kehilangan wanitaku lagi, Bu. Dia terlalu berharga untuk aku"


Venia mengangguk mengerti mendengar jawaban Gevin itu. Dia percaya dengan ucapan Gevin kali ini. Karena terdengar jelas penuh ketulusan.


"Kalau begitu, coba kamu cari di kota ini saja dulu. Jika kamu terus bolak-balik ke luar kota, dan malah tidak mendapatkan hasil apa-apa. Sekarang coba kamu untuk mencarinya di pelosok kota ini saja dulu. Siapa tahu kalau Zaina memang masih berada disini" ucap Vania

__ADS_1


Sebenarnya Vania ingin sekali langsung bilang dimana keberadaan Zaina saat ini. Tapi dia tidak akan bisa melakukannya karena sudah berjanji pada Zaina. Jadi, Vania mencoba memberi petunjuk pada anaknya, tapi tidak dengan terlalu kentara.


Gevin mengangguk, mungkin memang selama ini dia terlalu fokus mencari keberadaan Zaina di luar kota, tempat dimana keluraganya tinggal. Tapi selama itu juga Gevin benar-benar tidak menemui keberadaan Zaina. Membuat dia merasa yakin jika memang dirinya harus mencoba mencari keberadaan Zaina di kota ini.


#######


Zaina terdiam mendengarkan voicnote yang di kirimkan oleh adik iparnya. Sebenarnya sudah dari semalam pesan itu masuk ke ponselnya, namun karena Zaina yang tidak membuka ponselnya membuat dia tidak tahu kalau ada pesan masuk dari Genara. Zaina segera menekan pesan itu dan mulai mendengarkan percakapan di dalam voicnote itu.


Apa Kakak mencintai Kak Zaina sekarang?


Bahkan aku mencintainya sebelum aku tahu kalau dia mencintaiku. Bahkan perasaan aku pada Lolyta sudah mulai hilang sejak menikah dengan Zaina.


Mendengar suara Gevin di ponselnya itu membuat Zaina terdiam, rindu di hatinya semakin tidak tertahankan. Percakapan Gevin dan Genara yang mengalir saja tadi malam, ternyata memang sengaja Genara rekam dan ingin mengirimkannya pada Zaina.


Tess...


Air mata Zaina menetes begitu saja, benar-benar tidak bisa dia tahan dan kendalikan lagi. Zaina mengusap air mata itu dengan punggung tangannya. Suara Gevin yang mengucapkan jika dia mencintainya sebelum dia tahu kalau Zaina sudah mencintainya sejak lama, membuat Zaina terdiam dengan segala pikiran yang kacau.


"Berarti dia sudah membaca keseluruhan buku aku. Tapi apa benar jika dia juga mencintaiku?"


Sepertinya Zaina belum benar-benar yakin dengan apa yang dia dengar barusan. Mungkin memang karena Gevin yang tidak pernah sedikit saja mengucapkan kata cinta pada Zaina, membuat dia tidak begitu percaya dengan ucapan Gevin dalam voicnote barusan.


Susahnya hati ini untuk percaya, aku hanya takut kecewa lagi. Hati yang pernah terluka dan kecewa, membuat dia tidak bisa langsung mempercayai ucapan Gevin.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2