
Aldo yang terlihat biasa saja dengan kepergian Zaina dari taman itu, sementara Genara yang malah bingung dan salah tingkah saat dia harus duduk berdampingan bersama dengan Aldo saat ini.
Aduh, aku harus bicara apa ini? Aaa... Genara kenapa kamu jadi gugup kayak gini si. Genara yang kebingungan harus memulai topik pembicaraan seperti apa. Sesekali dia melirik Aldo yang hanya duduk diam dengan sebuah ponsel di tangannya. Genara ingin mengajaknya bicara, namun dia bingung harus bagaimana mengajak Aldo berbicara. Memulai topik darimana.
"Emm. Kakak ini ngajar di sekolah tempat Kak Zaina ngajar dulu ya?" Akhirnya aku menemukan topik pembicaraan ini.
Aldo mematikan layar ponselnya, lalu dia menoleh pada Genara. Menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaket yang dia pakai. "Iya, aku bekerja disana. Ya, masih menjadi guru honorer sebenarnya"
Genara mengangguk mengerti. Blank.. Dia bingung harus berbicara apa lagi saat ini. Malah merasa canggung dengan duduk berdua seperti ini dengan Aldo. Padahal biasanya ketika dia bersama dengan teman-temannya dan terkadang ada pria yang mendekatinya. Maka Genara akan bersikap biasa saja. Tapi sekarang ini dia malah merasa bingung harus memulai pembicaraan. Jantungnya benar-benar berdebar tak karuan.
"Kamu masih kuliah, atau sudah bekerja?" tanya Aldo, dia mencoba untuk mengobrol saja agar tidak jenuh.
Genara menoleh dan menatap Aldo, rasanya senang sekali ketika Aldo menanyakan tentangnya. Meski wajahnya yang terlihat biasa saja, tidak seperti Genara yang sudah gugup setengah mati.
"Kuliah Kak, semester akhir. Sebenarnya aku sudah ingin bekerja, tapi aku kerja apa ya biar gak di suruh Papa masuk perusahaan dia. Aku malas masuk perusahaan Papa" ucap Genara.
Aldo tersenyum tipis, merasa jika kehidupannya dan Genara berbeda jauh. "Harusnya kamu bersyukur karena tidak perlu susah cari kerja, karena aku juga dulu cari kerja itu susah sekali. Meski sudah lulus kuliah"
Obrolan mereka mengalir begitu saja.
########
Genara masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang bersemu merah. Senang sekali karena akhirnya dia bisa mengobrol dengan Aldo, meski hanya sebuah obrolan ringan seperti itu saja sudah membuatnya sangat bahagia.
__ADS_1
Aaa.. Dia itu benar-benar pria baik yang sangat ramah dan sopan. Dia juga begitu menghargai wanita. Genara menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan tangan yang terentang. Menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang tiada henti.
"Sepertinya aku benar-benar menyukainya"
Untuk pertama kalinya Genara merasakan hal seperti ini pada seorang pria. Jadi jelas jika dirinya ini memang sedang merasakan yang namanya jatuh cinta. Meski pertemuan mereka ini sangatlah singkat dan baru tiga kali bertemu, bahkan baru tadi Genara berkenalan dengan Aldo. Namun getaran di hatinya tidak bisa membohonginya jika dia memang sudah jatuh cinta pada Aldo.
"Tapi dia terlihat biasa saja, mungkin memang dia tidak mempunyai perasaan apapun padaku. Bagaimana ya, aku harus bagaimana agar bisa membuatnya juga merasakan perasaan yang sama denganku"
Genara menghela nafas pelan ketika dirinya bingung harus melakukan apa untuk membuat Aldo bisa merasakan apa yang dirinya rasakan saat ini.
Sudahlah Gen, ikuti saja alurnya dan nantinya juga kamu akan mendapatkan jawaban tersendiri atas perasaanmu itu. Genara mencoba untuk meyakinkan diri dan hatinya, jika dia pasti bisa menaklukan Aldo.
Di dalam kamar yang berbeda, Zaina sedang melakukan panggilan video dengan suaminya. Padahal sebentar lagi Gevin juga akan pulang, tapi tetap saja jika dia harus melakukan panggilan video ini karena alasan kangen. Dasar ya.
"Kamu mau berubah jadi mak comblang sekarang?" tanya Gevin sambil terkekeh pelan.
Zaina tertawa kecil mendengar ucapan suaminya itu. Benar juga ya, aku sudah seperti mak comblang saja. Gumamnya dalam hati. "Bukan begitu Mas, aku jelas melihat bagaimana tatapan Genara yang terlihat berbeda sama Aldo. Aku yakin kalau Genara mempunyai perasaan yang lebih pada Aldo"
"Memangnya kamu bisa membedakan tatapan orang itu? Kalau sampai kamu salah menduga bagaimana?" ucap Gevin.
Zaina menggeleng cepat, dia yakin jika dirinya tidak mungkin salah menduga. "Tidak mungkin Mas, aku jelas pernah mengalami cinta diam-diam seperti itu. Jadi aku tahu bagaimana orang yang menatap orang yang dia sukai, tapi tidak bisa mengungkapkannya"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia tahu bagaimana istrinya yang sejak dulu mencintainya, namun dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya itu pada Gevin.
__ADS_1
"Seperti kamu sama aku, dulu ya. Lagian kenapa si kamu tidak langsung mengungkapkan saja perasaan kamu itu padaku? Kalau begitu 'kan aku jadi tahu kalau kamu itu memang menyukaiku" ucap Gevin dengan sedikit menggoda pada istrinya itu.
Zaina langsung mencebik kesal dengan ucapan suaminya itu. "Ya kalau aku yang ungkapin duluan tidak pantaslah. Masa wanita yang ungkapin perasaan cinta duluan"
"Loh, memangnya kenapa? Perasaan itu memang harus di ungkapkan. Tidak peduli mau itu wanita duluan atau pria duluan. Daripada di pendam, bikin sakit"
Zaina hanya mencebik kesal, suaminya gampang bicara seperti itu karena memang dia tidak mengalami apa yang Zaina alami saat itu. Tentu saja dia yang berada di posisi bingung saat itu. Mau mengungkapkan, tapi dia malu dan memikirkan tentang pertemanan mereka. Apalagi saat Zaina tahu jika saat itu Gevin hanya menganggapnya sebagai saudara.
"Udah dulu ya, kamu juga sebentar lagi pulang. Aku mau tiduran dulu" ucap Zaina.
Gevin mengangguk, mereka pun memutuskan sambungan panggilan video itu. Gevin kembali bekerja dengan beberapa berkas yang harus dia cek saat ini. Dan Zaina yang merebahkan tubuhnya, efek obat yang baru saja dia minum membuat dia jadi mengantuk dan akhirnya terlelap juga.
#########
Setelah dua hari menginap di rumah orang tua Gevin, hari ini semuanya harus pulang ke rumah masing-masing. Zaina memeluk Budanya dan juga Ayahnya, karena hari ini mereka juga harus kembali ke kota mereka.
"Nanti kalau ada waktu senggang, Bunda akan datang lagi kesini buat jengukin Kakak" ucap Jenny sambil mengelus kepala anak perempuannya ini.
"Janji ya Bunda, kenapa gak Bunda menginap lagi saja disini dan biarkan Daddy dan adik-adik saja yang pulang" ucap Zaina, saat ini dia sedang menunjukan kemanjaannya pada Bundanya ini.
"Kamu ini Kak, sudah besar masih saja manja begitu sama Bunda" ucap Hildan dengan menggeleng heran dengan putrinya itu.
Gevin hanya terkekeh lucu melihat istrinya yang sedang ingin bermanja pada Bundanya itu. "Sudah Sayang, nanti kalau keadaan kamu sudah sembuh. Kita ke rumah Bunda untuk liburan deh"
__ADS_1
Bersambung