
Vania tahu jika Gara juga pasti akan merasakan rasa sakit yang sama. Hanya saja dia yang berusaha untuk menutupi semua itu. Apalagi ketika Gara melihat anaknya yang rapuh seperti ini. Pasti hatinya sangat sakit dan terluka melihat itu.
Gara menganggukan kepalanya, seolah berkata turuti saja dulu keinginannya untuk saat ini. Biarkan dia menenangkan dirinya dulu, untuk bisa bertemu lagi denga istrinya dengan keadaan yang lebih baik. Begitulah arti tatapan Gara pada istrinya.
"Yaudah, kalau memang kamu belum siap untuk bertemu dengan Zaina. Tidak papa. Kamu bisa menenangkan diri kamu sendiri dan menyiapkan diri kamu untuk bisa bertemu dengan istrimu nanti. Sepertinya Zaina juga perlu waktu untuk semua ini" ucap Vania.
Gevin hanya mengangguk saja, kembali dia melihat ke sekelilingnya. Bagaimana ruangan ini yang sudah di siapkan dengan desain sedemikian rupa hanya untuk menyambut kelahiran putrinya itu. Namun ternyata, semuanya harus hancur ketika Tuhan malah mengambil kembali apa telah dia titipkan pada Gevin dan Zaina.
Di dalam ruang rawat ini, Zaina hanya diam di atas ranjang pasien dengan menatap langit-langit ruangan. Tangannya berada di perutnya, seolah dia masih membayangkan bagaimana rasanya ketika dia masih mengandung. Tendangan dari anak dalam kandungannya waktu itu sudah tidak lagi terasa, karena memang sekarang anaknya sudah berada di surga.
Sekarang Mama mengerti Nak, kenapa kamu datang ke dalam mimpi Mama dan bilang kalau kamu akan menunggu Mama di tempat yang sangat indah.
Tempat itu adalah surga. Ya, sekarang Zaina mengerti kenapa dia tiba-tiba bermimpi seperti itu saat sebelum sadar. Karena mungkin anaknya hanya ingin membuat Zaina ikhlas atas kepergiannya dan yakin jika dia memang sudah berada di tempat yang indah di sana.
Beberapa kali Zaina melirik ke arah pintu, berharap suaminya muncul disana. Tapi ternyata tidak. Bahkan sejak dia sadar, dia tidak melihat Gevin sama sekali. Membuat Zaina berpikir kemana suaminya itu pergi dan kenapa sampai tidak mau menemuinya.
Pastinya dia sangat kecewa dengan semua ini. Mungkin dia marah dan tidak ingin bertemu dengan aku yang tidak bisa menjaga anaknya. Ya, aku cukup mengerti jika memang dia tidak mau menemuiku. Zaina dengan pemikirannya sendiri, bagaimana suaminya yang mungkin tidak bisa menerima kenyataan jika anak yang selama ini di damba-dambakan malah harus meninggal dunia.
Mengingat hal itu membuat Zaina kembali meneteskan air mata dari sudut matanya. Zaina benar-benar bingung sekarang. Bagaimana dia akan menghadapi suaminya dengan keadaan yang seperti ini.
__ADS_1
"Pastinya dia sangat kecewa padaku" lirihnya pelan.
Pintu ruangan yang terbuka membuat Zaina langsung menoleh. Berharap jika itu adalah suaminya. Namun ternyata Bundanya yang masuk. Tadi Jenny izin pergi ke Kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya. Jenny tidak boleh sampai mengabaikan makan dan membuat dirinya sakit dalam situasi yang seperti ini.
"Nak, kamu belum tidur? Istirahatlah, biar cepat pulih dan bisa segera pulang ke rumah nanti" ucap Jenny sambil menghampiri anaknya di atas ranjang pasien.
Zaina tersenyum lirih, dia menatap Bundanya dengan tatapan yang sendu. Tentu kesedihan yang sangat dia rasakan saat ini, meski Zaina sedang mencoba untuk ikhlas. Mengingat mimpi yang dia alami sebelum dia sadar. Membuat Zaina berusaha untuk tetap ikhlas dengan semua ini.
"Bunda, apa Kakak memang belum menjadi Ibu yang baik ya? Sampai anak Kakak saja tidak mau bertahan lebih lama dan Kakak rawat" ucap Zaina dengan suara yang bergetar.
Jenny mengelus kepala anaknya, mengecup keningnya dengan lembut. "Sayang, bukan seperti itu. Kamu adalah sosok Ibu yang baik, jangan membuat diri kamu tersiksa dengan menyesali apa yang tidak sepantasnya kamu sesali. Karena semua ini bukan kesalahanmu. Ingat Kak, tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan, semuanya sudah di tentukan olehnya"
Jenny mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Menangislah, jika memang itu akan membuat kamu sedikit tenang, Nak"
#######
Gevin hanya berani menemui Zaina di saat istrinya itu sedang terlelap. Beberapa hari ini dia benar-benar hanya menemui istrinya ketika dia sedang terlelap. Sebenarnya Jenny juga tahu, bagaimana Gevin yang sedang benar-benar terluka dengan semua ini. Gevin yang sangat terpuku.
Malam ini adalah malah ketiga Gevin menemui Zaina di saat dia sudah terlelap. Gevin menatap wajah istrinya yang sedang terlelap itu. Mengelus kepalanya dengan lembut, matanya selalu berkaca-kaca dengan semua ini. Perlahan dia mencium kening istrinya dengan lembut. Air matanya menetes begitu saja di kening Zaina.
__ADS_1
Maafkan aku karena tidak bisa menjadi suami yang baik. Tidak bisa menjaga kamu dan anak kita dengan baik.
Jenny yang malam ini kembali menjaga Zaina. Dia menghampiri Gevin, menepuk bahunya dengan pelan. "Cukup menyalahkan diri kamu sendiri atas semua ini. Zaina juga membutuhkan kamu, seharusnya kamu ada untuk tetap membuat dia kuat"
Gevin mengusap sisa air matanya, dia menatap Jenny dengan helaan nafas pelan. "Aku masi belum bisa Bunda, ku masih perlu waktu yang tepat agar bisa berbicara dengan Zaina. Aku tahu jika istriku itu pasti akan sangat kecewa padaku"
Jenny menghela nafas pelan, mungkin memang Gevin yang sedang benar-benar rapuh. "Yaudah, tapi jangan terlalu lama kamu seperti ini. Karena Zaina juga pasti akan memikirkan kamu dan dia juga butuh dukungan dari kamu juga"
Jenny kembali ke arah sofa dan membiarkan Gevin untuk lebih puas menatap wajah Zaina. Gevin duduk di kursi samping ranjang pasien, dia terus mengelus kepala istrinya dengan lembut. Jujur hati Gevin tidak siap melihat kekecewaan Zaina ketika dia bertemu dengannya.
Semuanya memang kesalahanku, karena aku tidak yang tidak bisa menjaga istriku saat dia sedang mengandung anakku.
Sekarang Gevin malah semakin bingung dan tidak tahu dia harus melakukan apa. Dia menatap keadaan Zaina saja, sudah membuat rasa bersalah itu semakin besar dalam dirinya. Gevin yang berada di posisi seorang suami, dimana dia merasa tidak bisa menjaga istri dan calon anaknya. Gevin sedang benar-benar rapuh sekarang.
Setiap malam Gevin selalu menghabiskan waktunya di ruang rawat Zaina. Tidur dengan posisi duduk di samping ranjang pasien yang di tempati oleh Zaina. Dengan kepala yang bersandar di pinggir ranjang pasien itu.
Sementara hari yang menjelang pagi, maka Gevin akan langsung pulang. Tentunya sebelum Zaina terbangun. Membuat istrinya itu tidak tahu jika dirinya datang ke rumah sakit setiap malam. Karena entah kenapa Gevin belum bisa untuk berbicara dengan Zaina untuk saat ini.
Bersambung
__ADS_1