
Pagi ini Zaina membangunkan suaminya, ini masih pagi buta. Karena di luar pun masih terlihat gelap. Namun Zaina terbangun saat merasakan sakit di perutnya.
"Mas, bangun"
Zaina menepuk pipi suaminya untuk membangunkannya. Gevin mulai menggeliat pelan, dia mengucek matanya yang masih terasa perih dan mengantuk itu. Menatap istrinya yang masih terbaring di sampingnya, namun matnya sudah terbuka.
"Sayang, ini masih pagi sekali. Kenapa sudah bangun? Tidur lagi saja"ucap Gevin sambil mengelus pipi Zaina dengan lembut. Lalu dia menyadari ekspresi wajah istrinya yang seperti sedang kesakitan itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gevin, mulai panik dan khawatir.
"Mas, perut aku sakit. Ssshh.." Kembali Zaina merintih kesakitan, membuat Gevin panik dan terkejut. Dia langsung bangun dan menyingkapkan selimut.
Tubuh Gevin langsung membeku seketika saat dia menyingkap selimut dan melihat banyak darah di sekitar kaki istrinya. Bahkan sprei di tempat tidurnya juga penuh. Zaina yang melihat ekspresi Gevin langsung ikut bangun, dan dia tertegun dengan apa yang dia lihat saat ini. Sungguh Zaina tidak merasakan keluar darah ini hingga sebanyak ini.
"Mas, bayi kita akan baik-baik saja 'kan?" tanya Zaina dengan air mata yang sudah menetes, dia takut sekali jika bayinya akan kenapa-napa.
Gevin tidak menjawab apapun, dia langsung menggedong tubuh Zaina dan membawanya keluar kamar. Berteriak pada seisi rumah sampai smeuanya langsung bangun mendengar kegaduhan yang di buat oleh Gevin. Beruntung karena semalam keluarga mereka menginap di rumahnya ini.
Hildan langsung sigap, dia langsung menyiapkan mobil untuk membawa Zaina ke rumah sakit. Ibu juga segera membawa tas besar yang sudah di siapkan Zaina jauh-jauh hari bersamanya di kamar bayi mereka.
Semoga Zaina baik-baik saja ya.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Zaina langsung di bawa ke ruang pemeriksaan dan segera di beri tindakan. Hingga akhirnya dia langsung di bawa ke ruang operasi karena memang dirinya harus melahirkan sekarang, meski usia kandungannya masih belum genap 8 bulan.
Suasana ruang operasi yang benar-benar terasa sangat tegang sekarang. Gevin yang berada di ruangan sudah sangat kacau dan bahkan tidak bisa untuk berpikir dengan tenang. Bahkan sekarang dia sudah berkeringat dingin melihat istrinya yang terus kesakitan dengan pedarahan yang hebat. Gevin bingung harus melakukan apa. Dia hanya mengelus kepala Zaina dengan memberikan kecupan beberapa kali.
"Sayang tenang ya, anak kita akan baik-baik saja" bisik Gevin di telinga istrnya.
Zaina tidak menjawab apapun, dia hanya diam dengan wajah yang kesakitan. Matanya yang mulai kabur, dan kepalanya yang terasa pusing. Zaina mulai kehilangan kesadarannya, membuat Gevin semakin panik melihat itu.
"Sayang bangun, jangan buat aku takut. Sayang.." teriak Gevin panik, dia langsung berteriak pada Dokter untuk segera mengambil tindakan pada istrinya.
Seorang Dokter yang langsung membuka baju Zaina, mengecek detak jantungnya. Membenarka posisi selang oksigen di hidungnya. Gevin sudah semakin panik, ketika bayinya berhasil lahir namun tidak mengeluarkan suara tangisan.
Ya Tuhan, selamatkan anak dan istriku ini. Dalam hatinya tidak henti-henti untuk membaca do'a. Apalagi ketika wajah Dokter yang terlihat sudah pasrah dan tidak lagi mempunyai harapan apapun, membuat tubuh Gevin langsung lemas seketika.
Dpkter menghela nafs pelan, seolah hal buruk yang akan dia sampaikan kali ini. Memang tidak ada sebuah hal yang tidak mungkin bisa Dokter pertahankan, meski dia sudah berusaha dan sudah melakukan segala hal cara. Karena semuanya juga tetap pada takdir Tuhan.
"Maaf Tuan, anak anda sudah tidak bernyawa sejak istri anda di bawa ke rumah sakit. Saya sudah tidak bisa menemukan detak jantungnya" ucap Dokter
Tubuh Gevin benar-benarterasa lemas, dan sekarang dia benar-benar merasa dirinya akan benar-benar hancur. Sekarang dia gagal menjadi seorang Ayah, karena ternyata anak pertamanya ini malah tidak tertolong.
Kenapa Nak, kenapa harus meninggalkan Papa dan Mama secepat ini.
__ADS_1
"Anak anda adalah seorang putri, anda yang sabar ya Tuan. Semuanya sudah takdir Tuhan, saya juga tidak bisa melakukan apapun. Sekarang anda harus lebih kuat karena hal ini pasti akan menjadi pukulan terbesar dalam hidup istri anda" ucap Dokter lagi.
Gevin mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Tubuhnya yang benar-benar terasa lemas sekarang ini. Bahkan Gevin tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis saat ini. Istrinya sudah selesai di tangani oleh Dokter satunya lagi. Karena memang ada dua Dokter yang berada di ruang operasi ini.
Gevin berjalan ke arah istrinya mengelus kepala Zaina dengan lembut.Memberikan kecupan di keningnya seiring dengan air mata yang menetes mengenai kening istrinya itu. Sekarang Gevin harus kuat demi istrinya. Karena Zaina akan semakin hancur.
"Kamu harus kuat Sayang, karena hanya kamu yang aku punya sekarang sebagai penguat dalam hidup aku. Kamu harus tetap kuat" bisik Gevin dengan isak tangisnya yang terdengar begitu menyakitkan. Bahkan perawat dan Dokter yang berada di dalam ruangan itu juga ikut merasakan sedih yang Gevin rasakan saat ini.
"Istri anda akan kamu pindahkan ke ruang rawat Pak. Dia sepertinya terkena anemia pasca melahirkan. Jadi kepalanya pusing hingga pingsan saat sedang menjalani operasi" ucap Dokter.
Gevin hanya mengangguk, dia mengikuti brankar pasien yang di dorong keluar oleh perawat dengan langkah kaki yang gontai. Diluar sana sudah ada keluarganya yang menunggu. Papa Gara langsung menghampir Gevin ketika melihat anaknya keluar dari ruang operasi itu.
"Vin.."
Gevin mendongak dan menatap Ayahnya dengan tatapan yang sendu. Tanpa berkata-kata apapun lagi, Gevin langsung memeluk Ayahnya itu. Merasa sangat tidak mungkin jika dia bisa bertahan dengan keadaan seperti ini jika tidak ada keluarga yang mendampinginya.
"Pa, aku gagal menjadi Ayah. Anak aku.. Hiks" Bahkan Gevin tidak mampu melanjutkan ucapannya itu. Karena dirinya yang benar-benar hancur. Bahkan lidahnya yang terasa kelu untuk bercerita semuanya yang telah terjadi di ruang operasi itu.
"Sabar Nak, semuanya akan baik-baik saja. Mungkin Tuhan memang belum memberikan kamu kesempatan unutk menjadi seorang Ayah" ucap Papa Gara sambil mengelus punggung anaknya yang sedang dalam keadaan yang begitu rapuh.
Ibu, Bunda dan Genara bahkan sudah menangis dengan begitu menyedihkan. Tidak pernah menyangka jika bayi yang mereka sangat harapkan kelahirannya itu malah harus meninggal.
__ADS_1
Hildan duduk dengan mengusap wajah kasar. Bahkan dia tidak tahu harus melakukan apa, hatinya benar-benar sedih dan hancur. Membayangkan bagaimana anaknya yang akan mengetahui tentang hal ini. Zaina pasti akan hancur sekali.
Namun apa yang bisa mereka lakukan saat ini, karena mungkin semuanya juga sudah menjadi takdir Tuhan.