
Masih di posisi yang sama, Gevin yang memeluk Zaina dengan lembut. Dia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini.
"Karena aku sadar, jika kehilangan kamu itu lebih menakutkan dari kematian itu sendiri. Seolah aku tidak akan bisa lagi menjalani hidup yang sama jika kamu pergi meninggalkan aku" ucap Gevin dengan tatapan menerawang. Mengingat bagaimana kebodohan dia di masa lalu yang benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Zaina tersneyum mendengar itu, dia semakin mengeratkan pelukannya. Memejamkan matanya dalam pelukan Gevin yang selalu menjadi rasa nyaman baginya. Hingga tanpa sadar, dirinya terlelap begitu saja.
"Tidur juga akhirnya" Gevin tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap dalam pelukannya.
Perlahan Gevin menidurkan Zaina ke atas bantal. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Senang juga melihat istrinya yang baik-baik saja dan sudah mulai kembali ceria. Meski Gevin tahu jika hatinya masih sangat sedih dan terluka atas kepergian anak mereka.
"Aku mencintainya, tolong tetap jaga dia Ya Tuhan. Semoga dia akan baik-baik saja selamanya" lirih Gevin sambil memberikan kecupan di kening istrinya. Lalu dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Zaina, memeluk istrinya itu dengan lembut.
Malam ini keduanya tidur dengan saling berpelukan nyaman. Gevin bersyukur karena akhirnya dirinya dan istrinya ini bisa melewati kesedihan itu. Meski mungkin tidak akan semudah itu untuk dirinya bisa melupakan anaknya. Namun setidaknya, Gevin lega karena mereka sudah bisa lebih ikhlas lagi atas apa yang sedang terjadi saat ini.
Hingga pagi ini Zaina terbangun lebih dulu, dia melihat suaminya yang masih terlelap sambil memeluknya. Zaina tersenyum melihat wajah teduh suaminya yang sedang terlelap. Tangannya itu mengelus pipi Gevin dengan lembut, lalu memberikan kecupan di pipinya.
"Semoga selalu sehat dan baik-baik saja ya Sayang"
Zaina bangun dan turun dari atas tempat tidur, dia segera pergi ke kamar mandi. Sementara Gevin langsung membuka kedua matanya ketika menyadari Zaina sudah turun dari atas tempat tidur. Tersenyum ketika dia mendengar apa yang diucapkan istrinya itu. Senang sekali sampai Gevin tidak bisa menahan senyum bahagianya.
Mungkin memang benar dnegan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Jika cobaan yang diberikan pada mereka berdua dengan kehilangan bayi pertama mereka. Mungkin memang Tuhan sedang memberikan waktu mereka untuk bisa lebih lama lagi hidup berdua dan semakin harmonis.
Gevin bangun terduduk di atas tempat tidur, mengecek ponselnya. Pagi ini dia tetap harus berangkat ke Kantor. Apalagi sedang cukup banyak pekerjaan juga.
"Aku bahagia bersama dengan Zaina sekarang, semoga kamu juga tetap bahagia disana ya, Ly"
__ADS_1
Sebuah foto yang masih Gevin simpan saat ini. Sebuah kenangan yang mungkin tidak akan mudah untuk dilupakan begitu saja. Waktu 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk melupakan semua kenangan yang ada. Tapi sekarang ini, hatinya tetap hanya untuk Zaina seorang.
########
Dering ponsel yang begitu mengganggu tidurnya membuat Zaina terpaksa terbangun. Dia menghela nafas pelan ketika dering ponsel itu ternyata adalah milik suaminya.
"Mas ponsel kamu bunyi" terik Zaina pada Gevin yang sepertinya masih bersiap di ruang ganti.
"Kamu lihat saja siapa yang menelepon" jawab Gevin dengan suara keras dari ruang ganti.
Zaina bangun dan terduduk di atas tempat tidur. Lalu dia mengambil ponsel suaminya dan menatap siapa yang menghubunginya. Namun belum sempat Zaina mengangkat telepon itu sudah mati lebih dulu. Membuat Zaina tidak sempat mengangkatnya.
"Mungkin dari rekan kerja kali ya"
Zaina memulai membuka dari sisi pesan, tidak ada yang menarik disana. Semuanya hanya pesan dengan bisnis dan juga beberapa temannya. Zaina mengembalikan aplikasi itu, lalu dia membuka galeri foto. Semuanya hanya foto Gevin saat masih sekolah bersama dengan beberapa temannya dan ada juga foto dia saat medapatkan penghargaan.
"Dia memang sudah tampan sejak lahir ya, pantas saja aku sangat menyukainya sejak dulu"
Zaina terkekeh sendiri dengan ucapannya itu. Bagaimana sejak dulu perasaannya pada Gevin tidak bisa berubah, meski ada beberapa orang yang mencoba mendekatinya. Zaina manatap sebuah album di galeri foto ponsel Gevin itu, album itu bernama kenangan. Zaina jadi penasaran.
Dia membuka album foto itu, dan sepertinya dia sangat menyesal sudah membuka album itu. Semua foto yang ada disana adalah kebersamaan Gevin dan Lolyta di masa sekolah hingga yang terakhir saat Lolyta sedang sakit parah.Terlihat dari kepalanya yang memakai penutup kepala dan ruangannya yang sepertinya adalah rumah sakit.
Ternyata dia masih menyimpan foto Lolyta ya. Mungkin memang kenangan di antara keduanya tidak akan hilang dalam waktu sekejap mata. Ayolah Zaina, kenapa harus merasa sedih.
Zaina mencoba untuk menguatkan hatinya agar tidak sedih dan berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya. Tapi, menyimpan semua kenangan dan foto mantan juga bukan hal yang baik untuk sebuah pernikahan. Namun apa yang bisa Zaina lakukan karena dia tahu sendiri jika mantan terindah Gevin itu adalah Lolyta yang sudah meninggal dunia. Jadi seharusnya Zaina tidak perlu khawatir apapun.
__ADS_1
"Sayang, kamu sedang apa?"
Zaina terdiam mendengar suara suaminya, dia segera mematikan layar ponsel Gevin. Lalu menoleh pada suaminya dan tersenyum. "Tidak sedang apa-apa, barusan ada telepon masuk ke ponsel kamu. Tapi tidak sempat aku angkat karena keburu mati duluan"
Gevin mengangguk mengerti, dia berdiri di depan meja rias. Membenarkan dasinya dan mengecek kembali penampilannya. Zaina langsung tersenyum melihat wajah suaminya yang selalu terlihat tampan dari segala sisi arah.
"Mas, kamu tampan sekali ya. Bagaimana jika di luar sana akan banyaknya para wanita yang mendekatimu. Pastinya banyak ya" ucap Zaina dengan mendengus kesal mengingat hal itu.
Gevin terkekeh melihat kelakuan istrinya itu. Dia menghampiri Zaina, duduk di pinggir tempat tidur. "Memangnya kamu takut kalau aku berpaling pada wanita lain?"
Zaina mengangguk, tidak ada wanita yang tidak takut jika suaminya bisa saja berpaling ke lain hati.
Gevin mengelus kaki Zaina yang berslonjor di sampingnya dengan terbalut selimut tebal itu. "Dengar ya Sayang, aku mencari wanita lain dan hati lain. Belum tentu aku akan mendapatkan yang seperti kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak akan pernah bisa berpaling dari kamu"
Zaina tersenyum mendengar itu, setidaknya dia bisa meningkatkan kepercayaannya pada suaminya. Jangan sampai karena rasa curiga dan cemburu membuat Zaina malah salah berprasangka pada suaminya itu.
"Terima kasih ya Mas, karena sudah memilih aku untuk menjadi pendamping hidupmu" ucap Zaina sambil tersenyum.
Gevin tersenyum mendengar itu, karena memang dirinya juga sangat bahagia bisa kembali bersama dengan Zaina. Karena Gevin sadar jika Zaina yang terbaik untuknya.
"Yaudah, aku pergi bekerja dulu ya. Kalu mau sarapan suruh Mbak antar saja ke dalam kamar, kalau memang kamu malas keluar kamar" ucap Gevin sambil mmeberikan kecupan di kening istrinya.
"Iya Mas, hati-hati ya"
Bersambung
__ADS_1