
Mungkin perjuangannya untuk mencariku hanya tadi malam saja. Ketika dia memang tidak menemukanku, maka dia langsung berhenti untuk mencariku. Apasi yang kamu harapkan Za, jelas dia tidak mencintaimu. Hanya Lolyta yang menjadi prioritas pertama baginya.
"Kak, kalau memang mau menangis jangan di tahan. Aku tahu kok bagaimana perasaan Kakak. Ya, memang aku tidak ada dalam posisi Kakak, tapi aku juga perempuan dan aku bisa merasakan apa yang Kakak rasakan" ucap Genara, sengaja dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai
Zaina menatap Genara, cairan bening sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Akhirnya Zaina tidak bisa menahan tangisannya lagi, dia menangis dengan sejadi-jadinya. Menumpahkan segala sesak yang dia tahan selama ini di dadanya.
Genara melepas sabuk pengaman di tubuhnya, dia memeluk Zaina. Membiarkan Kakak Iparnya itu menangis di dalam pelukannya.
"Menangislah Kak, jangan menahannya"
Zaina benar-benar hancur saat ini, bahkan dia yang biasanya selalu bisa menutupi semua kesedihan yang dia rasakan dari orang lan, tapi kali ini dia benar-benar tidak mempunyai kekuatan untuk itu lagi. Zaina benar-benar rapuh dan tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Aku lelah Gen, aku ingin menyerah saja saat ini. Semuanya terlalu menyakitkan untuk aku.. Hiks"
Genara mengelus pungung Zaina yang bergetar hebat. Dia tidak bisa menyalahkan Zaina jika sekarang dia menyerah. Karena memang dia yang sudah lelah dengan semua ini. Zaina yang selalu membuat dirinya terlihat tegar dan baik-baik saja di depan semua orang, sementara kenyataannya dia sangat hancur dan rapuh.
"Tidak papa Kak, selama ini Kakak sudah terlalu kuat menghadapi Kak Gevin. Jadi sekarang memang sudah saatnya Kakak menyerah dan buatlah diri Kakak sendiri untuk bahagia" ucap Genara
Setelah tangisannya merada, Zaina melerai pelukannya dan menghapus sisa air mata di pipinya. Saat ini Genara juga harus banyak mneghibur Kakak Iparnya yang sudah banyak terluka oleh Kakaknya.
Genara dan Zaina langsung kembali ke rumah saat Zaina sudah lebih tenang. Terkadang Genara sangat ingin memukul wajah tampan Kakak laki-lakinya itu. Bagaimana dia yang telah menyakiti wanita sebaik Zaina dan malah memilih mantan kekasihnya yang jelas dulu pernah menghacurkan hidupnya karena pergi meninggalkan dia begitu saja.
Zaina masuk ke dalam kamar di rumah mertuanya itu. Duduk di atas sofa dengan helaan nafas panjang. Bukan tentang dirinya yang takut untuk pergi meninggalkan Gevin, namun yang dia takutkan hanya tentang reaksi orang tuanya jika dia sampai pergi menemuinya dengan keadaan yang seperti ini.
"Sekarang, hanya ini yang bisa aku lakukan. Semuanya sudah jelas dan tidak mungkin aku tetap bertahan dengan suami yang tidak bisa mencintaiku. Karena masih ada cinta di masa lalu yang belum hilang"
__ADS_1
Zaina berjalan ke arah tempat tidur, dia mulai membereskan pakaiannya ke dalam koper dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. Dia sudah memutuskan untuk segera meninggalkan semua kenangan yang ada di kota ini.
########
"Pasien sudah berada di dalam keadaan yang cukup stabil. Namun sepertinya dia tidak bisa jika harus keluar dari rumah sakit lagi" jelas Dokter
Gevin hanya terdiam dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Tadi pagi dia yang di telepon dengan perawat Lolyta dan mengatakan Lolyta yang sudah tidak sadarkan diri. Membuat Gevin langsung datang ke rumah yang di tempati oleh Lolyta dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Tolong berikan saja yang terbaik untuknya, Dok" ucap Gevin
Dia mulai lelah, sekarang dirinya yang sedang banyak pikiran karena istri pertamanya yang pergi entah kemana sekarang. Namun sekarang dia juga tidak mungkin mengabaikan Lolyta, karena mau bagaimana pun dia masih menjadi istrinya.
Setelah memastikan Lolyta sudah dalam keadaan yang stabil dan juga sudah berada dalam pengawasan Dokter. Membuat Gevin bisa lebih tenang untuk pergi meninggalkannya. Gevin harus datang ke sekolah tempat Zaina mengajar. Gevin menebak jika Zaina pasti masih bekerja disana. Meski sudah siang hampir sore, namun di sekolah itu masih ada beberapa guru disana.
Gevin langsung menanyakan tentang Zaina pada salah satu guru disana. Namun jawaban mereka malah semakin membuat tubuh Gevin lemas.
Jawaban dari guru itu membuat Gevin merasa tidak kuat lagi untuk menopag tubuhnya. Dia berjalan gontai untuk kembali ke mobilnya. Gevin menjatuhka kepalanya ke atas kemudi. Cairan bening menetes begitu saja, mengenai kemudinya. Gevin tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Istrinya telah benar-benar pergi dari hidupnya.
Zaina telah menyerah hingga dia sudah tidak bisa bertahan lagi bersama dengan Gevin. Zaina yang sudah tidak mempunyai kesabaran dengan semua sikap Gevin yang tidak pernah bertindak tegas dengan apa yang sedang di hadapi.
"Sayang, kamu dimana sebenarnya? Kenapa harus meninggalkan aku seperti ini"
Gevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Zaina yang pergi telah berhasil membuatnya kacau dan benar-benar hancur.
"Maafkan aku, tolong jangan seperti ini"
__ADS_1
Bahkan Gevin mencoba untuk menghubungi ponsel istrinya, namun benar-benar tidak bisa dia hubungi. Sepertinya Zaina sengaja mematikan ponselnya agar Gevin tidak menemukan keberadaannya itu.
Gevin kembali ke rumah orang tuanya, namun dia menemukan rumah dalam keadaan kosong. Semua anggota keluarga tidak ada disana. Gevin bertanya pada asisten rumah tangga disana tentang kemana perginya anggota keluarganya ini.
"Mereka pergi bersama untuk urusan bisnis, Tuan"
Gevin mengerutkan keninnya bingung, dia tidak mengerti kenapa ada urusan bisnis yang tidak ketahui. "Lalu Genara? Apa dia ikut juga?"
"Iya Tuan, Nona Gen juga ikut"
Gevin benar-benar di buat bingung dengan keadaan itu. Bahkan adiknya juga ikut pergi, padahal Genara adalah anak yang paling malas datang ke acara seperti itu.
"Yaudah Bi, makasih ya. Kalau begitu aku kembali ke Apartemen dulu"
"Baik Tuan"
Gevin kembali ke Apartemennya, meski dia masih bingung harus mencari kemana Zaina saat ini. Sekolah dan rumah orang tuanya yang memang memungkinkan tempat Zaina pergi juga tidak ada disana. Zaina sama sekali tidak ada disana.
"Sebenarnya kemana kamu pergi?"
Kehidupan Gevin seolah sedang di uji dengan berbagai cobaan yang ada. Membuat Gevin benar-benar merasa hancur. Gevin yang tidak tahu harus melakukan apa ketika dia harus kehilangan wanita yang dicintainya untuk kedua kalnya. Namun berbedanya kali ini Zaina pergi memang murni atas kesalahannya. Gevin yang tidak mengerti perasaan istrinya itu.
"Apa mungkin aku harus menanyakannya pada Bunda"
Ya, Gevin mulai mendapatkan pecerahan. Dia segera mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi orang tua Zaina. Tidak peduli jika dia akan di marahi olehnya, namun yang terpenting Gevin sudah berusaha bertanya untuk mengetahui dimana keberadaan Zaina. Kalaupun dia terkena marah dari orang tuanya Zaina, maka semua itu akan dia terima karena memang semuanya adalah kesalahan dia.
__ADS_1
Bersambung