Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Zaina Yang Tidak Baik-baik Saja?


__ADS_3

Zaina terdiam di atas tempat tidur setelah dia selesai mandi dan berganti pakaian. Kepalanya yang terasa begitu pening, entah kenapa. Mungkin karena kurang tidur, tapi aku rasa tidak. Tidurku selalu nyenyak. Gumamnya pada diri sendiri. Zaina juga bingung kenapa tiba-tiba dirinya merasa pening seperti ini. Padahal sebelumnya juga baik-baik saja.


"Sayang.."


Zaina menoleh ke arah pintu ruang ganti ketika mendengar panggilan suaminya yang baru saja selesai bersiap. Bahkan Gevin sudah siap dengan pakaian kerjanya. Gevin menghampirinya, dia duduk di pinggir tempat tidur. Menatap wajah istrinya yang pucat.


"Sayang kenapa? Wajahnya pucat begitu? Apa ada yang sakit?" tanya Gevin dengan cemas, hatinya sudah tak karuan. Takut jika istrinya akan kenapa-napa.


"Tidak papa, hanya sedikit pusing saja. Mungkin juga karena semalam tidurnya terlalu larut" ucap Zaina


"Maaf ya karena aku membuat kamu tidur terlalu malam. Sekarang kamu istirahat lagi saja, biar aku bawa sarapannya kesini" ucap Gevin


"Tapi Mas, kamu harus kerja, masa malah mengambilkan aku sarapan dulu"


Gevin menggeleng pelan, apapun akan dia lakukan asal istrinya sehat. "Masih keburu kok, lagian kalau aku telat juga karena jaga kamu. Papa tidak akan marah"


Aku lupa kalau perusahaannya milik Ayahnya. Gumam Zaina, tersenyum sendiri dengan pemikirannya itu. Zaina membiarkan Gevin keluar kamar dan membawakan sarapan untuknya. Zaina mengelus perutnya sambil sesekali tersenyum.


"Papa kamu itu memang sangat baik dan perhatian. Mama bahagia bisa bersama dengan Papa kamu, Nak. Nanti kalau kamu sudah lahir, pastinya Mama akan semakin bahagia lagi"


Zaina merasakan hal aneh, ketika bayinya tidak terasa bergerak aktif seperti biasanya. Namun dia mencoba mengabaikan karena mungkin bayinya juga tidak selalu gerak setiap saat. Mungkin saat ini sedang beristirahat atau mungkin sedang tidur. Pikirnya.


Gevin kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan untuk istrinya. Dia segera menghampiri Zaina, menyimpan nampan di atas nakas dan dia pun duduk di pinggir tempat tidur.

__ADS_1


"Makan dulu ya Sayang, biar aku tenang kerjanya. Hari ini cukup banyak agenda pertemuan, jadi aku tidak bisa kalau ambil cuti bekerja" ucap Gevin dengan nada kesal dan cemas sekaligus, di saat istrinya sakit dia malah tidak bisa ambil cuti bekerja.


Zaina tersenyum, dia mengelus tangan suaminya dengan lembut. "Sayang, aku tidak papa. Lagian pusingnya sudah mulai mereda kok"


Gevin menghembuskan nafas pelan, dia mengambil mangkuk bubur di atas nakas dan mulai menyendok satu sendok bubur lalu dia rasa di lidahnya, karena takut masih panas.


"Kenapa buat bubur Sayang? Aku tidak demam atau apapun, hanya sedikit pusing saja. Sekarang sudah sembuh kok pusingnya juga" ucap Zaina yang merasa heran karena suaminya membawa bubur.


"Aku sengaja suruh Mbak untuk di buatkan bubur dengan hati sapi dan sayuran. Baca di internet itu sangat bagus untuk ibu hamil dan menyusui" ucap Gevin


Zaina tersenyum haru, rasanya tidak pernah menyangka jika Gevin sampai akan melakukan ini dan mencari tahu tentang makanan yang baik dan sehat untuk Ibu hamil dan menyusui. Betapa beruntung sekali Zaina, karena dia juga belum tentu menemukan pria yang seperti Gevin lagi suatu saat nanti.


Masalah tentang masa lalu yang pernah terjadi, semuanya hanya karena mereka berdua tidak saling mengungkapkan perasaan masing-masing hingga saling menduga satu sama lain. Dan Zaina sudah mencoba untuk memulai hidup baru saat ini. Sekarang Gevin hanya akan menjadi miliknya seorang.


Gevin hanya tersenyum, dia mulai menyuapi Zaina dengan lembut. Gevin bersyukur karena sekarang dia bisa melihat bagaimana Zaina yang sudah benar-benar percaya lagi padanya. Setelah kisah masa lalu yang pastinya membuat hati istrinya terluka. Namun dia masih saja menerima dirinya dengan tulus.


Setelah memastikan Zaina makan dengan benar, barulah Gevin berangkat bekerja. Dia hanya perlu meastikan istrinya baik-baik saja di rumah. Beruntung karena Genara yang masih berada di rumahnya, hingga Gevin bisa menitipkan Zaina pada adiknya agar menjaganya. Meski dirinya juga tidak bisa terlalu fokus bekerja di saat pikirannya hanya tertuju pada Zaina dan kesehatannya.


"Vin, ada apa?" tanya Papa Gara saat mereka berdua sedang makan siang bersama.


Gevin menghela nafas pelan, dia juga bingung bagaimana menjelaskannya. Tapi jujur saja Gevin tidak bisa jika hanya memendam semuanya seorang diri. Dia ingin berbagi pada siapapun itu, dan mungkin memang yang terbaik adalah bercerita pada orang tuanya.


"Pa..." Gevin menghembuskan nafas pelan, tidak bisa langsung menjelaskan pada Ayahnya ini. "...Keadaan Zaina saat ini tidak baik-baik saja, terancam resiko tinggi dengan kehamilannya ini"

__ADS_1


Papa Gara terdiam mendengar itu, dia tahu bagaimana perasaan Gevin saat ini. Karena pastinya dia sangat cemas dan khawatir saat ini. "Kamu hanya perlu yakin kalau Zaina akan baik-baik saja, kita lakukan saja semua saran dan petunjuk dari Dokter. Semoga saja Zaina dan bayinya akan tetap sehat dan baik-baik saja"


Gevin mengangguk, dia juga berharap untuk seperti itu. Namun hati dan pikirannya tetap sangat cemas dan geliah. Takut suatu hal akan terjadi pada anak dan istrinya.


"Apa Zaina tahu tentang keadaannya itu?" tanya Papa Gara


Gevin menggeleng pelan, dia tidak berani memberi tahunya. Karena alasan Dokter tidak langsung memberi tahu dirinya dan istrinya juga karena tidak mau membuat Zaina banyak pikiran dan akhirnya akan membuat stres. Semakin tidak baik untuk keadaan psikis ibu hamil.


"Yasudah, lebih baik jangan dulu beri tahu Zaina. Karena dia juga pasti akan shock dan kepikiran. Lebih baik sekarang kamu membuat istrimu selalu senang dan tenang, agar tidak mempengaruhi pada janinnya" ucap Papa Gara


Gevin hanya mengangguk dengan helaan nafas pelan.


Ketika malam ini Gevin kembali ke rumahnya, dia melihat Zaina yang sedang duduk di atas sofa sambil mengelus perutnya. Di sampingnya ada Genara yang menemani Zaina. Gevin menghampiri mereka, mengusap kepala Genara, lalu mencium kening istrinya dengan kembut.


"Kakak kira kamu sudah pulang, Dek" ucap Gevin yang menjatuhkan tubuhnya di samping Zaina, dia membuka kancing lengan bajunya lalu menggulungnya sampai ke siku.


"Tadinya mau pulang, tapi Ibu telepon katanya biar aku disini saja dan temani Kak Zaina kalau misalkan Kakak sedang bekerja. Lagian kuliah aku juga sedang libur 'kan" ucap Genara


Gevin mengangguk mengerti, dia juga akan lebih tenang jika memang Genara bisa menemani Zaina ketika dirinya sedang tidak berada di rumah.


"Baguslah, lebih baik kamu berada disini dan menemani Kakak ipar kamu" ucap Gevin.


Genara hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2