
Ruangan ini dipenuhi oleh banyak orang yang datang untuk melihat bayi mungil yang baru saja lahir. Box bayi yang dikelilingi oleh banyak orang yang sangat antusias untuk kelahirannya saat ini.
Zaina yang sedang duduk di atas rajang pasien, sangat bahagia ketika dia akhirnya bisa berhasil menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya. Masih tidak percaya jika dirinya sudah melewati banyak hal yang menyulitkan untuk bisa menjadi seorang ibu.
"Sayang, terima kasih untuk perjuangannya" ucap Gevin sambil mengecup kening istrinya.
Zaina mengangguk, dia juga sangat bahagia dengan dirinya yang saat ini sudah bisa menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya. "Iya Mas, aku juga sangat bahagia karena perjuanganku selama ini ternyata tidak sia-sia. Terima kasih ya karena kamu sudah mau sabar bersamamu dan menunggu aku bisa memberikan kamu keturunan"
Gevin memegang tangan istrinya, tentu saja dia tidak akan pernah melupakan tentang perjuangan istrinya saat di ruang bersalin tadi. Hal itu yang membuat dirinya semakin menyayangi istrinya dengan sangat.
Saat di ruang bersalin, suasana yang begitu tegang. Gevin hanya bisa terus berdo'a agar istri dan anaknya bisa selamat dan baik-baik saja. Apalagi dia juga melihat bagaimana Zaina yang terus kesakitan dengan keringat yang membahsahi dahinya, belum lagi air mata yang ikut menetes karena rasa sakit yang semakin menjadi.
"Sayang, kamu pasti kuat. Ayo, sebentar lagi kita akan bertemu dengan bayi kita. Anak kita yang selama ini kita tunggu" bisik Gevin ditelinga istrinya. Dia mengecup kening istrinya dengan lembut.
Zaina hanya tersenyum lirih, memang sudah seharusnya dia memperjuangkan anaknya ini yang sebentar lagi akan bertemu dengannya. Zaina akan berjuang dengan sekuat tenaganya agar bisa melahirkan anaknya dengan sehat dan selamat ke dunia ini.
"Mas, do'akan kami bisa ya. Kita akan berjuang sama-sama"
Gevin mengangguk, dia memegang tangan istrinya dengan erat. Mencoba menyalurkan tenaga yang dia punya pada istrinya yang sedang berjuang untuk bisa melahirkan anaknya itu.
"Ayo Nona, segera dorong ya. Kepalanya sudah terlihat"ucap Dokter yang terus memberikan intruksi.
__ADS_1
Zaina menoleh dan menatap suaminya yang lansung menganggukan kepalanya untuk Zaina segera berjuang untuk anak kedua mereka ini. Dan Zaina langsung mendorong sekuat tenaga untuk mengeluarkan anaknya dan segera melihat dunia ini.
Hingga suara tangisan bayi yang menggema di ruangan ini membuat Gevin lansung menghapus air matanya yang menetes begitu saja. Akhirnya hari ini sudah bisa terlewati dengan baik. Mereka telah bisa melihat anak yang selama ini mereka nantikan. Gevin yang sudah bisa menggendongnya. Kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi.
#########
Beberapa hari berada di rumah sakit, hingga sekarang Zaina sudah kembali ke rumah dimana dirinya juga sudah merasa sehat dan lebih baik sekarang. Sengaja Gevin membawa istrinya untuk pulang ke rumah orang tuanya dulu. Karena ini adalah pengalaman pertama mereka mengurus seorang bayi, jadi masih membutuhkan bantuan dari orang yang sudah lebih berpengalaman seperti orang tua mereka.
Jenny dan Hildan juga memilih menginap sampai nanti acara syukuran kelahiran bayi Zaina dan Gevin yang telah mereka beri nama Gazia Putri itu. Nama yang sangat indah untuk bayi pertama mereka. Akhirnya anak kedua ini juga seorang putri lagi.
Hingga satu minggu kemudian, acara syukuran kelahiran bayi Gazia ini langsung dilaksanakan. Banyak orang yang datang juga banyak kerabat yang diundang. Semuanya ikut bahagia dengan kelahiran anak kedua Gevin dan Zaina. Meski anak pertama mereka memang sudah meninggal saat lahir. Tapi sekarang mereka berdua bisa mempunyai anak lagi.
Zaina menggendong anaknya dengan lembut, masih tidak menyangka jika saat ini dirinya sudah benar-benar menjadi seorang Ibu yang sebenarnya. Zaina juga banyak belajar dari Ibu dan Bundanya untuk merawat seorang bayi dengan baik.
Gevin menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas sofa sambil menggendong anaknya itu. Mengecup kepala Zaina dengan lembut. "Sayang, dia minum asi dengan sangat lahap ya. Apa memang kamu sangat lapar Sayang"
Gevin yang mengelus kepala bayi mungil dalam gendongan istrinya itu. Rasa bahagia yang tidak mampu lagi dia ucapkan dengan kata-kata. Bisa merasakan menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya setelah dia sempat gagal menjadi seorang Ayah pada awalnya. Sekarang akhirnya dia bisa benar-benar merasakan jadi seorang Ayah yang sesungguhnya.
Semua anggota keluarga dan para tamu undangan yang sangat bahagia dengan kelahiran Gazia ini. Bayi mungil menggemaskan yang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Genara juga ikut bahagia melihat kebahagiaan Kakak dan Kakak Iparnya itu. Dia tahu bagaimana perjuangan keduanya untuk bisa sampai di titik ini, tentu saja tidak gampang. Dan sekarang akhirnya Gevin dan Zaina bisa melewati banyak rintangan dalam hidup mereka untuk sampai di kebahagiaannya ini.
__ADS_1
"Selamat ya sudah menjadi Aunty sekarang"
Genara langsung menoleh pada seseorang yang berdiri disampingnya itu. Dia adalah Edgar yang memang juga diundang di acara ini. Membuat Genara hanya tersenyum saja.
"Apa kamu tidak ingin untuk mempunyai bayi juga seperti Kakak kamu?" tanya Edgar, masih menatap lurus tanpa menoleh sedikit pun ke arah Genara.
Genara hanya diam mendengar ucapan Edgar barusan. Seolah dia sudah tahu kemana arah tujuan Edgar yang sebenarnya dari pembicaraan ini.
"Memangnya kamu serius untuk menikahiku dan memberikan aku keturunan?"
Deg, Edgar langsung merasa membeku ketika mendengar ucapan Genara barusan. Langsung menoleh dan menatap Genara dengan tatapan tidak percaya. Ucapan Genara barusan seolah memberikan sinyal yang baik atas perjuangannya selama ini untuk bisa mendapatkannya. Setidaknya bisa untuk mendapatkan kepercayaan dari Genara.Dan sekarang tiba-tiba gadis itu berkata seperti itu padanya.
"Maksudnya kau siap menikah denganku?" tanya Edgar dengan tatapan yang lekat.
Genara berbalik dan menghadap Edgar yang sejak tadi berdiri disampingnya. Menatap Edgar dengan lekat. Entah sesuatu hal apa yang dilakukan oleh Edgar hingga membuat Genara sampai bisa percaya padanya dalam waktu sesingkat ini. Luka akan cinta yang bisa sembuh begitu saja dan perasaan trauma yang menghilang tanpa jejak sekarang. Semuanya sejak Edgar yang terus mengejarnya.
"Kalau memang kamu yakin untuk menikah denganku. Maka temui kedua orang tuaku dan minta aku pada mereka dengan baik. Maka aku akan mau menikah denganmu" ucap Genara yang langsung berlalu pergi begitu saja dari hadapan Edgar .
Edgar langsung tersenyum mendengar ucapan Genara barusan. Melihat punggung Genara yang menjauh darinya semakin membuat dia semangat dan yakin untuk mendapatkan Genara dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Aku akan datang ke orang tuamu dan memintamu langsung untuk segera aku nikahi" takadnya.
__ADS_1
Bersambung