Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Perdebatan Kecil


__ADS_3

Masih di dalam mobil, Gevin masi marah pada Zaina karena kejadian tadi. Entahlah, tapi rasa cemburunya benar-benar tinggi. Dia tidak suka melihat Zaina bersama dengan pria lain.


"Dia siapa?"


Zaina menghela nafas pelan, sudah dia jelaskan tapi Gevin masih saja bertanya seperti itu. "Hanya teman mengajar aku di sekolah. Memangnya siapa lagi Mas?"


"Aku tidak suka kamu bersama dengan pria lain ya Za. Kamu itu istriku, dan kamu sudah menjadi milikku"


"Kalau begitu, aku juga tidak suka melihat kamu terus bersama dengan Lolyta" jawab Zaina tidak mau kalah


Gevin menoleh sekilas pada istrinya yang sejak tadi hanya menatap lurus ke depan saja. "Itu berbeda Za, aku hanya menengok dia sesekali dan menemaninya untuk menjalani pengobatan saja"


"Ya, kalau begitu aku juga sama. Aku hanya teman dengan Aldo. Aku hanya main saja dengan dia"


"Gak, pokoknya kamu tidak boleh terus dekat-dekat dengan pria itu"


Mobil terparkir di basement Apartemen, Zaina menatap Gevin dengan helaan nafas panjang. "Lalu apa bedanya Mas? Kamu selalu bertemu dengan mantan pacar kamu itu, sementara aku berteman biasa dengan pria saja tidak boleh. Ingat Mas, ini hanya sandiwara pernikahan. Jadi kamu jangan mengekang aku dengan segala keegoisan kamu itu!"


Zaina turun dari mobil, menutup pintu mobil dengan sedikit keras. Dia berjalan ke arah lift. Sementara Gevin di dalam mobil masih terlalu shock dengan ucapan Zaina. Dia membenturkan kepalanya ke atas setir. Sekarang Gevin tidak tahu harus bagaimana, dia sudah terlanjur berjanji juga pada Lolyta, dan sampai saat ini Gevin masih merasa jika dia tidak megkhianati Zaina, karena dia tidak ada apapun dengan Lolyta. Entahlah..


Gevin turun dari mobil dan segera menyusul Zaina yang sudah naik duluan ke Apartemen mereka.


Ting..


Pintu lift terbuka, Zaina langsung keluar dan berjalan ke ara Apartemennya. Namun langkahnya memelan ketika dia melihat kedua orang tuanya yang berdiri di depan pintu Apartemen.


"Bunda, Daddy" panggil Zaina yang langsung menghampiri mereka


Jenny langsung menoleh, dia memeluk anaknya dengan erat. Mengecup kening Zaina dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana kabar kamu, Kak? Baik-baik saja 'kan? Suami kamu mana?"

__ADS_1


Zaina melerai pelukannya, dia menatap Bundanya dengan tersenyum. Sebisa mungkin Zaina harus menutupi jika rumah tangganya dengan Gevin tidak baik-baik saja saat ini.


"Kakak baik-baik saja Bun, Mas Gevin masih di bawah tadi. Kami baru pulang, tadi mampir jalan-jalan sebentar. Ayo masuk"


Zaina mengambil accescard Apartemen, lalu membuka pintu. Mengajak kedua orang tuanya masuk. "Hilmi dan Haiden gak ikut kesini, Bun?"


"Tidak, mereka sekolah besok. Bunda kesini juga karena kebetulan Daddy lagi ada kerjaan disini, jadi ikut. Kangen banget sama kamu"


Zaina tersenyum mendengar itu, bagaimana dia yang tidak bersyukur mempunyai ibu sambung seperti Jenny, yang bahkan sudah seperti Ibu kandungnya sendiri. Meski dulu Ayahnya pernah berperilaku tidak baik pada Jenny, namun sampai saat ini Bundanya itu tidak pernah mengungkit tentang itu.


"Daddy kira kamu tinggal di rumah Vania, ternyata malah di Apartemen ya" ucap Hildan sambil duduk di atas sofa yang berada di ruang tengah.


Zaina berlalu ke dapur yang sebenarnya jaraknya juga dekat dari sana. "Iya Dad, soalnya Mas Gevin yang minta. Katanya biar lebih dekat dengan jarak kantor, karena selama ini dia juga lebih sering tinggal disini sejak sebelum menikah pun"


"Ya, lebih baik tinggal berdua saja sebelum mempunyai anak. Biar lebih mandiri dan tidak menyusahkan mertua kamu" ucap Jenny


"Loh ada Daddy dan Bunda ya rupanya..." Gevin segera datang menyalami kedua orang tua istrinya ini dengan sopan. "...Bagaimana kabar kalian?"


"Baik Vin, kamu juga apa kabar?" jawab Jenny


Gevin duduk di sofa yang bersebrangan dengan mertuanya itu. "Baik, aku dan Zaina juga baik Bun"


Zaina menata minuman dan cemilan untuk kedua orang tuanya di atas meja. Lalu dia duduk di samping suaminya, mau tidak mau meski hatinya masih kesal dan sedang tidak baik-baik saja. Namun Zaina tetap harus menunjukan keharmonisan pernikahannya pada orang tuanya ini. Sandiwara pernikahan masih berjalan sampai saat ini.


"Kak, kamu ngajar lagi sekarang?" tanya Jenny saat melihat pakaian yang di pakai anak perempuannya itu.


"Iya Bun, ya abisnya bosan juga hanya diam di rumah. Mas Gevin izinin kok aku ngajar lagi"


"Ya, tidak papa selama kamu belum mempunyai anak. Tapi kalau kamu sudah hamil, sebaiknya berhenti saja. Oh ya, bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Jenny dengan antusias

__ADS_1


Layaknya orang tua pada umumnya, Jenny dan Hildan juga menginginkan untuk segera mempunyai seorang cucu dari anak pertama mereka yang baru saja menikah. Sama halnya dengan Vania dan juga Gara.


Zaina tersenyum tipis mendengar itu, tentu dia tahu bagaimana Ibunya yang mengharapkan seorang cucu. "Belum Bun, mungkin belum di kasih sama Tuhan"


Karena tidak mungkin juga aku hamil, jika selama ini aku belum pernah disentuh oleh suamiku sendiri.


Gevin merangkul bahu istrinya, dia tahu jika Zaina juga pasti sama bingungnya dengan dia ketika pertanyaan yang sama pernah di lontarkan oleh Ibunya, sekarang juga terlontar dari Bundanya.


"Kami akan berusaha Bun, semoga segera mendapatkan yang terbaik"


Zaina menoleh pada suaminya, menatap wajah tampan Gevin dengan jarak yang cukup dekat seperti ini. Gevin yang mulai membicarakan tentang urusan bisnis bersama dengan Hildan, tapi tidak melepaskan rangkulan tangannya dari Zaina.


Berusaha apanya? Dia saja baru kemarin-kemain mau tidur satu ranjang denganku.


Rasanya semuanya masih terlalu membingungkan bagi Zaina. Dia tidak bisa membedakan mana sikap Gevin yang sedang bersandiwara dan mana sikap Gevin yang sedang tidak bersandiwara. Karena terkadang di saat mereka hanya berdua pun, Gevin selalu menjadi sosok yang manis dan penuh perhatian pada Zaina.


"Kalau begitu biar Kakak masak dulu ya, kalian makan malam disini. Sudah lama sekali Kakak tidak makan bareng Bunda dan Daddy"


"Biar Bunda bantu, Kak"


Gevin tersenyum melihat istri dan ibu mertuanya yang berlalu ke dapur. Hildan juga melakukan hal yang sama, lalu dia berbalik dan menatap Gevin dengan lekat.


"Vin, jaga anak Daddy baik-baik ya. Zaina adalah sosok anak yang ceria sejak kecil, namun kepedihannya juga di mulai sejak dia lahir. Ketika Ibu kandungnya harus meninggal setelah melahirkannya. Beruntung karena sekarang ada Bundanya yang begitu baik dan menerima Zaina seperti anaknya sendiri. Jadi, Daddy minta kamu jaga dia baik-baik"


Gevin mengangguk, dia sudah memantapkan hatinya untuk kembali memulai kisah baru dengan Zaina. Karena hatinya yang mulai bisa menerima kehadiran Zaina dalam hidupnya.


"Pasti Dad, aku akan menjaga Zaina selamanya"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2