
Zaina benar-benar tidak menyangka jika suaminya akan bersikap sangat dingin pada Aldo saat di kedai mie tadi. Zaina segera menarik suaminya keluar dari kedai setelah membayar makanan mereka. Dia merasa tidak enak pada Aldo disana. Padahal pria itu hanya bermaksud baik untuk menyapa Zaina.
"Mas, kamu ini kenapa si? Kok harus bersikap seperti itu pada Aldo?"
Gevin masih diam dengan memegang kemudinya. Dia masih kesal karena istrinya yang masih membela pria lain daripada dirinya sendiri.
"Kamu kok malah belain dia si? Padahal aku suami kamu"
Zaina menggeleng tidak percaya dengan jawaban Gevin itu. Padahal dia tahu bagaimana Aldo yang hanya sebatas teman saja. Tidak lebih. "Mas, kamu yang kenapa? Bersikap tidak sopan pada Aldo, padahal dia hanya menyapa saja"
"Karena aku tidak suka ada pria lain yang mendekati kamu"
Zaina tidak menjawab lagi, memang susah jika berbicara dengan pria yang sedang cemburu. Mau bagaimana pun menjelaskan, tetap akan terlihat salah di matanya. Jadi lebih baik mengalah dan hanya diam saja.
"Aku tidak suka melihat kamu yang tersenyum seperti itu pada pria lain, karena kecantikan kamu hanya untukku. Aku pernah menjadi pria yang salah, sehingga aku sangat takut jika kamu akan menemukan pria lain yang lebih baik dari aku" ucap Gevin
Mendengar itu, Zaina langsung menoleh dan menatap suaminya yang sedang mengemudi itu. Zaina merasa jika Gevin memang sedang sangat takut kehilangannya. Padahal kenyataannya dirinya juga tidak akan berpaling, berpikir untuk itu pun tidak pernah. Karena sejak dulu cintanya hanya untuk Gevin.
"Mas..." Zaina menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. "...Aku tidak akan pernah beraling darimu, karena aku tidak akan pernah mau untuk kehilangan kamu. Selama ini aku memendam cinta untukmu, dan ketika sekarang aku sudah bisa bersama denganmu. Tidak mungkin aku akan menyia-nyiakannya"
Semuanya masih terlalu sulit untuk mereka bisa sampai di titik ini. Jadi rasanya tidak mungkin jika harus berpaling dari pasangan yang selama ini di dambakan.
Gevin tidak menjawab, dia hanya mengecup puncak kepala Zaina. Hatinya sudah mulai tenang ketika dia mendengar dengan sendirinya bagaimana istrinya yang berjanji untuk tetap setia.
"Maafkan aku Za, karena selama ini banyak melukai hatimu. Maaf"
__ADS_1
Zaina tersenyum, dia sudah sering mendengar kata maaf dari suaminya ini. Zaina mengangkat kepalanya, lalu memberikan kecupan di pipi suaminya. Tanpa memberikan jawaban apapun. Karena kata maaf dari suaminya sudah lama mendapatkan jawaban.
Sampai di rumah, keduanya langsung masuk ke dalam kamar. Setelah kenyang makan mie, Zaina jadi mengantuk sekarang. Membuat dia langsung bersih-bersih dan setelah itu menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur. Gevin hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah terkapar lemah di atas tempat tidur dengan mata yang sudah tidak bisa terbuka. Benar-benar mengantuk.
Berlalu ke ruang kerja, setelah menyelimuti tubuh istrinya dan memastikan jika Zaina akan tidur dengan nyenyak dan nyaman. Gevin terdiam di ruang kerja, sebenarnya bukan untuk memeriksa pekerjaan, tapi hanya untuk berdiam diri dengan rasa penyesalan yang masih ada di hatinya.
"Seandainya Zaina tidak menerimaku kembali setelah kejadian itu, pastinya aku akan benar-benar hancur"
Gevin menghembuskan nafas kasar, menatap pemandangan malam di luar jendela ruang kerja. Gevin masih sering menyendiri hanya untuk meratapi segala penyesalan yang membelenggu hatinya.
Semuanya masih berat untuk bisa Gevin lupakan.Penyesalan yang semakin hari semakin terasa berat.
#########
Zaina terbangun tengah malam, dan dia menyadari tidak ada suaminya di sampingnya ini. Zaina duduk menyandar di atas tempat tidur sambil mengelus perutnya sendiri.
Sebenarnya Papa kamu itu memang berniat kembali dengan Mama, atau mungkin dia hanya merasa bersalah saja karena kahadiran kamu dalam perut Mama.
Tendangan dari dalam perutnya membuat Zaina tersenyum tipis. Anaknya yang selalu terasa aktif, selalu memberikan respon yang baik.
Ceklek..
Suara pintu terbuka membuat Zaina langsung menoleh ke arah pintu dan dia melihat suaminya disana. Zaina tersenyum melihat Gevin, dia mencoba untuk tidak menunjukan kecemasannya pada pernikahan ini. Jujur dengan sikap Gevin yang seperti ini masih membuat Zaina merasa was-was dengan pernikahan yang sedang terjadi ini. Zaina takut jika apa yang dia pikirkan memang benar adanya.
"Sayang kok bangun?" Gevin menghampiri Zaina, duduk di pinggir tempat tidur dan mengecup kening istrinya itu.
__ADS_1
Zaina mencoba tersenyum biasa saja, meski hatinya sedang di liputi perasaan was-was dan cemas berlebihan. Mungkin karena dirinya yang juga sedang hamil membuatnya sedikit sensitive.
"Tidak papa Mas, aku baik-baik saja. Hanya kebangun saja tiba-tiba"
Gevin mengangguk mengerti, dia mengecup kembali kening istrinya. "Kalau gitu tidur lagi saja, aku mau ke kamar mandi dulu"
Zaina menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu ruang ganti. Zaina menghela nafas pelan, Gevin masih memperlihatkan jika dia memang suami yang baik dan begitu menyayangi Zaina. Namun, Zaina tetap merasa aneh. Karena sampai saat ini suaminya tidak pernah mau menyentuhnya selain sebuah ciuman saja.
"Mungkinkah aku sudah tidak menarik lagi di matanya?"
Beberapa saat kemudian, Gevin kembali dari ruang ganti. Dia segera naik ke atas tempat tidur setelah ganti pakaian. Memeluk Zaina dengan hangat. Mencium dua kali pipi istrinya itu.
"Mas.." Zaina berbalik, dia menghadap suaminya. Wajahnya yang berada di depan dada Gevin. "...Apa aku sudah tidak menarik lagi dimatamu?"
Gevin mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan pertanyaan Zaina yang begitu tiba-tiba. "Maksudnya? Tidak menarik bagaimana?"
Aduh, bagaimana cara aku menjelaskannya? Aku sendiri malu jika harus aku yang memulai untuk menanyakan hal sensitive seperti ini.
Zaina menggeleng pelan, dia langsung mengeratkan pelukannya. "Bukan apa-apa, hanya asal bertanya saja"
Zaina juga tidak seberani itu untuk langsung bertanya tentang hal sensitive seperti ini. Tahu sendiri jika dirinya hanya seorang istri, yang rasanya akan sangat malu jika dia yang memulai tentang pembahasan ini. Zaina yang masih menjadi sosok yang pemalu untuk membahas soal seperti ini.
"Aneh banget si, tiba-tiba tanya begitu" ucap Gevin sambil mengecup puncak kepala istrinya.
Nyatanya Gevin masih menjadi sosok yang tidak peka terhadap apapun. Buktinya selama bertahun-tahu Zaina memendam perasaan padanya saja, dia sama sekali tidak tahu. Gevin benar-benar menjadi sosok pria yang tidak peka. Padahal Zaina sudah mencoba untuk memberi jalan, tapi Gevin sama sekali tidak mengerti apa yang di maksud oleh istrinya itu.
__ADS_1
Dasar tidak peka!
Bersambung