Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Gevin Yang Begitu Terpukul!


__ADS_3

Gevin berlalu ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya dan juga pikirannya dengan berendam di dalam bak mandi. Gevin yang benar-benar dalam keadaan yang kacau saat ini.Dia telah kehilangan anaknya dan dia yang juga tidak tahu harus melakukan apa ketika bertemu dengan istrinya yang pastinya akan sangat terluka dengan semua ini.


Malam hari di rumah sakit, Zaina menatap ke arah pintu ruangan. Papa Gara dan Hildan sudah datang kembali ke rumah sakit. Tapi suaminya tidak ada.


"Kemana Mas Gevin, Pa?" tanya Zaina, dirinya sudah bisa lebih tegar dengan segala kenyataan yang ada. Meski tentu saja belum bisa menerima sepenuhnya kenyataan yang ada. Karena memang dirinya yang tidak tahu harus melakukan apa dengan takdir Tuhan yang sudah tidak mungkin bisa dia menolak takdir dari Tuhan.


Papa Gara menghela nafas, dia juga bingung bagaimana menjelaskannya. Tapi Gevin benar-benar terlihat lebih hancur dari Zaina. Dia seolah sedang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sedang terjadi ini.


"Suami kamu masih berada di rumah, mungkin masih sibuk untuk membereskan rumah. Tadi juga cukup banyak orang yang datang ke rumah" jelas Papa Gara, mencoba untuk mencari alasan yang tepat.


Melihat itu, Vania mengajak suaminya untuk keluar. Dia tahu kalau ada yang tidak beres dengan Gevin. Duduk di kursi tunggu depan ruangan Zaina. Vania menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.


"Sayang, sebenarnya Gevin kemana? Kenapa dia tidak datang kesini dan menemui istrinya?" tanya Vania.


Gara menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana titik terlemah anaknya dan saat ini dia baru melihat kehancuran Gevin yang sebenarnya.


"Gevin terlihat sangat terpukul, Sayang. Bahkan dia tidak mau makan sejak tadi pagi. Aku sudah mencoba membujuknya, tapi dia tetap tidak mau. Bahkan dia bilang jika dia takut bertemu dengan Zaina. Seolah dia sedang merasakan rasa bersalah atas apa yang tengah terjadi pada istrinya itu" jelas Gara


Vania menghela nafas pelan mendengar itu, dirinya tidak menyangka jika anak laki-lakinya itu akan bisa sehancur ini. Bahkan selama ini, Vania selalu melihat sosok Gevin yang kuat dan selalu tenang dalam menghadapi masalah. Hingga dia bisa bersama kembali dengan Zaina juga karena kegigihannya. Tapi sekarang dia malah terlihat sangat hancur.

__ADS_1


"Aku ingin menemuinya, dia pasti sangat membutuhkan aku saat ini" ucap Vania.


Gara mengangguk, mungkin memang jika bersama Ibunya Gevin akan lebih bisa terbuka dan bercerita apa yang dia rasakan. Tapi jika dengan Gara, dia masih saja tidak bisa begitu terbuka. Karena memang Gevin yang lebih dekat dengan Vania dari sebelumnya. Bahkan Gara bertemu dengan anaknya itu di usianya yang sudah hampir 4 tahun. Kisah dan cerita cinta yang tidak akan bisa dia lupakan hingga dirinya bisa bersatu dengan Vania saat ini.


"Yaudah, sekarang kita pamitan dulu dan temui Gevin di rumah" ucap Gara.


Setelah berpamitan, dan mereka segera pergi. Dan sekarang Vania hanya bisa terdiam di ambang pintu kamar bayi yang terpaksa kosong karena memang bayinya yang sudah tidak ada dan tidak mungkin akan menempati kamarnya yang sudah di siapkan ini.


Di dekat box bayi, Gevin duduk bersimpuh di atas lantai dengan tangannya yang memegang sebuah baju mungil di tangannya. Baju yang seharusnya di pakai oleh putrinya, namun takdir berkata lain.


"Maafkan Papa ya Nak, karena Papa tidak menjaga kamu dan Mama kamu dengan baik. Papa yang sudah membuat kamu seperti ini, maaf" lirih Gevin dengan air mata yang tidak mau berhenti sejak tadi.


"Memang dia seperti itu sejak tadi, menyalahkan dirinya sendiri. Gevin benar-benar hancur dengan meninggal anak pertama mereka. Dia menganggap jika anaknya seperti ini karena kesalahan dia yang tidak bisa menjaga istrinya saat hamil" jelas Gara.


Vania menghela nafas pelan, dia melangkah masuk untuk menghampiri anaknya. Bahkan kehadiran mereka saja tidak disadari oleh Gevin. Vania duduk di sampingnya, mengelus bahu Gevin dengan lembut.


Gevin menoleh dan menatap Ibunya dengan tatapan matanya yang sendu. "Bu, Gevin telah gagal jadi seorang Ayah dan suami yang baik"


Vania menggeleng pelan dengan berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisannya. Dia meraih tubuh putranya dan memeluknya. "Tidak Nak, kamu tidak gagal sama sekali. Selama ini kamu sudah menjadi suami yang baik dan juga kamu pasti bisa menjadi Ayah yang baik"

__ADS_1


"Jika saja dulu Gevin tidak membuat Zaina tertekan dengan keadaan yang ada. Mungkin kehamilannya tidak akan bermasalah. Gevin yang salah Bu, karena Gevin yang sudah membuat Zaina merasakan masa-masa kehamilan tanpa seorang suami di sampingnya. Pada awalnya memang Gevin yang salah atas semua ini" lirihnya dengan isak tangis yang terdengar begitu memilukan.


Vania mengelus punggung anaknya itu, dia mengecup puncak kepala anaknya beberapa kali. Bagi seorang Ibu di saat anaknya seperti ini, maka sebesar apapun dia sekarang, maka tetap terlihat seperti anak kecil di matanya.


"Kamu tidak salah Nak, semua ini memang sudah takdir. Mungkin memang kalian belum di percaya untuk merawat anak kalian itu" ucap Vania.


Gevin hanya diam, dia sedang mencoba menenangkan diri dan pikirannya dalam pelukan sang Ibu. Memang hanya sosok seorang Ibu yang bisa membuat seorang anak laki-laki yang sedang dalam situasi terendah dalam hidupnya itu bisa lebih tenang dengan keadaannya yang ada.


"Sekarang, kamu hanya perlu untuk menerima kenyataan yang ada. Karena kita tidak bisa melawan takdir Tuhan. Biarlah semua ini menjadi sebuah cobaan dan rintangan yang harus kamu dan istri kamu lewati" ucap Vania pelan.


Gevin melerai pelukannya, dia memegang tangan Ibunya dan menatapnya dengan mata yang sendu. Sisa air mata yang jelas terlihat di sekitar matanya. Vania tidak pernah menyangka jika anaknya akan berada di titik terendah seperti ini dalam hidupnya.


"Bu, aku belum siap untuk bertemu dengan Zaina. Jadi untuk saat ini, aku belum bisa menemui dia. Tolong Ibu jaga dia ya, laporkan semua tentang keadaan dia. Aku benar-benar sangat merasa bersalah padanya Bu, aku tidak siap jika harus bertemu dengannya" ucap Gevin dengan tangisan yang kembali pecah.


Rasanya dia akan sangat merasa bersalah jika harus berhadapan dengan Zaina saat ini. Bagaimana dia yang sebagai seorang suami, namun tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Semuanya memang kesalahannya.


Vania mendongak dan menatap suaminya yang sejak tadi hanya diam saja sambil menatap ke sekeliling ruangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2