Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Tidak Bisa Kasih Nafkah Lahir Bathin?!


__ADS_3

Zaina memasukan beberapa barang suaminya ke dalam koper, hari terakhir berada di pulau ini benar-benar tidak ada kesan indah apapun untuk Zaina. Bahkan gelang dan jam tangan yang di beli Gevin itu pun tidak sampai pada dirinya. Entah kenapa suaminya membeli barang itu jika bukan untuk dirinya.


Tangan Zaina menyentuh sesuatu, dia menatap sebuah kotak bewarna merah panjang yang terselip di bagian sisi koper. Dia membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung yang terlihat sangat indah.


"Kalung untuk siapa ini? Kenapa ada di koper Mas Gevin?"


Zaina menatap kalung itu dengan intens, benar-benar kalung yang indah ini. Dia menyukai kalung itu, namun tidak mungkin juga jika kalung itu memang untuk dirinya. Tahu jika suaminya memang tidak mencintainya, jadi untuk sebuah hadiah indah seperti ini tidak mungkin di berikan untuknya.


"Za.."


Zaina gelagapan dan langsung menoleh ke arah suaminya, dia menatap Gevin yang berjalan ke arahnya itu. "Maafkan aku Gevin, aku tidak sengaja menemukan ini di dalam koper kamu"


"Tidak papa, itu memang tidak sengaja aku bawa"


"Emm. Memangnya ini untuk siapa?"


Gevin duduk di pinggir tempat tidur, menatap Zaina yang sedang memperhatikan kalung itu. "Kalau kamu mau, boleh buat kamu saja"


Zaina menyimpan kembali kalung itu ke dalam kotaknya. Dari perkataan Gevin barusan, jelas jika kalung itu memang bukan untuknya. Zaina cukup tahu diri untuk tidak mengambil kalung itu, karena sadar jika kalung itu bukanlah miliknya"


"Tidak usah Mas, aku tidak ingin juga. Hanya melihatnya saja"


"Yaudah kalau begitu simpan lagi saja..." Gevin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar. "...Sebenarnya kalung itu dulu untuk Lolyta, akan aku berikan di hari ulang tahun dia. Tapi sayangnya dia keburu menghilang dan tidak tahu ada dimana sampai sekarang"


Zaina hanya diam dengan perasaan yang semakin terasa sesak. Tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika Gevin menceritakan tentang wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Kamu sangat mencintainya ya?"


"Tentu saja, aku sangat mencintai dan menyayanginya. Kamu tahu sendiri bagaimana aku sangat mencintai dia"


Zaina mengangguk, dia menutup koper yang sudah penuh dengan barang-barang suaminya. "Kalau misalkan dia kembali suatu saat nanti, bagaimana Mas?"

__ADS_1


"Entahlah, mungkin jika dia kembali untuk meminta maaf padaku dan menyesal semua perbuatannya. Aku akan maafkan dia"


Deg..


Rasanya Zaina sangat menyesal karena sudah bertanya seperti itu. Karena dirinya sudah menduga jawabannya akan seperti apa, tetap saja masih bertanya juga. Sekarang Zaina benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengan perasaanya ini. Perasaan cinta yang tidak tahu akan bagaimana akhirnya.


"Yaudah, kalau sudah siap ayo kita pergi ke Bandara sekarang"


Zaina mengangguk, dia tidak banyak bicara lagi setelah itu. Karena memang dia yang sudah cukup tahu diri siapa dirinya dalam kehidupan Gevin. Sama sekali tidak ada cinta untuk Zaina di hati Gevin.


Kembali ke Ibu kota, dan selama dalam perjalanan Zaina benar-benar hanya banyak diam dan tidak melakukan apapun. Zaina masih memikirkan ucapan Gevin saat di Villa. JIka suatu saat Lolyta benar-benar kembali, maka Zaina harus benar-benar siap untuk melepaskan Gevin. Karena mungkin mereka akan kembali bersama jika benar Lolyta kembali.


Mereka langsung pulang ke Apartemen, sesuai dengan syarat yang di ajukan oleh Zaina. Mereka tetap tidur dalam satu kamar yang sama. Meski tidak di atas ranjang yang sama.


"Kamu tidur di tempat tidur saja, biar aku yang tidur di sofa"


Zaina mengangguk, setidaknya Gevin masih menjadi pria yang baik dan mendahulukan wanita. "Besok pagi kamu mulai kerja ya Mas?"


"Mungkin besok kita ke rumah Ibu dulu, mereka pasti tidak tahu kalau kita sudah kembali"


Gevin menoleh, dia menatap Zaina yang tidur di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang menghadap ke arahnya. "Sebaiknya jangan dulu Za, biarkan saja mereka tidak tahu jika kita memang sudah kembali. Biarkan mereka mengira jika bulan madu kita memang berjalan semestinya. Yaitu satu minggu"


"Tapi, kalau kamu berangkat kerja pastinya mereka mengetahui dong kalau kita sudah kembali"


Gevin berpikira sejenak, benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu. "Yaudah kalau gitu aku tidak akan pergi bekerja dulu sampai waktu kita bulan madu selesai"


Zaina hanya mengangguk, lalu dia mulai memejamkan matanya dan mulai terlelap dengan sendirinya.


#######


Pagi ini Gevin terbangun ketika dia mencium bau harum masakan. Sepertinya Zaina sudah berkutat di dapur sejak tadi. Segera Gevin keluar kamar dan memang benar apa  yang dia duga, Zaina yang sedang menata masakan di atas meja.

__ADS_1


"Masak apa Za? Wangi banget sampe kecium ke kamar"


Zaina tersenyum melihat suaminya yang sudah duduk di kursi meja makan dan menatap makanannya yang tertata rapi di atas meja.


"Soto ayam Mas, semoga kamu suka ya"


"Wah ini si kesukaan aku, kamu hebat Za bisa masak banyak menu"


Zaina tersenyum mendengar itu, dia menarik kursi lalu duduk di sana. "Bunda aku yang ajarin Mas, karena Daddy suka banget dengan masakan Bunda. Jadi aku juga suka ikut bantuin, sampai akhirnya bisa masak sendiri deh"


Gevin menatap Zaina sambil tersenyum, dia tahu jika Zaina adalah sosok wanita yang nyaris sempurna untuk seorang istri. Tapi entah kenapa hatinya tidak bisa untuk mencintainya.


"Boleh aku makan sekarang Za?"


"Silahkan Mas, biar aku ambilkan ya"


Zaina langsung mengambilkan makanan untuk suaminya itu. Tentu saja dia sangat senang bisa melayani Gevin seperti ini. Hati kecilnya masih berharap jika Gevin akan bisa membuka hati untuknya suatu saat nanti.8


"Terima kasih Za, kamu juga ikut makan"


Zaina mengangguk, dia juga ikut mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Makan bersama untuk pertama kalinya di Apartemen ini. Sesekali Zaina melirik Gevin yang makan dengan lahap, bahkan sampai nambah.


"Mas, aku boleh ngajar lagi? Aku sudah memasukan lamaran ke beberapa sekolah swasta di kota ini si"


Gevin mendongak, di menatap Zaina. Gevin tahu jika istrinya ini memang bekerja sebagai guru honor di sekolah dasar. Sebenarnya memang Zaina yang senang dengan anak kecil, membuat dia selalu terlihat senang saat bekerja sebagai guru.


"Boleh kalau kamu mau, aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap diam di rumah. Kamu boleh kok untuk melakukan aktivitas kamu seperti biasanya. Tapi aku tetap akan memberikan nafkah lahir yang sesuai untuk kamu"


Zaina menatap suaminya dengan lekat. "Kalau nafkah bathin kapan kamu akan berikan Mas?"


"Maaf Zaina, untuk itu aku tidak bisa berikan"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2