Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Pikirkan Perasaanku!


__ADS_3

Zaina benar-benar tidak mendapatkan kabar dari suaminya seharian ini. Entah apa yang sedang di kerjakan oleh Gevin sampai dia tidak sempat mengabari Zaina. Pulang bekerja sore ini, dia terpaksa harus naik ojek online karena tidak kunjung mendapatkan taksi.


Di tengah perjalanan tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu deras. Zaina menutupi kepalanya dengan tas selempang yang dia pakai. Hujan yang begitu deras membasahi tubuhnya dan juga tukang ojek itu. Mau berhenti untuk berteduh juga tanggung karena sudah terlanjur basah kuyup.


Sampai di depan Apartemennya, Zaina segera turun dan memberikan uang lebih untuk tukang ojek itu. "Ini Pak, ada lebihnya untuk beli minum yang hangat ya"


"Iya Neng, terima kasih banyak"


Zaina mengangguk, dia segera masuk ke lobby Apartemen. Berpapasan dengan dua orang pria da wanita yang memakai pakaian medis saat Zaina baru saja akan masuk ke dalam lift.


"Siapa yang sakit? Kok ada petugas medis datang kesini"


Zaina mengabaikan pikirannya itu, dia menepuk-nepuk bajunya yang basa karena air hujan. Sampai di depan Apartemen, Zaina mengeluarkan accescard dan membuka pintu Apartemen.


Membuka sepatu dan menyimpannya di atas rak sepatu. Berjalan menuju ruang tengah. "Mas kamu sudah pul...."


Ucapan Zaina terhenti ketika dia melihat Gevin yang sedang duduk berdua di sofa ruang tengah. Tangan Gevin sedang menyuapi Lolyta potongan buah.


Gevin menoleh dan terkejut melihat Zaina yang basah kuyup, dia segera menghampirinya. "Kamu kehujanan? Apa tidak naik taksi?"


Mata Zaina berkaca-kaca, menatap Lolyta yang juga menatapnya dengan tatapan bingung. Sampai saat ini, Gevin sama sekali belum menjelaskan jika dirinya sudah menikah.


"Zaina ya? Ya ampun, aku hampir lupa kalau itu kamu. Teman Gevin itu 'kan, yang dari luar kota. Apa kabar Za?" tanya Lolyta dengan senyumannya.


Zaina tidak menjawab, dia berlalu begitu saja ke arah kamarnya. Menutup pintu kamar dengan keras. Zaina tidak menyangka jika Gevin akan benar-benar membawa mantan kekasihnya itu ke Apartemen mereka. Tubuh Zaina bersandar di pintu yang tertutup, air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Apa ini? Mungkinkah Gevin sedang memberi tahu aku kalau dia akan menikahinya"

__ADS_1


Tubuh Zaina luruh ke atas lantai seiring air matanya yang ikut berjatuhan. Dia masih tidak percaya dengan suaminya yang datang membawa wanita yang menjadi mantan kekasihnya itu ke dalam rumah mereka.


Di ruang tenga, Gevin mengusap wajah kasar. Salah dia sendiri yang tidak memberi tahu Zaina terlebih dulu tentang dirinya yang akan membawa Lolyta untuk tinggal di Apartemen bersama dengan mereka. Tapi semuanya ini juga hanya demi kesehatan Lolyta. Gevin hanya menuruti saran Dokter.


"Vin, kenapa Zaina seperti marah denganku? Apa dia tidak suka ya aku tinggal disini? Lebih baik aku kembali ke rumah sakit saja Vin, jangan tinggal di Apartemen kamu ini"


Gevin menghela nafas pelan, dia berjalan menghampiri Lolyta. "Bukan begitu Ly, mungkin saja Zaina capek jadi dia harus istirahat. Kamu lihat sendiri 'kan kalau dia kehujanan jadinya harus cepat ganti baju"


Lolyta mengangguk, dia menatap Gevin sambil tersenyum. Menyandarkan kepalanya di bahu Gevin yang duduk di sampingnya. "Terima kasih ya Vin, karena kamu bisa membawa aku keluar dari rumah sakit. Asal kamu tahu, selama ini aku benar-benar sudah lelah terus berada di rumah sakit. Tapi aku juga tidak tahu harus pulang kemana, rumah peninggalan orang tuaku saja habis di jual untuk pengobatan"


Ini yang membuat Gevin merasa harus membantu Lolyta. Selain karena wanita itu pernah menjadi sosok yang begitu berarti dalam hidupnya. Gevin juga merasa tidak bisa membiarkan Lolyta menderita seorang diri. Karena sebenarnya, Lolyta tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada Gevin. Dia yang menghilang waktu itu hanya karena dirinya yang tidak mau merepotkan Gevin dengan penyakitnya itu.


"Kamu istirahat dulu yuk di kamar, kata Dokter kamu masih harus banyak istirahat"


Gevin menggendong Lolyta dan mendudukannya di atas kursi roda. Lalu dia membawa Lolyta ke kamarnya. Menggendong Lolyta lagi dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Istirahat ya, nanti aku bangunin pas waktunya makan malam"


"Iya Ly, sama-sama. Kalau begitu aku keluar sebentar ya"


Lolyta mengangguk, dia membiarkan Gevin keluar dari kamarnya. "Sebenarnya kenapa Zaina ada di Apartemennya Gevin"


#######


Gevin masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya yang sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah.


"Sayang, aku bisa jelasin tentang Lolyta. Semua ini usul dari Dokter, dia harus di bawa pulang ke rumah untuk menghindari stres karena terus berada di rumah sakit. Dan Lolyta juga tidak mempunyai tempat tinggal saat ini" jelas Gevin

__ADS_1


Zaina berdiri dan berbalik, menatap suaminya dengan datar. "Mas, kalau memang kamu ingin kembali dengan Lolyta, aku ikhlas Mas. Ceraikan saja aku, Mas"


Deg...


Gevin langsung menghampiri Zaina, meraih tangannya dan memegangnya. "Tidak! Aku tidak akan menceraikanmu, Za. Tolong jangan berbicara seperti itu"


"Mas, kamu terang-terangan membawa Lolyta ke sini. Itu apa artinya kalau kamu tidak ingin menikahi dia"


Gevin menggeleng cepat, dia hanya ingin membantu Lolyta. Dan tidak sama sekali terpikirkan tentang itu. "Sayang, aku hanya membantunya bukan untuk menikahinya. Aku juga tidak mungkin menceraikan kamu"


Zaina tersenyum dengan mendongakan wajahnya, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. "Ya, kamu memang tidak mungkin menceraikan aku, karena sandiwara pernikahan ini belum selesai"


"Sayang.."


Zaina melepaskan tangan Gevin yang menggenggamnya, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Gevin yang masih berdiri diam di tempatnya. Zaina mengusap air matanya yang mengalir di pipinya itu.


Sementara Gevin langsung menghapus air mata di ujung matanya. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan Zaina barusan, istrinya yang meminta dia untuk menceraikannya. Padahal sama sekali Gevin tidak ada niat untuk itu. Namun dia juga tidak bisa membiarkan Lolyta kembali menjalani hidupnya seorang diri. Apalagi di sisa hidupnya ini, Lolyta hanya ingin punya seseorang yang selalu menemaninya.


Gevin segera menyusul Zaina ke dapur, sudah pasti istrinya itu sedang menyiapkan makanan untuk makan malam. Gevin menatap Zaina yang sedang memotong sayuran di atas meja, namun istrinya itu hanya melirik dengan tajam pada Zaina.


"Sayang, aku bantu ya"


"Tidak perlu" jawab Zaina dingin


Gevin menghela nafas pelan, dia tahu jika saat ini istrinya masih sangat marah padanya. "Za, jangan seperti ini. Aku bisa jelasin tentang semua ini. Aku benar-benar hanya membantu Lolyta saja. Kamu harus lebih mengerti dong Za, masa kamu tega dengan orang sakit seperti Lolyta"


"Mas, aku tahu kalau Lolyta sedang sakit. Aku juga tidak melarang jika Mas mau berbuat baik dan menolongnya. Tapi pantaskah Mas bawa dia ke Apartemen kita, dan bahkan Mas tidak bilang padanya jika Mas sudah menikah denganku. Mas pikiran perasaan aku tidak?"

__ADS_1


"Me-menikah? Kalian sudah menikah?"


Bersambung


__ADS_2