
Sampai pagi ini semuanya sudah siap, Zaina sudah tinggal pulang. Hildan dan Vania ikut menjemput. Dengan dituntun oleh Ibu, Zaina berjalan keluar rumah sakit ini. Ceritanya adalah dia yang habis melahirkan, namun nyatanya tidak membawa bayinya untuk pulang. Benar-benar menyakitkan.
Sampai di rumah, Zaina menatap adik iparnya dan kedua adiknya menyambutnya dengan senyuman. Ada juga Papa Gara yang sengaja tidak datang ke Kantor lebih cepat karena ingin menyambut menantunya kembali.
Ada hal yang membuat Zaina terdiam karena dirinya yang tidak menemukan keberadaan suaminya. Dia bingung dan tidak mengerti apa yang sedang dipikrikan oleh suaminya sampai dia tidak mau menyambut kepulangannya.
"Dimana Kakak kamu Gen?" tanya Zaina pada adik iparnya itu.
Genara terdiam, dia juga kesal dengan kelakuan Kakak laki-lakinya itu. "Sudahlah Kak, tidak perlu menanyakan tentang itu ya. Kakak diam saja dan perlu memikirkan pria itu" ucap Genara dengan kesal.
Zaina terdiam mendengar itu, bingung dan juga sedih dengan keadaannya saat ini. Entah kenapa suaminya yang sampai tidak mau menemuinya. Apa mungkin memang dia tidak mau lagi melihat aku yang sudah mengecewakannya. Zaina menghela nafas pelan, memikirkan tentang suaminya yang bahkan tidak mau menemuinya di saat dia baru saja pulang dari rumah sakit.
Bunda membantu Zaina untuk pergi ke dalam kamarnya dan istirahat. Ketika Zaina berada di dalam kamar, dia duduk menyandar di atas tempat tidur dengan memikirkan suaminya. Bohong jika Zaina biasa saja dan sama sekali tidak memikirkan suaminya yang tidak mau bertemu dengannya. Mungkin memang suaminya tidak menginginkan untuk bertemu dengannya.
"Bunda, apa aku salah ya?"
Jenny menatapnya dengan helaan nafas pelan. Dia tahu apa yang sedang di rasakan oleh Zaina saat ini. Pastinya dia sangat sedih karena sikap suaminya ini. Namun apa Jenny juga tidak bisa menyalahkan Gevin, karena memang dirinya juga pasti sangat terpukul dengan semuanya.
Jenny mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Mungkin Gevin masih butuh waktu untuk menenangkan hatinya"
__ADS_1
Zain mendongak dan menatap Bundanya, dia juga bingung dengan keadaan semua ini. Sangat tidak mungkin dirinya tidak merasa bersalah jika sekarang suaminya malah meninggalkannya di saat dia pulang ke rumah. Zaina yang tidak bisa biasa saja dengan sikap suaminya ini. Dia tetap tidak bisa melihat suaminya yang terus menghindar tanpa memberikan alasan yang jelas padanya.
"Bunda, aku juga tidak ingin semua ini terjadi, aku juga bingung dengan semua ini. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Mas Gevin tidak lagi marah?" ucap Zaina dengan suara bergetar.
"Sudah jangan memikirkan tentang itu, kamu harus tetap baik-baik saja. Jangan banyak pikiran karena sekarang kamu juga harus memikirkan tentang kesehatan kamu dulu" ucap Jenny dengan lembut.
Zaina hanya diam, tidak menjawab apapun lagi karena apa yang dia lakukan hanya untuk membuat suaminya tidak marah lagi padanya dengan semua ini.
#######
Malam hari Gevin pulang, dia melihat keluarganya yang masih berada di rumahnya. Sebenarnya Gevin sengaja pulang bekerja dengan sengaja pulang agak malam. Hanya karena ingin menghindari istrinya. Entahlah, tapi Gevin merasa jika dirinya sangat merasa bersalah ketika melihat keadaan Zaina. Apalagi ketika dia ingat dia yang tahu bagaimana keadaan Zaina yang sebenarnya. Namun dia belum memberikan tahukan tentang itu.
"Gevin, Papa ingin bicara. Ikut Papa sekarang"
Gevin dan Papa Gara duduk saling berhadapan di ruang kerja itu. Papa Gara menghela nafas pelan. "Vin, sebenarnya kamu kenapa? Kenapa harus melakukan ini pada istrimu. Dengan kejadian ini Zaina sudah sangat terpukul, bagaimana perasaan dia semakin hancur ketika suaminya sendiri malah menghindar darinya"
Gevin menghela nafas pelan, dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Pa, aku hanya bingung dan tidak mengerti bagaimana aku harus bersikap di depan Zaina. Aku yang salah Pa, aku yang salah karena tidak bisa menjaga dia dan kehamilannya"
"Gevin, tidak ada yang mengharapkan semua ini terjadi. Tidak ada yang menginginkan anaknya meninggal. Semua orang tua pasti ingin anaknya sehat dan yang terbaik untuk anaknya. Namun, semuanya hanya sebuah keinginan dan harapan yang hanya Tuhan yang bisa mewujudkan smeuanya" ucap Papa Gara.
__ADS_1
Mendengar itu, Gevin hanya menunduk diam. Mungkin dirinya memang terpukul dengan keadaan ini. Tapi tidak seharusnya juga harus bersikap seperti ini pada istrinya yang juga sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Sekarang, kau temui istrimu dan berbicarlah dengannya" ucap Papa, dia berdiri dan berlalu keluar dari ruang kerja.
Akhirnya Gevin berlalu ke kamarnya, masuk ke dalam kamar dengan pelan. Dia menatap istrinya yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Zaina melirik suaminya, namun dia tidak bicara sepatah kata pun. Karena memang dirinya tidak mau mengganggu suaminya yang sedang ingin menghindar darinya. Maka Zaina juga tidak akan membuat suaminya terganggu olehnya.
Gevin segera berlalu ke kamar mandi, dia harus menenangkan diri dulu untuk berbicara dengan istrinya itu.
Selesai mandi, Gevin kembali keluar dari ruang ganti. Menatap Zaina yang masih diam dengan posisinya itu. Tidak tahu juga harus memulai pembicaraan darimana. Tapi memang dia harus memulai pembicaraan dengan istrinya itu.
"Sayang, aku..." Tiba-tiba saja dirinya merasa sangat sulit untuk bicaara. Semua kata yang ingin dia ucapkan seolah langsung tercekat dalam tenggorokannya.
"Mas, kalau memang kamu tidak bisa menerima semuanya. Maka aku ikhlas jika kamu akan melepaskan aku" ucap Zaina tiba-tiba, membuat Gevin terkejut saja.
"Tidak Sayang, bukan seperti itu maksudku. Aku tidak akan pernah mau meninggalkan kamu atau pun melepaskanmu" ucap Gevin.
Zaina menoleh, matanya sudah berkaca-kaca melihat suaminya. Hatinya benar-benar sakit melihat suaminya yang bahkan malah menghindarinya karena semua ini.
"Mas, aku tahu kalau aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Bahkan aku saja tidak bisa menjaga anak kita. Tapi aku juga tidak mau semua ini terjadi. Kalau memang kamu ingin melepaskan aku, maka aku akan menurutinya Mas. Aku tahu kamu sangat kecewa dengan semua ini. Tapi semua ini juga bukan keinginanku" ucap Zaina dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Gevin langsung menggeleng cepat, tentu saja dia tidak mau jika sampai istrinya akan berniat pergi darinya. "Bukan begitu Sayang, aku minta maaf karena aku telah menjadi suami yang terlalu lemah untuk kamu. Ya, aku memang sengaja menghindar dari kamu. Bukan karena aku yang marah padamu atau apapun itu. Tapi semuanya karena memang aku sangat merasa bersalah ketika aku melihatmu. Bahkan aku tidak bisa melihat kamu yang seperti ini. Aku sangat merasa bersalah"
Bersambung