Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Tertangkap Juga


__ADS_3

Tidak bisa lagi menghindar dari siapapun, entah Aldo bisa melepaskan diri dari pihak kepolisian atau tidak. Tapi sepertinya sudah tidak ada waktu lagi untuk menghindar. Lihatlah dia yang sekarang sudah tidak mempunyai pelarian.


Hanya bisa bingung dengan segala yang konsekuensi yang telah dirinya lakukan. Sekarang malah Aldo yang tidak bisa melakukan apapun, Aldo yang sekarang hanya bisa pasrah untuk semua kisah hidupnya kali ini.


Dan siang ini dirinya sudah tidak bisa berlari kemana pun. Hidupnya telah benar-benar hancur karena ulahnya sendiri. Ketika dia tidak tahu harus melakukan apa, ternyata polisi sudah terlanjur menemukannya.


Hingga tidak ada lagi waktu untuk mengelak. Bahkan Aldo yang sudah tidak mempunyai waktu untuk menyelamatkan dirinya saat ini. Bagaimana dia yang sekarang sudah menjadi seorang tahanan. Hidupnya berakhir di dalam jeruji besi.


Sementara di rumah Gevin, Zaina baru saja bisa tenang ketika melihat adik iparnya yang sekarang sudah terlelap. Menatap Genara dengan perasaan bersalah, karena memang dirinya yang waktu itu sedikit memaksa Aldo untuk menerima cinta Genara. Karena dia kira tidak akan seperti ini akhirnya.


Seandainya saja waktu itu Genara tidak berpacaran dengan Aldo, mungkin perasaan terlukanya hanya saat waktu itu saja. Dimana dirinya yang hanya terluka karena di tolak cinta. Sementara sekarang, dia lebih terluka lagi karena hidupnya yang harus hancur dengan kenyataan jika kekasihnya itu malah mencintai Kakak iparnya sendiri.


"Sayang, Genara tidurkah?" tanya Gevin yang menghampiri istrinya.


Zaina menoleh pada suaminya, lalu dia mengangguk dan tersenyum padanya. "Dia sudah tidur setelah menangis sejak tadi. Aku jadi merasa bersalah Mas, kalau saja dulu aku tidak meminta Aldo untuk menerima Genara. Mungkin sekarang tidak akan sampai seperti ini"


Gevin merangkul bahu istrinya, tentu saja dia juga merasa bersalah karena pernah menekan Aldo untuk bisa menerima Genara. Saat itu memang mereka tidak  menyangka jika Aldo seperti ini. Sementara sosoknya yang mereka lihat adalah sosok yang sangat sopan, ramah dan begitu baik.


"Semuanya sudah terjadi, tidak perlu ada penyesalan lagi" ucap Gevin.


Zaina hanya mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Tentu saja dia juga merasa sangat bersalah, tapi mau bagaimana lagi karena semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang bisa dihindari lagi.


"Yaudah Mas, ayo keluar. Biarkan Genara tidur dengan nyaman" ucap Zaina.

__ADS_1


Gevin mengangguk dan mereka pun langsung keluar dari kamar yang ditempati oleh Genara. Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar dan duduk di sofa dengan Gevin yang sedang menerima telepon.


"Siapa yang telepon Ma?" tanya Zaina ketika suaminya sudah selesai menelepon dan sudah meletakan kembali ponselnya di atas meja.


"Pihak kepolisian, mereka sudah menangkap Aldo dan sekarang dia sudah berada di penjara. Aku diminta datang untuk menjelaskan semua kejadian waktu itu" ucap Gevin.


Zaina mengangguk, dia membantu suaminya bangun dan segera bersiap untuk pergi ke kantor polisi. Kondisi Gevin memang sudah membaik, tapi tangan kirinya masih belum bisa banyak bergerak. Masih harus menggunakan gifs.


"Aku antar ya Mas" ucap Zaina yang di angguki oleh suaminya.


Zaina segera bersiap untuk menemani suaminya. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya pergi sendirian dengan keadaan tangannya yang masih belum benar-benar pulih. Zaina tidak mau kalau sampai suaminya kenapa-napa. Kecelakaan yang terjadi pada Gevin, membuat Zaina sedikit takut dan trauma hal itu akan terjadi lagi.


"Mbak, aku titip Genara ya. Sekarang kami akan pergi ke Kantor polisi" ucap Zaina pada Mbak pelayan di rumahnya.


"Baik Nona, hati-hati ya"


"Tenang Sayang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu gak usah khawatir. Aldo pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu" ucap Gevin sambil menggenggam tangan Zaina.


Zaina menghembuskan nafas kasar, dia mengangguk sambil tersenyum pada suaminya. "Semoga ya Mas, aku juga ingin Aldo itu bisa mendapatkan hukuman yang nantinya akan membuatnya jera saja. Dia sudah melakukan tindak kriminal, jadi harus menerima segala konsekuensi dari perbuatannya"


Gevin mengangguk, dia merasa memang harus seperti itu. Dia meraih kepala Zaina dan membawanya ke dalam pelukan. Sangat ingin Zaina bisa tenang dengan semua ini. Jangan sampai istrinya terus kepikiran dan malah sakit. Hal yang paling tidak mau Gevin lakukan.


"Sayang, bukannya kamu ingin memberikan aku hadiah? Kenapa sampai saat ini belum juga memberikan hadiahnya. Padahal aku sudah sembuh dan sudah kembali ke rumah" ucap Gevin sambil mengelus kepala istrinya.

__ADS_1


Zaina tersenyum dalam pelukan suaminya itu. Memang dia harus segera memberikan hadiah itu pada suaminya. Tapi Zaina belum menemukan waktu yang cepat. Dia belum menemukan waktu yang pas untuk itu.


"Nanti akan segera aku berikan hadiahnya padamu, Mas" ucap Zaina.


Gevin hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Meski dia sangat penasaran dengan apa yang akan diberikan oleh istrinya sebagai hadiah itu. Gevin merasa jika hadiah kali ini memang sebuah hal yang sepesial.


Ketika mereka sudah sampai di Kantor polisi, Gevin segera turun dan membawa istrinya masuk ke dalam Kantor polisi.  Mereka langsung di bawa ke sebuah ruangan seorang polisi yang memang menangani kasus mereka sejak awal. Sekarang dia harus memberikan keterangan tentang kejadian kecelakaan yang menimpanya itu.


Gevin terus menjelaskan semua yang dia ingat. Sampai rekaman video itu pun sudah sampai di tangan polisi dan sudah cukup menjadi bukti kuat jika Aldo memang bersalah atas hal ini. Dengan sengaja membuat seseorang celaka.


"Baik, terima kasih atas kerjasamanya. Kami akan mengabari lagi, proses sidang penjatuhan hukuman akan dilakukan minggu depan. Mohon tunggu kabar dari kami saja" ucap Pak Polisi dengan menjabat tangan Gevin.


"Baik Pak, kami akan menunggu kabar baiknya" ucap Gevin.


Mereka pun keluar dari Kantor polisi itu dengan perasaan lega. Setidaknya sekarang mereka sudah bisa lebih tenang lagi saat Aldo yang sekarang sudah tertangkap. Di dalam perjalanan, Zaina melihat tukang rujak di pinggir jalan, membuat dia merasa ingin memakan makanan itu.


"Pak berhenti di yang jualan rujak itu, aku mau beli" ucap Zaina pada supir.


"Baik Nona"


Gevin langsung menatap ke arah istrinya, tidak biasanya Zaina membeli makanan di pinggir jalan seperti itu. Bukan berarti dia tidak pernah makan makanan di pinggir jalan, hanya saja selama ini dirinya tidak pernah berhenti tiba-tiba seperti ini hanya untuk bisa membeli rujak.


"Sayang, tumben sekali kamu membeli rujak"

__ADS_1


"Lagi pengen aja"


Bersambung


__ADS_2