Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Kecemasan Gevin


__ADS_3

Gevin benar-benar tak karuan ketika dia sudah sampai dia rumah sakit. Terus menggenggam tangan istrinya, dia sangat gugup untuk menemani istrinya melakukan pemeriksaan untuk pertama kalinya. Bagaimana Gevin yang harus benar-benar menyiapkan hatinya untuk itu.


"Mas, kenapa tanganmu dingin begini?" tanya Zaina heran


Gevin menoleh dan tersenyum pada istrinya itu. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa setegang ini. Namun untuk menemani pemeriksaan istrinya ini.


"Sayang, aku hanya sedang gugup saja. Pertama kali mengantar kamu periksa kandungan"


Zaina malah tertawa kecil mendengar itu, jelas saja dia juga tidak pernah menyangka jika suaminya akan segugup ini hanya untuk melakukan pemeriksaan yang biasa di lakukan setiap bulannya.


"Kamu ini ada-ada saja Mas, padahal aku saja biasa saja loh"


Masuk ke dalam ruangan Dokter kandungan dan Gevin langsung membantu istrinya untuk naik ke atas ranjang pmeriksaan. Gevin selalu berdiri di samping istrinya, dia menggenggam tangan istrinya dengan lembut dengan sesekali mengecupnya.


Dokter juga mulai melakukan pemeriksaan. Menaruh gel di perut Zaina sebelum menempelkan alat yang akan terhubung ke monitor.


"Apa ada keluhan akhir-akhir ini? Wah, akhirnya suaminya datang juga ya?" ucap Dokter


"Tidak ada Dok, hanya sesekali masih merasa mual saja"


Dokter mengangguk mengerti, dia mulai menaruh alat di perut Zaina dan menggerakannya. Menatap ke arah monitor untuk melihat perkembangan bayi saat ini. Namun sepertinya Dokter melihat sedikit kejanggalan.


"Apa anda pernah mengalami kram perut? Sepertinya saat ini anda terlalu banyak pikiran dan tekanan, hingga cukup berpengaruh juga pada kehamilan anda" jelas Dokter


Zaina langsung merasa bingung dan takut jika anaknya akan kenapa-napa saat ini. "Tidak pernah Dok, saya tidak pernah merasakan kram perut. Apa bayinya baik-baik saja?"

__ADS_1


"Untuk saat ini masih terlihat baik-baik saja asalkan anda bisa kelola stres anda dan jangan lagi terlalu banyak pikiran. Kegiatannya juga di kurangi, karena faktor kelelahan juga dapat berpengaruh pada kehamilan"


Gevin hanya terdiam mendengar penjelasan Dokter barusan. Dia juga tahu bagaimana istrinya yang seperti ini juga pastinya karena dia yang menyebabkan Zaina jadi banyak berpikir.


"Anda juga memiliki HB yang cukup rendah, hingga harus di tambah lagi vitamin dan obat penambah darahnya"


Zaina hanya mengangguk dan menuruti saja. Karena memang dia juga tidak mau membuat anaknya kenapa-napa. Gevin membantu Zaina turun dari atas ranjang pemeriksaan, dia menuntun istrinya itu ke arah meja kerja Dokter. Setelah mendengar semua penjelasan Dokter, keduanya langsung pulang.


Di dalam perjalanan, keduanya masih diam membisu. Gevin masih memikirkan ucapan Dokter tadi, bahkan dia tidak berbicara apapun saat di dalam ruangan pemeriksaan. Semuanya karena memang Gevin yang sudah gugup sejak dia masuk ke dalam ruangan itu. Ditambah lagi dengan dirinya yang harus mendengar jika kandungan istrinya cukup bermasalah. Meski bukan sesuatu masalah yang besar. Tapi dia tetap harus waspada dan lebih ketat lagi menjaga istrinya.


"Sayang, pokoknya kamu harus mendengarkan semua kata Dokter. Jangan banyak membantahnya" ucap Gevin setelah sejak tadi hanya membisu.


Zaina menoleh dan tersenyum pada suaminya, dia tahu kalau terdiamnya Gevin sejak tadi karena memang dia sedang memikirkan tentang keadaannya sekarang dan juga bayinya ini.


Gevin menghembuskan nafas pelan, dia juga tidak bisa membohongi hatinya yang memang benar-benar cemas sekali. Apalagi saat ini adalah hari pertama dia mengantar istrinya periksa, tapi harus mendapatkan kabar seperti ini. Meski memang keadaannya tidak separah itu, tapi tetap saja membuat Gevin sangat bingung dan takut jika Zaina dan bayinya akan kenapa-napa.


"Pokoknya kamu harus benar-benar menjaga diri baik-baik. Jangan banyak melakukan kegiatan apapun karena nantinya kamu akan membuat bayi kita terancam. Kamu harus banyak istirahat Sayang, dengar sendiri 'kan apa kata Dokter tadi. Jika kamu tidak boleh kecapean" ucap Gevin


"Iya Mas, iya. Lagian apa juga yang akan aku lakukan saat ini. Kamu juga sudah menyewakan pelayan untuk aku, semua pekerjaan rumah juga di urus oleh pelayan sekarang. Jadi, aku hanya diam dan akan banyak istirahat"


Gevin mengantarkan istrinya ke rumah sebelum dia kembali ke Kantor. Mengecup kening Zaina sebelum istrinya itu turun dan masuk ke dalam rumah. Dan Gevin kembali melajuakan mobilnya menuju perusahaan.


########


Zaina duduk di depan televisi di ruang tengah rumah ini. Dengan sepiring buah-buahan yang sudah di potong-potong di atas meja. Sesekali mulutnya mengunyah sambil menatap drama yang sedang dia tonton saat ini.

__ADS_1


Sampai pukul 7 malam, Gevin baru saja sampai di rumahnya. Dia sedang banyak pekerjaan sehingga dia tidak bisa pulang lebih cepat. Gevin langsung menghampiri istrinya, mengecup keningnya sebelum dia duduk di samping Zaina.


"Mas capek banget ya, baru pulang jam segini. Mau aku siapkan air untuk mandi?'


Gevin menggeleng pelan, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Kamu diam saja, aku tidak mau membuat kamu kelelahan"


"Mas ayolah, hanya menyiapkan air untuk kamu mandi tidak akan membuat aku kelelahan. Lagian seharian ini aku benar-benar tidak melakukan apapun, semuanya di kerjakan oleh Mbak" ucap Zaina


Gevin tetap menggeleng, dia benar-benar tidak mau ambil resiko. Gevin sama sekali tidak mau sampai istri dan calon anaknya akan kenapa-napa.  Jadi dia benar-benar harus menjaga Zaina dengan baik.


"Aku bisa siapkan sendiri, kamu duduk saja disini. Nanti kita makan malam bersama, Mbak masak?" tanya Gevin


Zaina mengangguk, dia menatap suaminya yang berlalu begitu saja ke dalam kamarnya. Dia juga tidak tahu harus melakukan apa, karena saat ini suaminya benar-benar sedang paranoid sekali setelah pemeriksaan tadi siang. Padahal kondisinya juga tidak seburuk yang di pikirkan oleh Gevin. Dokter pun sudah menjelaskannya.


Akhirnya sebelum Gevin selesai mandi, Zaina segera menyiapkan makan malam untuk dirinya dan suaminya. Yang memasak hari ini memang Mbak pelayan, tapi dia juga sedikit membantu.


"Sayang, duduk ih. Ngapain pake bantuin siapkan makan malam, kan ada Mbak" ucap Gevin yang baru saja datang ke ruang makan dan melihat istrinya sedang mengangkat nasi dan menaruhnya di atas meja makan.


"Gak papa Mas, hanya bantu seperti ini saja tidak akan membuat aku kecapean" ucap Zaina yang langsung duduk di samping Gevin.


Sementara Mbak pelayan juga merasa bingung kenapa Gevin harus bersikap seperti itu. Padahal sebelum dia tinggal di rumah ini, Zaina memang sudah terbiasa membantunya di dapur. Apalagi pada awalnya Zaina yang tidak pernah mau untuk ada pelayan di rumah ini, dia malah lebih senang sendiri dan mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.


"Yaudah, sekarang biar aku ambilkan makanannya. Sudah dong jangan cemberut gitu. Aku tidak pap, Mas" ucap Zaina yang langsung mengambilkan makanan untuk suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2