
Sarapan pagi ini begitu hening, Zaina yang sedang malas untuk banyak berbicara karena takut salah. Dan Gevin yang sejak tadi hanya memperhatikan Lolyta dengan memberikan makanan yang baik.
"Ini tidak pedas 'kan Za?" tanya Gevin sambil menunjuk tumis jagung dan sayuran di depannya.
"Aku pake cabe, kan kamu suka pedas kalau aku masak tumis itu"
"Sekarang 'kan beda lagi Za, ada Lolyta. Kalau kamu masak makanan yang pedas, pastinya tidak bisa di makan oleh Lolyta"
Zaina menjatuhkan sendok hingga jatuh ke atas piring dengan suara yang berdenting. "Yaudah makan yang tidak pedas saja, aku lupa karena malah pakai cabe tadi"
"Vin sudah, jangan mempermasalahkan ini. Lagian aku bisa makan yang lainnya"
"Tapi 'kan seharusnya kamu banyak makan sayuran, biar sehat" ucap Gevin, dia hanya ingin melihat Lolyta tetap sehat dan bisa menjalani aktivitasnya kembali.
Zaina tidak banyak bicara lagi, dia menyelesaikan makannya dan segera pergi dari sana. "Aku berangkat dulu, Mas. Tidak usah di antar, aku sudah pesan taksi online. Lolyta, aku pergi dulu ya"
Gevin langsung terdiam melihat wajah Zaina yang terlihat sedih. Dia sepertinya tidak sadar telah terlalu keras pada istrinya itu. "Za, aku bisa antar kamu. Tunggu sebentar saja, sampai perawat Lolyta datang"
"Tidak usah Mas, aku sudah pesan taksi online kok. Lagian anak-anak sebentar lagi masuk, aku takut terlambat" Ucap Zaina berusaha untuk biasa saja dan tersenyum.
Gevin menghela nafas pelan, kelemahan dia adalah disini. Selalu berucap seenaknya hingga tidak sadar jika dia sudah membuat Zaina sedih. Padahal Zaina sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
"Vin, lain kali jangan seperti itu sama Zaina. Kasihan dia, lagian dia yang sudah masak untuk kita semua. Aku jadi tidak enak sama dia"
Gevin mengangguk, dia juga baru sadar jika dia sudah berkata cukup kasar pada istrinya. Pasti sekarang Zaina sedang benar-benar kesal padanya.
"Yaudah, nanti kalau sudah datang perawatnya, aku akan langsung berangkat ke Kantor. Lagian kenapa dia datang siang sekali si, biasanya juga suka pagi-pagi"
Lolyta menatap Gevin, dia tersenyum saat masih merasakan perhatian dari pria yang masih menjadi pemilik hatinya ini. Meski mungkin sekarang bukan hanya dia yang ada di dalam hati suaminya, namun Lolyta tetap bersyukur karena masih bisa merasakan menjadi istri dari pria yang dia cintai selama ini.
__ADS_1
"Kamu pergi saja, aku bisa sendiri kok disini. Sebentar lagi Suster datang, kamu tenang saja aku tidak akan kenapa-napa"
Gevin menatap Lolyta dengan tatapan yang lembut. "Beneran tidak papa? Aku memang ada meeting si pagi ini"
Lolyta mengangguk pelan, dia tidak mau menjadi penghalang segala kegiatan Gevin karena dirinya yang sakit. "Aku baik-baik saja, kamu tenang ya. Aku bisa kok disini, lagian palingan Suster akan segera datang sebentar lagi"
Akhirnya Gevin mengangguk, dia segera bersiap dan pergi bekerja.
########
Siang menjelang sore, Zaina sudah selesai dengan jadwal mengajarnya. Zaina mencoba menghubungi Gevin, namun tidak bisa. Entah memang Gevin sedang banyak pekerjaan.
"Aduh, hari sudah sore lagi"
Zaina mendongak, menatap langit yang sudah menggelap. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Zaina mulai mengotak-ngatik ponselnya, dia harus segera pulang dan memesan taksi online. Namun tidak mendapatkan satu pun taksi online yang kosong.
Setelah selesai membayar semua belanjaannya itu. Dia langsung keluar dari Supermarket itu, dan ternyata hujan sudah turun dengan deras. Zaina duduk di kursi yang berada di depan Supermarket itu. Menatap arloji di tangannya, sudah hampir petang dan Zaina harus segera pulang.
Dia ingin memesan taksi, namun ponselnya ternyata mati karena semalam dia lupa untuk mengisi baterai. Zaina menghembuskan nafas kasar, hingga mau tidak mau dia harus menunggu sampai hujan reda dan berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi yang lewat.
Namun satu jam berlalu, hujan malah semakin deras. Membuat Zaina memutuskan untuk pergi menembus hujan, karena dia tidak mungkin terus menunggu sementara hari yang sudah mulai gelap.
Menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya, Zaina langsung masuk ke dalam taksi dengan keadaan tubuh yang basah kuyup. Dia memeluk dirinya sendiri yang terasa sangat dingin hingga menusuk ke tulang. Bibirnya mulai menggigil dengan warna yang pucat. Hujan deras membuat tubuh Zaina benar-benar basah kuyup.
"Habis darimana Neng? Kok hujan-hujanan?" tanya si supir taksi, mencoba untuk mencairkan suasana yang hening di dalam mobilnya.
"Habis belanja Pak, malah kecegat hujan" jawab Zaina dengan bibir yang bergetar
"Di belakang ada jaket Neng, punya anak saya. Boleh Neng pake dulu biar tidak terlalu dingin. Jaketnya bersih kok"
__ADS_1
Zaina menoleh ke belakang kursi yang dia duduki. Dia melihat jaket laki-laki berwarna hitam disana. "Tidak usah Pak, itu 'kan punya anak Bapak. Nanti malah basah lagi"
"Tidak papa Neng, anak saya sudah meninggal karena kecelakaan. Jaketnya masih berada di taksi saya ini, karena terakhir kali dia naik taksi saya sebelum kecelakaan itu terjadi"
Zaina jadi merasa tidak enak dengan ucapan Pak supir barusan. "Maaf Pak, saya tidak tahu. Bapak yang sabar ya"
"Tidak papa Neng, lebih baik kamu pakai jaket itu biar gak terlalu kedinginan"
Zaina mengangguk, dia takut membuat Pak supir sedih karena niat baiknya di tolak oleh Zaina. Jadi dia mengambil jaket itu dan memakainya, masih tercium bau parfum pria di jaket itu.
"Terima kasih Pak"
Tiga puluh menit kemudian, Zaina telah sampai di depan kawasan Apartemennya. Dia membayar taksi itu dan berniat untuk membuka kembali jaket yang dia pakai itu.
"Tidak usah di buka, Neng. Diluar juga masih hujan, nanti Neng akan kehujanan lagi. Pakai saja, jaketnya untuk Neng saja"
Zaina terdiam beberapa saat, lalu dia mengangguk. Zaina mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah pada Pak supir.
"Saya pake jaketnya, tapi Bapak tolong terima uang ini ya. Itung-itung saya membeli lagi jaket anak Bapak ini. Terima kasih ya Pak untuk jaketnya"
Pak Supir yang awalnya tidak mau menerima uang dari Zaina, merasa tidak enak juga ketika Zaina mengucapkan itu. Akhirnya dia menerima uang dari Zaina itu.
"Iya Neng, terima kasih ya"
"Iya Pak"
Zaina langsung turun dengan dua kantong plastik di tangannya. Menembus hujan yang masih belum berhenti. Beruntung karena ada orang baik yang memberikan jaket ini pada Zaina. Masuk ke dalam lift dengan tubuh yang mulai menggigil.
Bersambung
__ADS_1