
Gevin kembali ke Apartemen dengan wajah yang lesu, dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan pada Zaina tentang dia yang sudah menemukan Lolyta dengan keadaannya yang memprihatinkan.
Ketika dia masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Zaina yang sudah terlelap di atas tempat tidur. Wajar saja karena Gevin yang pulang terlalu malam. Gevin menghampiri istrinya, duduk di pinggir tempat tidur, membenarkan selimut yang menutupi tubuh Zaina. Mengelus kepala Zaina dengan lembut.
"Maaf ya karena aku pulang malam" gumamnya pelan, dia mengecup kening Zaina sebelum berlalu ke kamar mandi.
Kedua mata Zaina langsung terbuka saat dia mendengar suara pintu ruang ganti yang tertutup. Zaina menghela nafas pelan, entah harus bagaimana dia bersikap pada suaminya besok pagi. Benar-benar tidak bisa untuk tenang, meski dia mencoba untuk tidak memikirkan tentang Gevin dan Lolyta. Namun Zaina tetap tidak bisa untuk melupakan itu.
"Loh Za, kamu kebangun ya?"
Zaina menoleh pada Gevin yang baru saja keluar dari ruang ganti. Wajahnya terlihat sangat segar dengan rambut yang masih basah. Penampilan Gevin yang habis mandi seperti ini yang membuat Zaina sangat menyukainya. Gevin terlihat sangat tampan dengan penampilannya yang seperti itu.
"Kamu mandi, Mas? Ini padahal sudah malam"
Gevin tersenyum, dia menghampiri Zaina dan memeluknya. Mengecup pipinya dengan bibir dinginnya. Tentu saja hal itu membuat Zaina mematung, dia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya yang tidak beraturan itu.
"Mas, ka-kamu apaan si basah tahu kena baju aku"
Gevin melepaskan pelukannya, dia menatap Zaina dengan helaan nafas pelan. Tentu saja saat ini dia sedang memikirkan caranya untuk bercerita tentang Lolyta padanya.
"Za, ada yang ingin aku ceritakan padamu"
Zaina terdiam mendengar itu, dia sudah tahu apa yang ingin diceritakan oleh suaminya ini. Tentu saja tentang dia dan Lolyta. Apa mungkin Gevin akan menikahi Lolyta juga? Gumamnya dalam hati.
"Sebenarnya aku sudah bertemu dengan..."
Hoaamm.. Sengaja Zaina pura-pura menguap. Dia belum siap mendengar apapun dulu untuk saat ini tentang suamianya dan mantan istrinya itu.
"Besok lagi aja ya Mas, aku mau tidur dulu. Ngantuk banget"
__ADS_1
Gevin mengelus kepala istrinya sambil tersenyum. Semakin hari Gevin semakin merasakan perasaan sayangnya pada Zaina semakin besar. "Yaudah tidur dulu saja, biar besok aku ceritanya"
Zaina menahan tangan Gevin yang sudah berdiri, pastinya Gevin akan ke sofa untuk tidur disana. "Mas, dalam syarat yang aku ajukan padamu apa boleh di tambah?"
Gevin menatap Zaina dengan wajah bingung, namun dia mengangguk dan mengiyakan ucapan Zaina. Syarat yang sebenarnya sudah tidak berguna lagi bagi Gevin saat ini. Karena ternyata dia bisa sayang pada Zaina secepat ini.
"Aku mau, kita juga tidur di ranjang yang sama. Apa bisa?"
Zaina hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Gevin dengan kebahagiaan. Mencoba untuk menjalani kehidupan suami istri yang sebenarnya, meski dia tidak mungkin mendapatkan hak bathin dari Gevin. Karena pria itu jelas sudah mengatakan jika dia tidak akan pernah memberikan hak bathin untuk Zaina. Tapi setidaknya dia bisa menjalani hari-harinya sebagai suami istri yang sesungguhnya.
Gevin tersenyum, dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping istirnya. Merentangkan tangannya untuk Zaina masuk ke dalam pelukannya.
"Sini biar aku peluk, tidur kamu akan semakin nyenyak jika di peluk olehku"
Zaina tersenyum, dia mengusap sudut matanya yang sudah berair. Sangat terharu karena akhirnya dia bisa tidur dalam pelukan suaminya, pria yang dia cintai selama ini. Zaina langsung memeluk Gevin, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Zaina langsung mendongak ketika mendengar panggilan sayang Gevin padanya. "Mas, kamu panggil aku Sayang?"
Cup..
Gevin mengecup hidung mancung istrinya, gemas juga dengan ekspresi terkejut Zaina hanya karena Gevin memanggilnya sayang. "Sekarang kamu adalah istriku Za, jadi aku akan merubah panggilanku. Di depan Ibu dan Papa saja, kamu terlihat biasa saja saat aku memanggil kamu sayang"
Zaina mengangguk, dia kembali menyandarkan kepalanya di dada Gevin. Dia tidak perlu merasa senang dengan panggilan sayang itu, karena Gevin melakukan ini hanya untuk membuat sandiwara mereka semakin baik di depan orang tuanya.
Ingat Zaina, bukan karena dia memang benar-benar sayang padamu. DIa hanya sedang memperbaiki sandiwaranya.
Lagi-lagi Zaina harus di sadarkan oleh kenyataan jika dirinya tidak mungkin menjadi wanita yang di cintai oleh Gevin. Karena selamanya yang ada dalam hati Gevin hanya Lolyta, bukan Zaina.
########
__ADS_1
Pagi ini Zaina sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tidurnya benar-benar nyenyak dalam pelukan suaminya. Zaina senang bisa tidur satu ranjang dengan suaminya mulai saat ini.
Gevin yang baru bangun tidur juga merasakan kenyamanan baru dalam tidurnya. Dia duduk menyandar di atas tempat tidur. "Sepertinya memang aku sudah benar-benar mencintai Zaina"
Gevin turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan pagi ini. Gevin langsung memeluknya dari belakang, mengecup bahunya dengan lembut.
"Sudah bangun Mas, kok belum mandi si"
"Aku berangkat agak siang, kamu ke sekolah lagi sekarang?"
Zaina mengangguk, dia mengambil wadah dan memindahkan nasi goreng yang dia buat ke atas mangkuk besar itu. "Lepas dulu Mas, aku mau menyimpan ini. Kamu sarapan dulu"
Gevin mengecup pipi Zaina sebelum dia melepaskan pelukannya. Dia duduk di kursi meja makan, lalu melihat Zaina yang sedang mengambilkan nasi goreng dan telur mata sapi untuk suaminya.
"Sarapan dulu, aku mau ganti baju dulu"
Zaina berlalu ke kamar untuk ganti baju untuk pergi bekerja. Dia sudah mandi tadi pagi. Zaina menghela nafas pelan, dia bingung harus bagaimana menghadapi Gevin jika suaminya itu benar-benar menceritakan tentang Lolyta. Zaina tidak tahu harus bagaimana bersikap jika hal itu terjadi.
"Aku tidak yakin bisa bersikap biasa saja, aku terluka dan aku cemburu jika Gevin benar-benar akan menikahi Lolyta. Meski aku sadar jika mereka yang saling mencintai"
Zaina keluar kamar setelah selesai bersiap, dia menatap Gevin yang masih menyelesaikan sarapannya. Zaina menghampirinya dan duduk di samping suaminya itu.
"Mandi dulu Mas, aku harus berangkat sebentar lagi. Kalau kamu tidak sempat untuk mengantarkan aku, biarkan aku pesan ojek online saja"
Gevin langsung menyelesaikan makannya, dia menatap Zaina yang baru saja memulai sarapannya. "Tunggu saja, pasti keburu kok"
Gevin segera berlalu ke dalam kamar untuk bersiap. Dia tidak mungkin membiarkan Zaina pergi sendiri. Saatnya untuk Gevin menunjukan perhatiannya pada Zaina sebagai seorang suami.
Bersambung
__ADS_1