Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Tentang Jaket?!


__ADS_3

Gevin masuk ke dalam kamar dan melihat Zaina yang seperti sedang kebingung, tangannya memegang ponsel yang dia tempelkan di telinga kananya.


"Jangan Dek, tidak usah kamu beritahu Daddy apalagi Bunda. Kakak cuma sakit demam saja"


Gevin berjalan dan menanyakan tanpa suara siapa yang menelepon pada Zaina. Haiden, jawaban Zaina juga tanpa suara. Gevin mengangguk, dia kembali naik ke atas tempat tidur dan memeluk Zaina.


"Mas, ihh apa si lepas" kata Zaina dengan menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Biarin saja, memangnya tidak boleh kalau peluk istri sendiri" jawab Gevin santai dengan mengeratkan pelukannya. Menyandarkan kepalanya di dada Zaina yang terasa hangat dan empuk. Zaina hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan suaminya ini. Nyatanya dia tidak bisa marah terlalu lama pada Gevin, karena Zaina juga merindukan pelukan hangat Gevin ini.


Zaina kembali menempelkan ponselnya di telinga. "Hallo Dek, sudah dulu ya Kakak mau istirahat ini. Awas kalau sampai kamu kasih tahu Bunda"


"Iya Kak, tapi aku tidak janji ya"


"Haiden!"


Zaina menatap ponselnya yang sudah mati dengan kesal. Adik bungsunya ini memang paling menyebalkan, tapi meski begitu Zaina tetap menyayanginya.


"Kenapa Sayang, kok teriak-teriak begitu"


"Haiden nih, ngeselin banget deh tuh anak"


Gevin tersenyum melihat wajah cemberut Zaina yang kesalĀ  pada adiknya itu. Gevin mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Yaudah Sayang, biarin aja namanya juga anak remaja"


Zaina menghembuskan nafas pean, dia menaruh ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Lalu, dia membaringkan tubuhnya di samping Gevin.


"Sini peluk biar cepat sembuh" Gevin menepuk dadanya sendiri untuk Zaina masuk ke dalam pelukannya.


Zaina mengangguk, dia beringsut masuk ke dalam pelukan suaminya. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas dada Gevin. Keduanya mulai terlelap dalam hangatnya pelukan. Hujan di luar sana masih terus berlanjut, membuat suasana malam semakin terasa sepi dan sunyi.


Hingga pagi ini Gevin terbangun lebih dulu, dia mengecek suhu tubuh Zaina yang sudah mulai turun setelah minum obat dari Dokter semalam. Gevin membenarkan selimut yang menutupi tubuh Zaina, lalu dia memberikan kecupan di kening istrinya sebelum turun dari atas tempat tidur. Berjalan ke ruang ganti untuk segera bersiap.

__ADS_1


Ketika Gevin baru saja akan membuka pintu kamar mandi, dia tidak sengaja melihat keranjang cucian yang di dalamnya itu ada sebuah jaket berwarna hitam yang kemarin sempat dia lihat di pakai oleh Zaina. Gevin mengambil jaket itu dan menciumnya, benar-benar tercium parfum pria.


Jaket milik siapa ini? Apa mungkin pria yang pernah Zaina ceritakan padaku? Pria yang dia cintai sejak SMA itu.


Gemuruh di dada Gevin semakin tidak tertahankan ketika dia mengingat tentang cerita Zaina yang mencintai seorang pria dari dia sekolah sampai sekarang. Gevin mulai tidak bisa mengendalikan dirinya, dia tidak mungkin terus membiarkan Zaina mencintai pria lain sementara dia sudah menjadi milik Gevin seutuhnya.


"Mas, kamu sedang apa disana?" tanya Zaina yang baru saja masuk ke dalam ruang ganti. Dia kira suaminya tidak ada disana.


Gevin langsung menoleh dan menatap Zaina dengan tajam. Dia melempar jaket di tangannya ke arah Zaina, jaket itu jatuh di lantai dekat kaki Zaina.


"Jaket siapa itu? Selingkuhan kamu? Pria yang kamu cintai itu?"


Zaina terdiam sambil menatap jaket yang tergeletak di atas lantai. Lalu mendongkan wajahnya dan menatap Gevin, Zaina jelas melihat Gevin yang sedang menahan amarah padanya.


"Mas aku bisa jelasin, jaket ini milik..."


"Tidak usah, sekarang aku tahu kenapa kamu sampai menyuruh aku untuk menikahi Lolyta. Karena kamu juga berharap bisa lepas dariku dan kembali bersama dengan pria idamanmu itu 'kan?"


Gevin tidak lagi mau mendengarkan ucapan Zaina, dia masuk ke dalam kamar mandi, dia menutup pintu dengan kasar. Gevin benar-benar sedang di landa emosi yang tinggi.


Zaina hanya menghela nafas pelan, dia mengambil jaket itu dan kembali memasukannya ke dalam keranjang cucian. Berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya.


Zaina masih tidak habis pikir kenapa suaminya bisa berpikir jika Zaina menyuruhnya menikah karena Zaina ingin bebas bersama pria idaman lain. Padahal jelas-jelas Zaina menyuruhnya untuk menikahi Lolyta karena ucapannya waktu itu yang tidak sengaja Zaina dengar. Ketika Gevin berbicara dengan Lolyta jika dia bertemu lebih awal dengan Lolyta, maka dia akan menikahi Lolyta. Membuat Zaina merasa jika dirinya adalah penghalang cinta diantara mereka.


Zaina keluar dari kamar setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya. Dia mulai menyiapkan sarapan, meski tubuhnya masih terasa lemas, namun dia sudah merasa baik-baik saja karena suhu tubuhnya sudah mulai kembali normal kembali.


"Selamat pagi, Za"


Zaina tersenyum pada Lolyta yang baru saja datang menghampirinya ke dapur. "Pagi Ly, bagaimana keadaan kamu? Aku dengar kemarin sempat drop lagi ya? Jangan kecapean Ly, dan jangan banyak pikiran juga"


Lolyta tersenyum mendengar itu, dia tidak heran jika Gevin bisa dengan mudah jatuh cinta pada Zaina. Karena dia juga melihat bagaimana sikap lembut Zaina yang penuh dengan ketulusan.

__ADS_1


"Iya Za, aku sudah biasa seperti itu. Tidak papa kok, lagian umur aku juga tidak bisa di pastikan akan bertahan berapa lama lagi"


Zaina mematikan kompor setelah nasi goreng yang dibuatnya matang. Zaina menghampiri Lolyta dan berlutut di depan gadis itu yang duduk di kursi roda. "Kamu pasti sembuh kok, asalkan kamu yakin dan tidak putus asa untuk sembuh"


Lolyta tersenyum mendengar itu, dia meraih tangan Zaina dan menggenggamnya. "Terima kasih ya Za, karena kamu sudah begitu baik padaku dan menerima aku dalam pernikahan kamu dan Gevin"


Zaina mengangguk dan tersenyum, dia berdiri dan mengitari kursi roda Lolyta, mendorong untuk membenarkan posisi Lolyta di meja makan. "Sarapan dulu ya, aku sudah masak nasi goreng, tidak pedas kok"


"Iya Za"


Gevin menghampiri kedua istrinya ketik dia sudah selesai mandi dan bersiap. Zaina langsung terdiam melihat pakaian yang di pakai oleh suaminya. Jelas bukan baju yang disiapkan oleh Zaina.


"Mas, kok pakai baju yang itu? Kan aku sudah siapkan pakaiannya untuk kamu"


Gevin menarik kursi dan duduk di samping Lolyta. "Bajunya terlalu cerah, aku sedang malas memakai baju berwarna cerah"


Zaina hanya terdiam dengan jawaban dingin suaminya. Namun dia mencoba untuk tetap tersenyum, mengambilkan makanan untuk suaminya dan juga Lolyta.


"Kalian makan duluan saja, aku mau mandi dan siap-siap dulu"


"Iya Za, terima kasih ya" ucap Lolyta


Sementara Gevin benar-benar tidak menanggapi ucapan Zaina itu, membuat Lolyta merasa bingung dengan suami istri ini. Apa mereka sedang bertengkar ya? Gumamnya dalam hati.


"Makan saja Ly, aku sudah selesai. Mau ke kamar sebentar"


"Loh Vin, kamu baru makan sedikit banget loh" kata Lolyta dengan bingung


"Aku sedang tidak berselera makan, kau habiskan saja makananmu"


Lolyta hanya mengangguk dan melihat Gevin yang kembali masuk ke dalam kamarnya dan Zaina.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2