
Sepanjang perjalanan, Zaina merasa baik-baik saja. Hanya saja istrinya yang memang terlalu mencemaskannya terlalu berlebihan.
"Tidur saja, masih cukup lama perjalanannya juga"
Zaina hanya tersenyum saja, dia menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. "Aku tidak papa, tidak ngantuk juga. Kenapa si kamu terus suruh aku untuk tidur"
Gevin terkekeh mendengar ucapan kesal istrinya itu. Dia mengelus kepala Zaina dengan lembut. "Maaf Sayang, aku hanya mengkhawatirkan kamu saja. Takutnya kamu kenapa-napa"
Mendengar itu Zaina hanya tersenyum, mungkin dia memang harus percaya pada suaminya ini. Terlihat jelas bagaimana suaminya yang sedang menunjukan ketulusannya. Mungkin Gevin ingin Zaina benar-benar melihat cintanya yang sangat tulus.
"Mas nanti kalau sampai di rumah, aku takut Daddy akan marah padamu" lirih Zaina, sebenarnya itu yang dia pikirkan selama perjalanan. Bukan seperti Gevin yang malah memikirkan tentang keadaan Zaina yang sebenarnya baik-baik saja.
"Tidak papa, wajar saja kalau orang tuanmu marah padaku. Karena memang kedua orang tua kamu itu pasti tidak akan pernah mau kalau anaknya sampai terluka seperti ini oleh pria yang menjadi suaminya"
Zaina mendongak dan menatap wajah suaminya yang terlihat biasa saja. Perlahan tangannya mengelus pipi suaminya itu. Masih tidak pernah menyangka jika dirinya sekarang telah kembali bersama dengan Gevin.
"Memangnya kamu tidak takut? Daddy kalau marah menakutkan sekali tahu. Dulu saja, Bunda sampai dai siksa kalau memang membuat Daddy marah. Aku juga tidak tahu kenapa dulu Daddy harus marah pada Bunda dengan seperti itu. Mungkin karena dulu mereka juga menikah bukan karena cinta. Seperti kita"
Rasanya memang masih beruntung dengan kisah Zaina dan Gevin ini. Tidak jauh lebih buruk dari pernikahan orang tuanya, dulu. Dimana sama-sama menikah dengan tanpa cinta. Bahkan Bundanya telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Namun entah kenapa Budanya masih mau kembali pada Ayahnya, mungkin memang alasannya hanya satu. Cinta.
"Maaf ya, karena aku malah membuat kamu terluka dengan pernikahan ini sebelumnya. Aku malah membuat kamu tahu bagaimana rasanya berada di posisi Bunda kamu" ucap Gevin dengan rasa penyesalan yang teramat besar.
Zaina menggeleng pelan, karena memang dirinya tidak pernah merasa menyesal dengan semua ini. Karena tidak ada yang perlu di sesali untuk sebuah perasaan cinta.
"Asalkan kamu bisa berubah dan memperbaiki rumah tangga kita mulai saat ini. Maka semuanya akan baik-baik saja"
__ADS_1
Gevin memang harus banyak bersyukur karena dia bisa kembali mendapatkan istrinya ini. Bagaimana Zaina yang selalu menilai semuanya dalam sisi kebaikan. Tidak selalu mengingat tentang masa lalunya yang buruk.
Sampai di tempat tujuan, Gevin segera membantu Zaina untuk turun dari mobil dan berjalan ke teras rumah. Tidak ada sedikit pun rasa gugup dalam diri Gevin, justru malah istrinya itu yang terlihat gugup dan cemas ketika mereka berdua akan menemui orang tuanya.
"Sayang, kenapa kamu tegang sekali. Aku sudah sering datang ke rumah ini untuk mencari kamu. Dan tidak ada yang terjadi padaku" ucap Gevin
Zaina mendongak dan menatap suaminya dengan bibir mencebik kesal. Suaminya ini memang tidak pernah terlihat tegang sedikit pun ketika dia menghadapi masalah apapun. Berbeda sekali dengan Zaina yang gampang sekali untuk cemas dan tegang karena dirinya memang tidak mempunyai keberanian sebesar itu. Saat ini saja dia takut, dia takut kalau sampai Ayahnya akan marah dengan keputusan yang dia ambil saat ini.
"Emangnya apa si yang bakal di lakuin sama Daddy sampai kamu setegang ini?" tanya Gevin
"Kalau sampai Daddy memukul kamu bagaimana?"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya. "Kalau aku di pukul oleh Daddy juga tidak papa, kan seorang laki-laki memang seharusnya seperti ini. Aku akan mempertanggung jawabkan kesalahan aku karena sudah membuta putri kesayangannya itu terluka dan tersiksa selama ini"
Masuk ke dalam rumah, keduanya sudah benar-benar di tunggu oleh anggota keluarga ini. Zaina dan Gevin menyalami kedua orang tuanya. Lalu di sofa yang berhadapan dengan mereka. Zaina sudah cukup tegang, tangannya saling bertaut di atas pangkuannya dengan kepala yang menunduk.
"Jadi, kenapa pilih kembali pada suami kamu ini, Kak?" tanya Hildan dengan tajam
Zaina mendongak, dia juga bingung harus menjawab apa saat ini. Gevin yang melihat kegugupan di wajah istrinya, membuat dia langsung meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan lembut.
"Kakak hanya mencoba untuk memberikan kesempatan kedua, seperti yang di lakukan Bunda pada Daddy waktu dulu"
Hildan langsung terdiam mendengar jawaban dari anaknya ini. Tentu Zaina yang paling tahu tentang kehidupan dirinya dan istrinya, dulu.
Jenny yang duduk di samping Hildan, hanya terkekeh pelan mendengar ucapan anaknya itu. Dia merasa menang, karena suaminya itu kekeuh untuk membuat Zaina tidak kembali lagi bersama dengan Gevin.
__ADS_1
"Yaudah Kak, kalau memang keputusan kamu sudah pasti dan sudah jelas. Bunda tidak akan melarang kalian untuk kembali bersama. Hanya saja untuk kamu Gevin, Bunda minta untuk kamu benar-benar berubah dan tidak mengulangi apa yang pernah kamu perbuat hiingga membuat istrimu ini terluka" ucap Jenny
Gevin mengangguk, dia pasti tidak akan melakukan kesalahan yang sama yang akhirnya akan membuat dirinya menyesal. "Saya berjanji akan menjaga Zaina dan mencintainya dengan sangat tulus. Tidak akan pernah saya mengulangi kesalahan yang sama"
"Aku pegang janjimu itu!" ucap Hildan yang langsung berlalu begitu saja dari hadapan mereka.
Jenny yang melihat itu hanya menggeleng pelan, merasa heran dengan sikap suaminya itu. "Sebentar ya, Za kamu bikinin minum untuk suami kamu"
"Iya Bun"
Jenny segera menyusul suaminya ke dalam kamar. Dia melihat Hildan sedang berdiri tegap di depan jendela kamar dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana panjangnya.
"Jangan terus memikirkan tentang Zaina, Mas. Lihatlah anak kita itu terlihat bahagia" ucap Jenny yang langsung memeluk tubuh Hildan dari belakang
Hildan tersenyum sambil memegang tangan istrinya yang melingkar di perutnya. "Aku memang terlalu beruntung bisa mendapatkanmu"
Jenny hanya tersenyum, dia tahu kenapa suaminya seperti ini. Mungkin karena Zaina yang tidak sadar telah mengungkit penyesalannya di masa lalu. Hildan yang selalu merasa bersalah yang besar ketika tidak sengaja kisah masa lalunya terungkit lagi.
"Mas, jangan terus memikirkan tentang mas lalu yang sudah berlalu. Sekarang ini saatnya kamu untuk percaya pada anak kita, dia sudah mengambil keputusan. Dan aku yakin keputusannya memang sudah yang terbaik untuk mereka"
Hildan berbalik dan menatap istrinya sambil tersenyum. Dia memeluk istrinya dengan lembut dan langsung mengecup puncak kepalanya.
"Aku bahagia bisa bersamamu"
Bersambung
__ADS_1