
Ketika Zaina keluar dari lift, tepat pada saat itu dia melihat Gevin yang sedang mendorong kursi roda Lolyta masuk ke dalam Apartemen. Gevin belum sempat menyadari kehadiran Zaina disana.
Aku kira dia sedang ada banyak pekerjaan sampai tidak mengangkat teleponku. Tapi ternyata sedang bersama Lolyta ya.
Ada denyutan yang terasa sakit di hatinya ketika dia melihat suaminya yang sedang bersama dengan Lolyta, di saat dia harus basah kuyup karena hujan dan menunggu Gevin untuk menjemputnya.
Zaina masuk ke dalam Apartemen beberapa saat setelah Gevin dan Lolyta masuk ke dalam Apartemen. Zaina tidak banyak bicara, dia menaruh kantong plastik belanjaannya di atas meja makan.
Gevin menatap istrinya yang baru saja datang, dia menatap jaket yang di pakai oleh istrinya itu. "Sayang, kamu pakai jaket siapa itu?"
Zaina terkekeh pelan, malah hal itu yang pertama kali Gevin tanyakan padanya. Zaina tidak menjawab, dia berlalu begitu saja ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan pertanyaan suaminya.
"Sayang.."
Gevin menghela nafas pelan, pastinya Zaina kesal dan kecewa padanya karena dia tidak jadi menjemputnya. Namun Gevin juga tidak melakukan apapun saat Lolyta yang kembali drop tadi siang. Suster yang merawatnya menelepon Gevin dan mengatakan jika Lolyta kembali drop.
Setelah menidurkan Lolyta, Gevin langsung keluar kamar dan menemui istri pertamanya. Gevin melihat Zaina yang sedang tidur meringkuk di atas tempat tidur. Gevin duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus kepala Zaina.
"Sayang, kamu demam" Gevin merasakan suhu tubuh Zaina yang tinggi. Dia juga melihat tubuh Zaina yang menggigil.
Zaina bangun, duduk menyandar di atas tempat tidur. Menarik selimut sampai ke dadanya. Zaina menatap Gevin dengan wajah yang tidak bisa terbaca.
"Mas, kenapa kamu tidak datang menjemput aku?"
Gevin menghela nafas pelan, dia mengelus kepala Zaina dengan lembut. "Lolyta kembali drop, ponsel aku juga ketinggalan di Kantor, sampai sekarang belum aku ambil. Maaf Sayang, karena aku sudah tidak menepati janji padamu"
Zaina menghela nafas pelan, air matanya tidak tertahankan. Sekarang dia sedang tidak bisa memaksa diri untuk bisa terus terlihat tegar dan baik-baik saja di depan suaminya.
"Aku kehujanan Mas, aku menunggu kamu tapi tidak datang, sudah aku telepon tapi kamu juga tidak mengangkatnya... Hiks.."
__ADS_1
"Sayang.."
Gevin benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi, dia langsung memeluk Zaina dengan erat. Istrinya sedang sangat terluka, namun Gevin juga tidak bisa melakukan apapun karena semua ini sudah menjadi keputusan yang dia ambil juga karena Zaina yang memintanya.
"Maafkan aku Sayang, aku benar-benar bingung sekarang. Sudah terlanjur menikahi Lolyta dan aku tidak mungkin melepaskannya"
Hiks..hiks..
Tangisan Zaina pecah begitu saja dalam pelukan Gevin. Dia tidak bisa untuk terus terlihat tegar, padahal hatinya sangat rapuh dan terluka.
"Gevin, aku mengerti kalau kamu juga berada dalam situasi yang sulit. Tapi bisa tidak untuk tetap mengerti aku dan perasaanku ini. Jangan kamu salahkan aku atas apa yang terjadi pada Lolyta seperti pagi tadi. Aku sedih ketika melihat kamu yang marah padaku...Hiks"
Gevin menghela nafas pelan, dia mengecup puncak kepala Zaina dengan lembut. "Maafkan aku Sayang, aku lepas kendali tadi pagi. Aku janji mulai sekarang tidak akan membuat kamu terluka lagi"
Zaina mendongak, dia menatap Gevin dengan matanya yang basah. Gevin langsung mengecup kedua kelopak mata Zaina dengan lembut.
"Maaf ya, karena aku sudah membuat kamu sedih"
"Sayang, hey bangun"
Zaina benar-benar tidak memberikan respon apapun. Zaina tidak sadarkan diri, membuat Gevin semakin terkejut dengan itu. Gevin menidurkan kembali Zaina di atas tempat tidur, lalu dia mengambil ponsel milik Zaina dan menelepon Dokter untuk segera datang ke Apartemennya.
"Sayang..." Gevin mengambil air hangat ke dalam wadah dan mengopres Zaina yang suhu tubuhnya semakin tinggi. "...Sayang bangun, jangan seperti ini"
Beberapa saat kemudian, Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Zaina. Gevin tetap berada di samping Zaina dengan memegang tangannya. Gevin benar-benar tidak bisa meninggalkan istrinya di saat seperti ini.
"Sepertinya dia kelelahan dan terlalu banyak tekanan. Saya sudah resepkan obat dan juga vitamin. Tolong di jaga pola makannya juga, harus benar-benar istirahat total selama beberapa hari ini"
Gevin mengangguk, dia mengelus kepala Zaina sebelum turun dan mengantar Dokter keluar. Setelah itu Gevin segera kembali ke kamarnya, namun sebelum dia sampai di kamarnya dan Zaina, ada Lolyta yang baru saja keluar dari kamar.
__ADS_1
"Vin, ada apa? Kok kamu terlihat panik begitu?"
"Zaina sakit, aku ke kamar dulu ya Ly. Kalau kamu mau makan, pesan makanan saja. Bisa sendiri 'kan?"
Lolyta mengangguk, dia melihat kekhawatiran Gevin pada Zaina jelas terlihat berbeda saat tadi Gevin menolongnya ketika dia drop. Kenyataan yang tidak bisa di rubah oleh Lolyta, jika Gevin memang sudah tidak lagi mempunyai cinta untuknya.
Gevin kembali masuk ke dalam kamar Zaina, dan dia melihat istrinya yang sudah membuka matanya, membuat Gevin langsung naik ke atas tempat tidur dan melihat keadaan Zaina.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar sekarang"
Zaina menatap Gevin sekilas, lalu dia memegang kepalanya yang terasa pusing dan tidak sakit. "Mas, aku kenapa memangnya?"
"Kamu kelelahan, jadi pingsan. Kata Dokter kamu harus banyak istirahat"
Zaina mencoba bangun, dan Gevin pun langsung sigap untuk membantunya bangun. Menaruh bantal di belakang tubuh Zaina agar istrinya itu nyaman untuk bersandar.
"Mau minum, Mas aku haus"
Gevin mengangguk, dia segera mengambilkan minum di atas nakas untuk istrinya itu. Membantu Zaina untuk minum.
"Aku tadi pinjam ponsel kamu untuk menghubungi karyawan aku yang masih di Kantor untuk bawakan ponsel aku. Sekalian suruh dia bawakan makan malam juga untuk kita"
Beruntung karena Asistennya masih berada di Kantor karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jadi, Gevin bisa meminta bantuan dia.
"Sayang, sebaiknya kamu berhenti bekerja saja ya" ucap Gevin sambil menggenggam tangan Zaina.
"Kenapa tiba-tiba sekali Mas? Aku juga baru banget kerjanya, kok sudah diminta berhenti sama kamu?"
Gevin menghela nafas pelan, dia menatap istrinya dengan lekat. Jelas tampak kekhawatiran di balik tatapan Gevin itu. "Aku tidak mau sampai kamu seperti ini lagi. Sayang, kamu mau apa memangnya? Aku akan berusaha untuk memenuhi apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu butuhkan. Jadi. kamu tidak usah bekerja saja"
__ADS_1
Zaina terdiam, dia melihat kekhawatiran di balik tatapan Gevin. Tapi apa memang Gevin sekhawatir itu padanya?
Bersambung