Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Ajakan Menikah Mengejutkan?!


__ADS_3

Pemeriksaan yang mungkin akan menjadi pemeriksaan terakhir selama kehamilannya ini. Semuanya dia nikmati dengan sangat. Mulai dari pemeriksaan kehamilannya ini, bagaimana dirinya yang melewati setiap hari dengan segala tantangan yang ada. Bagaimana Zaina yang bisa merasakan kehamilannya yang dengan lancarnya. Kehamilan kedua ini yang tidak terlalu banyak keluhan apapun. Merasa bahagia dengan semuanya.


"Jadi bagaimana Dok? Apa istri saya bisa melahirkan normal?" tanya Gevin yang sejak tadi hanya menemani istrinya untuk periksa kandungan.


"Semuanya baik dan normal, saya rasa Nona akan bisa untuk melahirkan normal. Anda tenang saja Tuan" ucap Dokter.


Gevin sedikit lega, meski sebenarnya pikirannya juga masih bingung dan tidak bisa tenang begitu saja. Gevin sangat takut kalau sampai Zaina dan calon bayinya itu kenapa-napa. Gevin hanya bisa berharap semuanya akan bisa baik-baik saja.


Zaina turun dari ranjang pemeriksaan dengan dibantu oleh suaminya. Tentu saja dirinya juga merasa senang dan lega ketika Dokter sudah memastikan jika suaminya baik-baik saja.


"Jadi sudah siap ya Nona, untuk melahirkan secara normal. Tinggal menunggu waktu saja, persiapkan diri dan mental anda saja ya" ucap Dokter. 


Zaina mengangguk dengan yakin. "Iya Dok, saya siap untuk melahirkan anak saya nanti. Mohon bimbingannya saja ya Dok"


"Baik Nona, pokoknya jangan terlalu banyak pikiran apapun.  Yakin saja kalau semuanya pasti akan abik-baik saja"


Setelah selesai dengan pemeriksaan, mereka langsung pulang ke rumah. Sebenarnya Zaina ingin membeli perlengkapan lain untuk bayinya, meski sebenarnya masih ada perlengkapan bayi pertamanya yang belum sempat terpakai. Tapi Zaina hanya ingin menambahkan beberapa saja.


"Mas, kenapa si tidak mengizinkan aku beli perlengkapan bayi.  Aku hanya ingin membelikan beberapa barang saja" ucap Zaina sambil berjalan mengikuti suaminya masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, kamu jangan banyak pergi untuk saat ini.  Apalagi sampai kelelahan. Lagian apa yang ingin kamu beli? Biar kita minta Ibu saja yang membelinya" ucap Gevin.


Zaina cemberut mendengar ucapan suaminya itu. Dia berjalan ke arah Gevin yang sudah duduk di atas sofa, dengan tanpa malu lagi Zaina langsung duduk di atas pangkuan suaminya. Entahlah sejak hamil memang Zaina lebih agresif dari sebelumnya, dia juga bingung kenapa bisa seperti ini. Tapi dia senang saja karena ternyata suaminya juga senang dengan perubahannya ini.


Gevin mengelus pipi istrinya yang duduk di atas pangkuannya ini. Tersenyum melihat wajah istrinya yang cemberut itu. "Sayang, aku hanya tidak mau kamu kenapa-napa. Jangan membuat aku khawatir ya, kali ini tolong tetap nurut sama aku"


Zaina menghela nafas pelan, nyatanya memang dia tidak akan bisa membantah ucapan suaminya. Apalagi saat dia melihat ketulusan dari suaminya, memang apa yang Gevin lakukan hanya untuk kebaikannya. 

__ADS_1


"Yaudah, tapi kalau nanti kalau sudah melahirkan, aku akan bisa bebas ya kan" ucap Zaina sambil mengedipkan matanya.


Gevin langsung mengerutkan keningnya tajam, menatap Zaina dengan tidak suka dengan apa yang dia ucapkan. "Memangnya mau bebas seperti apa? Jelas kamu tidak akan bisa bebas dariku, karena aku adalah suamimu. Ingat itu!"


"Ya bisa pergi keluar tanpa harus sama kamu" ucap Zaina sambil tersenyum penuh arti pada suaminya.


Gevin mengelus pipi istrinya, rasanya selalu gemas dengan apa yang diucapkan istrinya. Apalagi jika tatapannya itu selalu menggemaskan. "Sayang, jangan sampai membuat aku kesal ya. Karena kalau kamu buat aku kesal, maka aku akan membuat kamu semakin tidak bisa lepas dariku"


Mendengar itu langsung membuat Zaina cemberut, tapi dia malah memeluk suaminya. Karena memang nyatanya dia sangat menyayangi suaminya. Sampai kapanpun dia tahu kalau suaminya itu melakukan semua ini karena memang dia sangat menyayanginya.


"Yaudah, sekarang kita harus melakukan apa yang di minta Dokter" bisik Gevin.


Zaina terdiam, dia ingat saat mereka sebelum keluar dari ruang Dokter kandungan tadi.  Dokter jelas mengatakan kalau saat ini Gevin bisa lebih sering melakukannya dengan Zaina untuk merangsang kontraksi saat sudah mendekati waktu kelahiran. Dan sepertinya malam ini Gevin akan memulai aksinya yang disarankan oleh Dkter itu.


"Mas, apaan si.  Udah ah, aku mau makan buah dulu"


"Dasar ya, semua suami sama saja. Mesum" gerutu Zaina sambil terus berjalan menuju dapur.


#######


Malam ini Genara terpaksa harus menghadiri acara Kantor yang sebenarnya dia tidak terlalu ingin pergi ke acara itu. Tapi nyatanya dia juga tidak bisa menolak ajakan dari teman-temannya. Malam ini ada sebuah acara pesta perayaan ulang tahun pemimpin perusahaan mereka. Edgar, dia yang malam ini ulang tahun. Sebenarnya Genara hanya masih merasa malu jika harus bertemu dengan Edgar, apalagi nanti teman-temannya akan memberikan respon yang berlebihan. Seperti waktu itu yang pernah terjadi.


Tapi tetap saja Genara juga tidak bisa menolak ajakan teman-temannya itu.


Acara yang cukup meriah, banyak tamu undangan dari rekan bisnis juga. Bahkan Gevin juga datang bersama Papa Gara, karena memang perusahaan mereka juga mendapatkan undangan ini. Genara langsung menghampiri Ayah dan kakaknya itu.


"Kamu juga datang disini Dek" ucap Gevin sambil mengelus kepala adiknya dengan lembut.

__ADS_1


Genara mengangguk, dia memeluk Kakaknya tanpa malu sedikit pun. Karena memang dirinya tidak bisa kalau tidak bermanja sedikit saja sama Kakaknya dan membuat dia kesal.


"Lepas Gen, kamu udah gede masih aja kayak gini. Jangan buat Kakak malu ah"


Genara tidak peduli dengan ucapan Kakaknya itu. Tetap saja memeluknya dan bermanja pada Gevin. "Biarin si Kak, lagian sama adik sendiri kok galak banget"


Gevin mencoba melepaskan pelukan Genara di tubuhnya. Kesal juga karena adiknya yang terus bergelayut manja di tubuhnya. "Lepas Gen, aku kecekik nih ah"


Papa Gara hanya menggeleng pelan melihat perdebatan anak-anaknya itu. Selalu saja seperti itu kalau bertemu, mungkin hanya mencoba menunjukan kerinduan masing-masing dengan cara seperti ini. Berdebat.


"Wah, Tuan Gevin dan Pak Gara juga datang.  Terima kasih sudah datang" ucap Edgar yang menghampiri mereka.


Gevin dan Papa Gara bergantian menyalami Edgar dan mengucapkan do'a terbaik untuk ulang tahunnya kali ini. Genara juga langsung melepaskan pelukan manjanya pada Gevin, malu juga karena ada Edgar disana.


Sebenarnya Edgar sudah melihatnya dan dia merasa lucu dengan Genara yang terlihat begitu manja pada Kakak laki-lakinya itu. "Sepertinya Genara ini sangat dekat dengan Tuan Gevin ya"


"Tidak, dia memang seperti itu. Selalu menyebalkan" ucap Gevin dengan cepat.


Genara langsung cemberut mendengar ucapan Kakaknya itu. Secara tidak langsung Gevin sudah menjelekannya di depan Edgar.


"Jangan gitu sama adik sendiri, tar kualat loh. Kalau nanti aku udah nikah, dan gak manja-manja lagi sama Kakak, pasti bakal nyesel deh" ucap Genara


Edgar tersenyum lucu melihat Kakak adik ini. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita menikah saja sekarang?"


Deg..


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2