Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Rencana Genara?!


__ADS_3

Zaina membuka kembali matanya saat dia mendengar suara ponselnya yang berdering di atas nakas samping tempat tidur. Dengan matanya yang masih sangat mengantuk, dia meraih ponselnya di atas nakas, lalu segera mengangkat telepon itu tanpa melihat jelas siapa yang meneleponnya.


"Hallo"


"Kak Zaina, bisa ke rumah sekarang"


Suara teriakan dari Genara membuat Zaina langsung bangun terduduk dari posisi tidurnya. "Ada apa Dek? Apa yang terjadi?"


"Kak Gevin, Kak. Pokoknya Kak Zaina cepat datang, sebelum terlambat"


Tutt....


Sambungan telepon yang langsung terputus membuat Zaina jadi bingung sendiri. Dia bingung kenapa Genara yang terdengar begitu panik. Apa yang sebenarnya terjadi pada Gevin?


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Gevin ya"


Zaina segera turun dari atas tempat tidur, berlalu ke ruang ganti untuk ganti baju. Setelah itu dia segera menghubungi taksi dan segera pergi ke rumah mertuanya. Hari juga belum terlalu larut sebenarnya.


Ya Tuhan, semoga saja bukan hal buruk yang terjadi.


Khawatirnya masih sama, pedulinya juga masih sama. Yang jelas semua perasaan dalam diri Zaina untuk Gevin, masih sama. Hanya saja ada luka yang masih membekas di hatinya, membuat Zaina sangat sulit untuk menghilangkan luka itu. Bahkan untuk menyembuhkannya saja masih sangat sulit.


Zaina terdiam di ambang pintu rumah besar ini. Ketika dia melihat Gevin yang sedang di gotong ke arah sofa. Darah mengalir tepat di bekas dia tergeletak di atas lantai dekat tangga itu. Zaina langsung berlari ke arah Gevin, hatinya benar-benar tidak bisa menahan kepanikannya.


"Mas.." Zaina langsung duduk di sofa dan memangku kepala Gevin yang penuh dengan cairan berwarna merah itu.


"Ini kenapa? Dan kenapa tidak langsung di bawa ke rumah sakit saja" ucap Zaina pada semua orang yang ada disana


"Gevin yang menolak untuk di bawa ke rumah sakit" ucap Vania


Zaina menatap suaminya yang masih membuka matanya, meski terlihat sangat lemah. "Mas, ayo ke rumah sakit biar kamu cepat di tangani oleh Dokter" 

__ADS_1


Gevin menggeleng pelan, tangannya terangkat dan mendekap pipi istrinya dengan lembut. "Maafkan aku untuk semua yang telah aku lakukan padamu, tolong berikan aku maafmu dan jangan membenciku"


Zaina menggeleng pelan, air matanya sudah menetes begitu saja.Nyatanya dia tetap tidak bisa membohongi dirinya dan hatinya sendiri jika dia masih mempunyai perasaan yang sama untuk suaminya. Nyatanya perasaan cinta itu masih ada dan tetap ada.


"Aku sudah memaafkanmu, jangan seperti ini Mas. Aku juga tidak pernah membencimu" ucap Zaina dengan isak tangis yang mulai terdengar


"Aku mencintaimu, Zaina"


Zaina mengangguk, dia mengelus kepala Gevin yang penuh dengan darah itu. "Aku juga masih mencintaimu sampai saat ini"


"Maukah kau kembali denganku dan kita mulai lagi pernikahan yang sebenarnya. Bukan lagi sebagai sandiwara pernikahan" lirih Gevin


Zaina mengangguk, hatinya tidak bisa untuk menolak suaminya ini. Karena memang dia masih mencintai Gevin, meski rasa sakit itu masih ada. Namun dengan semuanya tidak akan pernah bisa mengalahkan perasaan cintanya itu. Karena perasaan cintanya masih terlalu besar dari yang lainnya.


"Akhirnya" ucap Genara dengan kencang


Zaina langsung menoleh pada adik iparnya itu dengan bingung. Kenapa semua orang terlihat biasa saja ketika dia melihat bagaimana Gevin yang sudah berdarah-darah seperti ini. Semakin terkejut lagi ketika suaminya itu bangun dan menatap Zaina dengan tersenyum.


"Terima kasih karena kamu sudah menerima aku kembali. Terima kasih karena kamu sudah kembali bersamaku dan mau memulai semuanya lagi"ucap Gevin yang langsung memeluk istrinya itu.


Zaina masih merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Masih sangat bingung dengan keadaan saat ini. "Maksudnya apa? Bukannya kamu sakit, kenapa malah bangun. Ada apa ini, Mas?"


Genara tersenyum mendengar itu. Dia melihat bagaimana Zaina yang begitu takut kehilangan Gevin. "Sebenarnya ini adalah rencanaku, Kak. Aku ingin Kak Zaina kembali lagi bersama dengan Kak Gevin"


Zaina langsung melepaskan pelukannya, dia menatap suaminya dengan lekat. Mengangkat tangannya yang penuh dengan darah itu dan menciumnya. Wangi setrawberry yang terasa begitu segar. Jadi cairan merah yang awalnya dia kira adalah darah, ternyata hanya berupa sirup strawberry yang sedikit kental saja.


"Kalian bohongi aku gitu, ish"


Zaina benar-benar kesal, rasa sedih dan khawatirnya tidak ada lagi. Sudah berubah dengan wajahnya yang kesal. Pantas saja semua orang terlihat begitu biasa saja ketika melihat keadaan Gevin yang seperti ini. Malah membawa Gevin ke atas sofa, bukannya ke rumah sakit. Karena memang semuanya itu adalah sebuah rencana yang di buat oleh Genara agar Zaina dan Gevin kembali bersama.


"Sayang, aku mencintaimu" ucap Gevin langsung memeluk istrinya lagi

__ADS_1


"Aaa... Mas, baju aku jadi kotor ih. Lepas"


Semua orang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala lucu melihat tingkah keduanya. Namun mereka senang karena akhirnya Gevin bisa kembali lagi bersama dengan istrinya.


#######


Mungkin semuanya memang yang terbaik, dia adalah Ayah dari anakku dan tidak mungkin juga aku akan membuat anakku lahir dengan keadaan orang tua yang kacau.


Zaina mencoba untuk menerima kembali Gevin, berharap jika suaminya itu akan benar-benar berubah dan memang benar-benar mencintainya.


"Sayang, sedang apa?"


Sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Gevin yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian langsung menghampiri Zaina yang sedang berdiri di balkon kamar. Menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.


"Kamu sudah selesai mandinya, sekarang antar aku pulang ya"


Gevin sedikit mengerutkan keningnya, tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Gevin membalikan tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya. Memojokannya di pagar pembantas, lalu dia mengecup bibirnya. Zaina yang posisinya benar-benar terpojok membuat dia tidak bisa melakukan apapun. Zaina hanya bisa pasrah ketika Gevin mencium bibirnya.


"Emhh.."


Saking belum siap dengan ciuman dari suaminya itu, memuat Zaina hampir kehabisan nafas. Dia memukul dada Gevin agar segera menyudahi ciumannya ini.


"Sayang, kenapa kamu sampai lupa bernafas? Benar-benar lupa ya caranya berciuman? Tidak papa, biar aku ajarkan lagi agar kamu cara ciuman yang benar"


Zaina hanya memutar bola mata malas mendengar ucapan suaminya itu. Karena memang Gevin yang seperti itu. Selalu saja dia membuat Zaina kesal dengan tingkah jahilnya itu.


"Mas, ayo pulang.."


"Pulang kemana? Kalau memang kamu tidak merasa nyaman tinggal disini, maka nanti biar kita pindah ke rumah yang di komplek sebelah. Kamu memang lebih nyaman tinggal disana 'kan" ucap Gevin


Zaina mengangguk, dia memang cukup nyaman tinggal di rumah itu. Entahlah.. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa langsung nyaman tinggal disana. Namun memang benar-benar nyaman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2