Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Mengalah, Meski Tidak Bersalah?!


__ADS_3

Untuk pertama kalinya malam ini Zaina tertidur seorang diri di dalam kamarnya. Zaina menatap bantal di sampingnya yang kosong, tidak ada siapapun disana. Rasanya cukup hampa ketika seseorang yang selama ini terbiasa dengan kita, sekarang tidak ada di sampingnya membuat Zaina merasa tidak nyaman.


Zaina berbalik dan menatap langit-langit kamarnya. "Ternyata baru sejenak tidak ada Gevin di kamar ini saja"


Selama bertahun-tahun dia memendam perasaan cintanya pada Gevin. Membuat dia merasa bahagia karena bisa bersama dengan Gevin, meski dia tahu bagaimana perasaan Gevin yang sebenarnya.


"Apa mungkin Gevin akan pernah mencintaiku?"


Harapan yang masih ada untuk bisa mendapatkan hati suaminya, meski Zaina tidak yakin dia bisa. Namun dia hanya ingin terus berusaha sampai mungkin kesabarannya telah hilang.


Zaina menarik selimut tebalnya dan mulai memejamkan mata. Berharap dia bisa tidur nyenyak tanpa ada Gevin lagi di sampingnya saat ini.


Di kamar yang berbeda, Gevin juga terlihat tidak bisa benar-benar terlelap. Dia menatap Lolyta yang sedang terlelap di sampingnya. Tidak ada apapun yang terjadi di malam pengantin mereka ini. Gevin hanya memenuhi apa yang seharusnya dia lakukan pada kedua istrinya ini.


Kenapa di saat seperti ini aku malah mengingat Zaina. Padahal aku telah menikah dengan Lolyta, wanita yang pernah aku cintai selama ini.


Gevin turun perlahan dari tempat tidur, dia menatap Lolyta yang sedang terlelap. Takut jika istrinya terbangun, Gevin berjalan keluar kamar. Duduk di sofa ruang tengah, menyalakan televisi meski tidak ada acara yang membuatnya tertarik.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat Gevin langsung menoleh, dia melihat Zaina yang keluar dari kamar. "Sayang, kok kebangun?"


Zaina terlonjak kaget melihat suaminya yang berada disana. "Mas, kamu ngapain disana?"


Zaina melangkah menghampiri suaminya, duduk di sampingnya. Gevin langsung mengelus kepalanya dan mengecupnya dengan lembut.


"Kamu juga kenapa bangun? Ini udah malam loh, bukannya besok kerja ya"


Zaina mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Aku tidak bisa tidur, gak ada kamu si"


Gevin terkekeh mendengar ucapan manja istrinya ini. Dia kembali mengecup puncak kepala istrinya. "Sayang, kalau kamu tidak kuat menjalani semua ini. Aku akan menghentikan semuanya"

__ADS_1


Zaina langsung mendongak dan menatap suaminya. Zaina mengangkat kepalanya dari bahu Gevin, menatap Gevin sambil tersenyum. "Tidak papa Mas, kamu sendiri yang bilang kalau saat ini Lolyta memang sedang membutuhkan suport system dari kamu. Aku sudah memilihnya, dan aku akan tetap menjalani hidup ini"


Gevin menghela nafas pelan, jelas dia melihat bagaimana ketulusan Zaina untuk menerima keadaan ini. "Sayang, sebenarnya aku juga bingung dan takut sekali tidak bisa berbuat dil kepadamu dan Lolyta"


Zaina memegang tangan suaminya, dia tersenyum penuh rasa yakin pada Gevin. "Kamu pasti bisa adil Mas, karena kamu juga mencintai Lolyta dan aku tahu itu"


Ya, karena perasaan cintamu yang membuat aku harus rela membagi kamu dengan orang lain. Aku hanya tidak mau merebut kebahagiaan kamu dari orang yang kamu cintai dan mencintaimu.


Gevin mengelus kepala Zaina, menarik tubuh Zaina ke dalam pelukannya. "Terima kasih untuk pengertian"


Mendengar itu membuat Zaina tersenyum, dia tahu jika Gevin bahagia dengan pernikahannya dengan Lolyta. Bagaimana tidak, Lolyta adalah cinta pertamanya yang hampir membuat hidupnya sangat kacau ketika dia menghilang dari kehidupan Gevin.


"Sekarang kembali ke kamar kamu sana, aku juga harus tidur. Besok mulai ngajar lagi"


Gevin mengelus kepala Zaina dengan penuh kasih sayang. "Yaudah, kamu istirahat yang nyenyak ya. Jangan sampai besok terlambat berangkat ke sekolah"


Zaina mengangguk, dia beranjak dari duduknya dan segera kembali ke dalam kamar. Hatinya sudah cukup tenang ketika dia sudah bertemu dengan Gevin. Meski tetap saja malam ini dia tidak akan bisa tidur bersama dengan suaminya.


Seperti rutinitas sebelumnya, pagi ini Zaina sudah di sibukan dengan membuat sarapan. Gevin yang baru bangun langsung menghampirinya, memeluk Zaina dari belakang dan mengecup bahunya.


"Masak apa, Sayang?"


"Masak yang ada aja, nanti sore anter aku ke supermarket ya. Bahan makanan sudah hampir habis. Ini aja masak seadanya bahan makanan di kulkas"


"Oke. Nanti pas aku jemput kamu pulang dari sekolah, kita mampir dulu ke supermarket"


Gevin berlalu ke kamarnya bersama Zaina untuk mandi dan segera bersiap. Zaina juga melanjutkan masakannya yang hampir matang.


"Selamat pagi Za"


Zaina langsung menoleh pada Lolyta yang menghampirinya dengan menggunakan kursi roda. "Pagi juga Ly, bagaimana tidurnya? Nyenyak"

__ADS_1


Lolyta mengangguk, dia mengambil gelas di atas meja untuk mengisinya dengan air minum. Namun entah kenapa tangannya terasa kram dan bergetar hingga gelas jatuh ke atas lantai dan pecah.


Prankk..


Zaina terkejut mendengar itu, dia langsung menoleh dan menatap Lolyta yang juga terkejut dengan gelas yang dia pecahkan barusan. Zaina segera mematikan kompor dan ingin menghampiri Lolyta di dekat meja makan, ketika Gevin datang di sana.


"Ya ampun Ly, kamu gak papa?" tanya Gevin dengan khawatir


Lolyta menggeleng, dia masih menatap tangannya yang begetar. Gevin menarik kursi roda Lolyta ke belakang, untuk menghindari pecahan gelas itu mengenai kaki Lolyta.


"Aku gak papa Gevin, tadi aku mau ambil minum tapi tangan aku kayaknya kesemutan jadi gak benar pegang gelasnya"


Gevin menghela nafas pelan, dia menatap ke arah Zaina yang masih berdiri di dekat meja kompor. "Za, kenapa kamu tidak ambilkan si? Padahal kamu juga ada disini, tahukan kalau keadaan Lolyta ini sedang lemah"


Zaina menatap Gevin dengan kening sedikit berkerut. Merasa heran dengan nada bicara Gevin yang seolah sedang menyalahkan dia atas kejadian ini.


"Aku sedang masak dan tidak tahu kalau Lolyta mau ambil minum. Dia gak bilang dan gak minta bantuan sama aku juga"


"Ya, setidaknya kamu mengertilah. Lolyta pasti tidak enak meminta bantuan sama kamu"


Zaina menghembuskan nafas pelan, menahan diri untuk tidak terpancing emosi dengan suaminya yang berbicara dengan nada seperti itu padanya.


"Yaudah, aku minta maaf" ucap Zaina, memilih mengalah meski sebenarnya dia tidak merasa salah.


Lolyta merasa tidak enak dengan Zaina, dia meraih tangan Gevin dan menggenggamnya. "Sudah Vin, aku memang tidak meminta bantuan sama Zaina karena aku pikir aku bisa melakukannya sendiri. Ternyata aku terlalu lemah sampai tidak kuat memegang gelas saja"


Gevin mengelus punggung tangan Lolyta, dia tahu apa yang di rasakan oleh Lolyta dengan keadaannya yang seperti ini. "Lain kali kalau memang ingin apa-apa, kamu bisa bilang sama aku atau Zaina. Daripada seperti ini 'kan bisa membuat kamu terluka juga"


Zaina hanya menatap suaminya dan istri keduanya itu dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2