Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Bertemu Hilmi


__ADS_3

Seperti apa yang di bilang Ibunya, Gevin benar-benar menyuruh orang untuk mencari keberadaan Zaina untuk di kota ini saja dulu. Karena dia sudah meminta orang suruhannya untuk terus mencari keberadaan Zaina.


Tapi selama 6 bulan ini tidak ada yang memberikan informasi tentang keberadaan Zaina. Bahkan ada yang Gevin suruh untuk memantau di dekat rumah orang tua Zaina, tetap tidak pernah menemukan Zaina.


Hari ini Gevin kembali lebih sore, karena dirinya yang masih belum bisa fokus untuk bekerja selama istrinya tidak ada. Beruntung karena masih ada Papa Gara yang masih bisa membantu dia dalam hal pekerjaan.


Namun ketika di perjalanan, Gevin tidak sengaja melihat sebuah motor yang di kendarai oleh ojek online. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian dari Gevin. Tapi ketika dia melihat penumpang yang berada di belakang pengemudi motor itu.


Ketika penumpangnya itu menoleh ke samping, maka Gevin bisa melihat dengan jelas wajahnya. Membuat dia langsung tancap gas dan mengikutinya, dia tidak mau sampai kehilangan jejak dari motor di depannya itu.


Sampai di jalanan yang cukup sepi, Gevin mencoba untuk menyalip motor itu dan menghadangnya supaya berhenti. Dan dia berhasil, motor itu berhenti setelah mobil yang dikendarainya berada di depannya sekarang.


Gevin segera turun dan menatap tajam pada si penumpang yang juga ikut turun dari motor itu. Sementara si pengemudi ojek tadi, seolah sedang ketakutan dan akhirnya memilih untuk meminta pergi pada penumpangnya itu. Dan si penumpang juga tidak mungkin membuatnya ikut campur dengan semua ini. Jadi dia membiarkan pengemudi ojek online itu untuk pergi.


Gevin berjalan mendekat, menatap orang di depannya dengan tajam dan penuh selidik. "Mau kemana kamu? Kenapa bisa ada disini? Masih pakai seragam lagi"


Hilmi mneghela nafas panjang, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Kakak Iparnya ini. Padahal dia sudah benar-benar bersembunyi, bahkan meninggalkan motor miliknya di sekolah dan memilih naik driver untuk datang ke kota ini. Dia tahu jika selama ini pergerakan keluarganya di awasi oleh orang suruhan Gevin. Makanya mereka semua selalu bertahan untuk tidak menemui Zaina.


Dan hari ini, Hilmi sengaja ingin menemui Kakaknya karena memang dia ingin mengecek keadaannya. Namun ternyata tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Kakak Iparnya saat ini. Karena tidak pernah sekalipun dia ketahuan jika mengecek keadaan Kakaknya selama ini.


"Aku mau ke rumah teman Kak, tolong jangan beritahukan pada Bunda ya. Aku memang tidak izin dulu untuk datang kesini, jadi aku belum pulang ke rumah dan berganti seragam" ucap Hilmi, mencoba untuk mencari alasan yang akan di percaya oleh Gevin.


"Kenapa juga kau pergi tanpa di bilang dulu pada Bunda? Kalau sampai kamu ada apa-apa bagaimana?"


Hilmi menggeleng pelan, sepertinya memang Kakak Iparnya itu percaya dengan apa yang di ucapkannya itu. "Iya Kak, aku akan berhati-hati kok. Jadi tolong untuk tidak memberi tahu Bunda ataupun Daddy ya"

__ADS_1


Gevin mengangguk, dia bisa cukup mengerti dengan ucapan Hilmi barusan. Dia akan mencoba untuk mendekati adik iparnya ini agar dia bisa mendapatkan sedikit saja petunjuk tentang keberadaan Zaina.


"Tapi Hilmi, apa kau benar-benar tidak tahu tentang keberadaan Kakakmu?" tanya Gevin


Hilmi terdiam mendengar itu, tentu saja dia tidak akan mengkhianati janji yang dia ucapkan pada Kakaknya untuk tidak memberi tahukan keberadaan Zaina padanya. Dia tidak akan pernah bisa membohongi Kakaknya, karena Hilmi sangat menyayangi Kakak perempuannya itu.


"Aku benar-benar tidak tahu Kak, karena Bunda dan Daddy pun tidak pernah terdengar membicarakan tentang Kakak di rumah, jadi aku tidak pernah mendengar apapun kabar tentang Kakak. Jujur, aku juga sangat merindukan Kakak saat ini" ucap Hilmi, masih mencoba untuk meyakikan Kakak iparnya kalau dia memang tidak pernah tahu tentang keberadaan Kakaknya.


Gevin menepuk bahu adiknya itu. "Yaudah, kalau begitu aku pergi dulu, tapi kalau memang kamu menemukan kabar tentang Kakak kamu, tolong beritahukan aku"


Hilmi mengangguk saja, meski nyatanya dia tidak akan pernah memberi tahukan Gevin karena sudah berjanji pada Zaina.


#######


"Jadi, apa Bunda tahu tentang kedatangan kamu kesini?" tanya Zaina yang sedang membuatkan minum untuk adiknya yang baru saja datang.


Zaina berjalan ke arah sofa dengan membawakan minuman dan cemilan untuk adiknya itu. Duduk di samping Hilmi, selalu saja jika Zaina bertemu dengan adiknya, mau itu Hilmi atau Haiden, dia pasti akan mengelus kepalanya seperti dia masih melihat adiknya yang masih kecil.


"Bagaimana sekolah kamu, Mi? Daddy sama Bunda bagaimana kabarnya? Haiden juga" ucap Zaina sambil mengelus lembut kepala adiknya yang sekarang tingginya bahkan sudah melebihi tinggi tubuhnya.


"Mereka semua baik dan selalu mengkhawatirkan Kakak. Bagaimana dengan keadaan Kakak disini?"


"Kakak baik kok disini" jawab Zaina sambil tersenyum


Hilmi menatap Kakaknya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Mungkin juga karena dia yang sedang hamil dan juga dia yang terlalu banyak pikiran. Tidak mungkin juga dia tidak kepikiran dengan apa yang sedang terjadi dalam kehidupannya saat ini.

__ADS_1


"Kak, tadi pas perjalanan kesini aku bertemu dengan Kak Gevin" ucap Hilmi


Zaina langsung menoleh padanya dan menatap Hilmi dengan wajah yang cukup terkejut. "Terus bagaimana? Apa dia mengetahui kalau kamu datang kesini untuk menemui Kakak?"


"Tidak, aku mencoba saja untuk mencari alasan"


Zaina menghela nafas pelan, cukup lega mendengar ucapan Hilmi barusan, "Sebenarnya kemarin juga Kakak sempat datang ke Supermarket dan bertemu dengan Mas Gevin. Untungnya Kakak pakai penutup wajah dan kacamata hitam saat itu. Jadi dia tidak mengenali Kakak"


Hilmi menatap Kakaknya dengan helaan nafas pelan. Sepertinya memang Kakaknya itu belum mau untuk bertemu dengan suaminnya itu.


"Kak, sebenarnya apa Kakak tidak mau untuk bertemu dengan Kak Gevin? Maksudnya, dia juga perlu tahu dengan keadaan Kakak yang saat ini sedang hamil anaknya" ucap Hilmi


Zaina menghela nafas pelan, dia juga tidak tahu harus melakukan apa. Namun hatinya memang seperti belum siap untuk bisa bertemu dengan suaminya. Masih ada rasa takut dalam dirinya untuk bisa bertemu dengan Gevin.


"Kakak masih takut, Mi. Takut jika Kakak bertemu dengannya lagi akan membuat Kakak kecewa lagi"


Hilmi memeluk Kakaknya ketika dia melihat mata Zaina yang berkaca-kaca. Hilmi bisa mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya ini. Hilmi tidak bisa membayangkan bagaimana Zaina yang bisa terlalu kuat selama ini.


"Semuanya akan baik-baik saja sampai Kakak dan Kak Gevin bisa bersatu lagi atau mungkin akan berpisah. Semuanya adalah yang terbaik untuk Kakak, aku akan tetap mendukungnya" ucap Hilmi


Zaina tersenyum dalam pelukan adiknya, dia mengusap air matanya dengan kasar. Sekarang dia tidak menyangka jika adiknya ini bisa menjadi sosok yang sangat dewasa dan bijaksana seperti ini di usianya yang jelas masih muda.


"Terima kasih ya, Dek karena sudah memberikan Kakak dukunganmu selama ini"


"Iya Kak"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2