
Zaina mengangguk, mungkin memang mereka berdua harus berbicara untuk semua ini. Gevin yang duduk di atas sofa sementara Zaina yang duduk di pinggir tempat tidur. Seolah keduanya itu masih mempunyai jarak.
"Za, aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan" ucap Gevin sambil menatap Zaina dengan lekat
Zaina terdiam, menghela nafas pelan karena dia yang juga bingung harus menjawab apa saat ini. Bukan karena dia yang belum memaafkaa, namun hatinya yang masih terluka dan hingga belum bisa dengan lapang melupakan semua yang pernah terjadi di antara mereka berdua sebelumnya.
"Semuanya memang masih terlalu sulit untuk aku, Mas. Semua perkataan kamu waktu itu benar-benar membuat aku sangat terluka. Bahkan aku saja sampai tidak pernah menyangka kalau kamu pernah mengatakan hal yang sangat menyakitkan waktu itu" lirih Zaina dengan suaranya yang bergetar
Gevin terdiam mendengar itu, tentu saja dia juga tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Jelas dia melihat wajah Zaina yang begitu kecewa dan bahkan seolah tidak mau menerimanya lagi. Zaina yang benar-benar terluka dengan perkataannya waktu itu.
"Maafkan aku Za, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Saat itu aku hanya sedang di landa emosi dan tidak tahu kebenarannya. Aku jadi salah faham. Tolong maafkan aku, Za" ucap Gevin dengan tatapan memohon
Zaina menatap Gevin dengan helaan nafas pelan. "Sebenarnya aku tidak pernah merasa keberatan kalau memang kamu mau membela Lolyta pada saat itu. Namun ucapanmu waktu itu benar-benar melukaiku. Aku tahu Mas, kalau kamu memang mencintai Lolyta"
"Gak Za, yang aku cintai itu adalah kamu"
Deg..
Seketika tubuh Zaina mematung mendengar itu.
Zaina masih terdiam di tempatnya, masih terlalu terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Gevin. Masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Gevin yang mengatakan jika dia mencintainya, apa mungkin itu adalah benar atau tidak. Namun hatinya masih belum benar-benar percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gevin barusan.
"Maaf Mas, kamu bisa untuk keluar sebentar. Aku sedang ingin sendiri" lirih Zaina
Gevin terdiam mendengar itu, kini dia mengerti bagaimana rasa trauma dalam hati istrinya bahkan membuat dia tidak bisa langsung menerima ucapannya itu. Bahkan untuk mendengarkan ucapannya itu malah membuat dia terluka dan tidak sanggup untuk menjawabnya.
"Baiklah, tapi asal kamu tahu jika aku memang sangat mencintaimu"
__ADS_1
Gevin keluar dari kamar dan membiarkan Zaina tetap berada di dalam kamar. Dia tahu kalau istrinya membutuhkan waktu untuk sendiri.
Zaina terdiam dengan termenung di atas tempat tidur. Dia tidak pernah menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya. Masih tidak menyangka dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gevin barusan.
"Aku harus bagaimana sekarang, bahkan untuk menjawab ucapannya itu belum bisa dia lakukan"
Zaina masih bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Zaina tidak mungkin bisa langsung percaya dengan ungkapan cinta suaminya barusan, setelah banyaknya hal yang dia lalui selama ini. Bagaimana Zaina yang mendengar sendiri ucapan suaminya yang begitu melukai hatinya. Tidak akan mudah untuk Zaina bisa kembali membuka hatinya.
Zaina keluar dari kamar setelah dia mengatur segala kekacauan dalam diri dan persaannya. Zaina yang tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Namun dia tetap akan bersikap biasa saja pada suaminya itu.
"Sayang, ayo sarapan" ucap Gevin yang sedang duduk di atas sofa
Zaina mengangguk, dia berjalan ke arah ruang makan. Mbak yang tadi sudah menyiapkan sarapan di atas meja makan. Zaina langsung duduk, dan dia benar-benar masih membisu. Masih tidak tahu harus bagaimana bersikap di depan Gevin.
"Sayang, aku..."
"Makan saja dulu, Mas. Aku masih merasa bingung dan tidak bisa memberi jawabannya sekarang. Tolong jangan menanyakan tentang hal yang sama dulu" ucap Zaina, memotong ucapan Gevin agar suaminya itu tidak membahas tentang hal yang tadi.
"Maafkan aku Za, jangan membuat aku kebingungan seperti ini. Apa kamu memaafkan aku?"
Zaina menghela nafas pelan mendengar itu, dia memang tidak pernah membenci suaminya. Namun apa dia sudah memaafkannya? Entahlah.. Yang jelas rasa trauma itu masih ada, ketakutan akan kecewa itu benar-benar membuat Zaina tidak bisa keluar dari jerat kisah masa lalu yang terlalu menyakitkan baginya.
"Mas, aku tidak membencimu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa membenci kamu. Aku juga bingung kenapa bisa sampai seperti ini. Padahal sudah banyak yang kamu lakukan untuk melukai hatiku. Tapi aku tetap tidak bisa membenci"
Gevin terdiam, dia jelas mendengar suara Zaina yang bergetar. Seperti sedang menahan sakit dan juga sedihnya. Rasa sakit yang begitu membuat hatinya terluka.
"Maaf Za, maaf karena aku sudah banyak sekali melukai hatimu" lirih Gevin, hanya kata maaf yang bisa Gevin ucapkan pada istirinya
__ADS_1
Zaina tersenyum, dia mengusap ujung matanya yang cukup berair. "Tidak perlu terus meminta maaf, Mas. Aku sudah memaafkanmu"
######
Gevin pulang ke rumahnya dengan sangat gontai. Dia sudah megucapkan kata cinta pada istrinya, namun tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Membuat dirinya langsung gelisah, takut jika Zaina memang tidak akan pernah mau menerima cinta dan dirinya lagi. Zaina yang terlihat jelas begitu terluka dengan keadaan dirinya saat ini.
"Kak.."
Gevin langsung menoleh pada adiknya yang duduk di sofa ruang tengah. Gevin langsung menghampirinya dan duduk di samping Genara.
"Kenapa Kak?" tanya Genara bingung dengan ekspresi Kakaknya itu.
Gevin menghembsukan nafas berat, dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Mendongak dan menatap langit-langit. "Aku sudah mengungkapkan cinta pada Zaina, namun dia sama sekali tidak memberikan aku jawaban apapun"
Genara menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana Kakaknya yang sekarang memang sudah benar-benar mencintai Zaina. Namun Kakaknya itu terlambat untuk mengungkapkan.
"Begini saja, aku punya rencana yang bagus untuk melihat apa Kak Zaina masih mencintai Kakak atau tidak" ucap Genara dengan senyum penuh misteri
Gevin langsung menatap adiknya dengan kening berkerut. Bertanya apa yang di rencanakan oleh Genara itu, hingga adiknya menceritakan bagaimana tujuan dan rencana yang akan dia buat untuk membantu Kakaknya itu.
"Terserah kamu saja ah, aku mau ke kamar dulu" ucap Gevin
"Tapi Kakak setuju 'kan?" teriak Genara
"Terserah kamu saja"
Genara tersenyum, dia membiarkan Kakanya pergi ke lantai atas. Dia hanya langsung untuk memikirkan rencana yang akan dia lakukan agar Kakaknya dan istrinya bisa kembali bersatu. Jujur saja, Genara sudah merasa jengah melihat Gevin yang terpuruk karena dirinya yang belum bisa mendapatkan kembali hati istrinya.
__ADS_1
"Aku yakin kali ini akan berhasil"
Bersambung