
Seperti saat pagi ini Zaina terbangun, dia jelas merasakan keberadaan suaminya. Namun ternyata ketika dia bangun, Gevin tetap tidak ada. Zaina sangat sedih dan berpikir jika Gevin memang tidak mau melihat dirinya lagi.
"Bunda, apa suamiku tidak datang sampai sekarang?" tanya Zaina pada Jenny.
Jenny mengelus kepala Zaina, dia juga bingung harus bagaimana menjelaskan pada Zaina. Saat ini hubungan anak dan menantunya ini sedang tidak baik-baik saja. Tentunya karena memang keduanya yang merasa rasa bersalah bersama atas meninggalnya anak pertama mereka. Namun pada kenyataannya, tidak seperti itu. Semuanya sudah takdir.
"Kamu istirahat saja dan jangan banyak pikiran apapun. Mungkin suami kamu memang belum bisa datang, karena dia juga ada urusan" ucap Jenny.
Zaina hanya menghgela nafas pelan mendengar itu, tentu saja dia sangat sedih karena sudah tiga hari ini, suaminya sama sekali tidak menemuinya di rumah sakit. "Apa mungkin dia kecewa padaku karena sudah tidak bisa menjaga anak pertama kita ini?"
Jenny menggeleng cepat, dia juga bingung menjelaskan semua ini. Karena memang sebenarnya justru Gevin yang merasa begitu bersalah atas kejadian ini. Tapi Jenny benar-benar bingung bagaimana cara dia menjelaskan semuanya pada Zaina.
"Sebenarnya suami kamu suka datang tengah malam. Dia menemui kamu dan tidur di kursi ini, selalu menemani kamu. Sepertinya Gevin memang belum siap untuk berbicara langsung dengan kamu" jelas Jenny yang akhirnya memberi tahukan tentang semuanya.
Zaina menunduk, dia mengelus pelan perutnya yang sudah rata sekarang ini. Mungkin memang benar, kalau Mas Gevin tidak mau berbicara denganku karena memang dia membenci aku. Dia marah dan kecewa padaku karena tidak bisa menjaga anak kita. Gmamnya.
Jenny meraih kepala Zaina dan memeluknya dengan lembut. Tentu saja dia tidak akan pernah bisa melihat anaknya yang rapuh seperti ini. Sebenarnya anak dan menantunya ini memang sedang dalam keadaan yang sangat rapuh.
"Sabar Nak, semuanya akan kembali baik-baik saja setelah kalian berdua bisa menerima kenyataan yang ada dan tidak terus saling menyalahkan diri kalian sendiri" ucap Jenny.
__ADS_1
Zaina tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja. Memeluk Bundanya dengan sangat lembut, Zaina yang saat ini memang hanya butuh seseorang yang bisa memeluknya dan meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi kenapa suaminya malah tidak menemuinya sama sekali.
#########
Dan malam ini adalah malam terakhir Zaina berada di rumah sakit. Setelah di cek bekas jahitan operasi dan lainnya, maka Dokter sudah mengizinkan dirinya untuk pulang besok pagi.
Seperti malam sebelumnya, Gevin kembali datang ke ruangan ini di waktu tengah malam. Menemui istrinya hanya untuk sekedar mengobati rasa rindunya pada Zaina. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, malam ini Zaina sengaja berpura-pura tidur dan dia ingin melihat suaminya. Apa benar apa yang di ucapkan oleh Bundanya jika Gevin sering datang di waktu tengah malam untuk menemui Zaina.
"Hai Sayangku, maaf ya datang terlambat. Kamu besok pulang ya, akhirnya kamu bisa pulang juga ke rumah. Aku senang sekali mendengarnya" lirih Gevin.
Zaina masih berpura-pura tidur, tapi sebenarnya dia mendengar ucapan Gevin barusan. Rasanya Zaina sangat merindukan suara suaminya itu. Gevin yang selalu berkata dengan lembut padanya. Zaina benar-benar merindukan itu.
"Mas.."
Gevin terdiam ketika mendengar suara lembut istrinya yang memanggilnya, apalagi ketika mata Zaina yang terbuka dan menatapnya dengan lekat. Gevin benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini, sebenarnya dia masih belum bisa bertatapan langsung bersama dengan Zaina seperti ini. Gevin masih sangat merasa bersalah atas apa yang telah terjadi.
"Kenapa Mas? Kenapa tidak mau menemuiku? Padahal saat ini aku hanya butuh seseorang yang bisa memelukku dan memberikan aku semangat dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Tapi Mas, kenapa kamu malah tidak mau menemuiku sama sekali. Kenapa?" tanya Zaina dengan suara bergetar.
GevinĀ terdiam mematung mendengar itu, dia juga tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Ingin menjawab dan langsung meminta maaf, namun semua kata yang ingin dia keluarkan malah tercekat di tenggorokan. Apalagi saat dia melihat tatapan sendu istrinya. Semakin hancur hatinya dan rasa bersalah yang semakin besar saja.
__ADS_1
"Apa Mas kecewa dengan aku yang tidak bisa menjaga anak kita?" tanya Zaina dengan suara yang semakin bergetar.
Gevin langsung menggeleng pelan, dia juga tidak mau kalau istrinya berpikir seperti itu. "Maaf, aku hanya merasa bersalah dengan semua ini"
"Mas, tidak ada yang perlu di salahkan dengan kejadian ini. Karena tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan. Ya, mungkin memang kita tidak di izinkan untuk mempunyai seorang anak untuk saat ini" ucap Zaina pada suaminya yang terus menghindarinya karena merasa bersalah.
Gevin menunduk diam, dia juga bingung kenapa dia bisa seperti ini. Namun menatap Zaina seolah dia mendapatkan luka yang besar untuk dirinya itu.
"Maaf Za, tapi aku benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri saat ini. Aku tidak bisa untuk membahas tentang hal ini untuk saat ini" ucap Gevin yang langsung berlalu keluar ruangan.
"Mas.." Zaina ingin berteriak memanggil suaminya, namun jahitan di perutnya terasa sakit sampai dia tidak bisa melakukan itu.
Zaina menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis dengan lirih karena tidak mau membangunkan Bunda yang sedang tidur di sofa. Kasihan dia karena pasti sangat kelelahan menjaga Zaina selama ini. Meski dibantu dengan Ibu dan Genara juga, namun tetap Bunda yang menjaga Zaina lebih lama.
Kenapa Mas Gevin jadi seperti itu, apa dia benar-benar marah padaku karena aku tidak bisa memberikannya keturunan. Aku yang salah karena sudah tidak bisa menjaga anakku selama ini.
Zaina benar-benar terluka dengan sikap suaminya itu. Dia juga bingung kenapa suaminya bisa sampai seperti itu. Gevin yang bahkan langsung pergi meninggalkan Zaina hanya karena alasan dia belum siap membahas tentang hal ini. Apa benar hanya karena itu, atau mungkin ada hal lain? Zaina jadi takut sendiri bagaimana nantinya dia akan mengalami hal yang sama lagi dengan suaminya. Pernikahan yang tidak sehat.
Semalaman ini Zaina benar-benar tidak bisa tidur. Terus memikirkan tentang suaminya yang tiba-tiba saja berubah begitu dingin. Seandainya saja dia bisa menjaga bayinya, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
__ADS_1
Bersambung