Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Masih Takut Kehilangan!


__ADS_3

Zaina yang sedang makan buah-buahan segar yang sudah di potong-potong kecil di atas piring itu, langsung terkejut saat tiba-tiba suaminya sudah pulang. Gevin langsung duduk di samping Zaina dan memberinya kecupan di pipi.


"Mas, jam segini kok udah pulang? Tumben banget?" ucap Zaina.


Gevin menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. "Aku tidak bisa fokus bekerja hari ini, ingat terus sama kamu. Apalagi sekarang di rumah hanya sama Mbak saja. Aku takut kamu kenapa-napa"


Padahal nyatanya Zaina juga baik-baik saja, entah apa yang Gevin takutkan. Mungkin dia hanya takut untuk kehilangan lagi. Apalagi saat kehilangan bayi mereka saja, Gevin sudah benar-benar hacur, apalagi jika kehilangan istrinya ini.


Zaina mengelus kepala suaminya yang bersandar di bahunya itu. Tersenyum tipis dengan kelakuan suaminya yang memang terkadang sedikit membuat heran. Jelas Zaina baik-baik saja, tapi dia malah mngkhawatirkan Zaina dengan segitunya.


"Mas, aku 'kan baik-baik saja. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana keadaan aku yang memang baik-baik saja" ucap Zaina.


Gevin hanya diam, tangannya mengelus perut Zaina dengan lembut. "Apa masih sakit bekas operasinya?"


Zaina menggeleng pelan, memang masih terasa ngilu. Tapi dia merasa sudah lebih baik. "Sudah tidak papa, kamu tenang saja Mas. Aku baik-baik saja, kenapa kamu harus khawatir seperti ini sama aku?"


Gevin menghembuskan nafas pelan, dia memeluk Zaina dan menyembunyikan wajahnya di leher Zaina. "Sayang, aku juga tidak mengerti apa yang aku rasakan. Tapi aku hanya takut kehilangan lagi"


Zaina menghembuskan nafas pelan, dirinya juga tahu bagaimana rasanya kehilangan. Dan dia juga tidak ingin mengalami hal yang sama lagi. Mungkin Gevin memang sudah terlihat baik-baik saja sekarang. Tapi hatinya masih menyimpan luka yang dalam atas apa yang terjadi.


"Kamu tidak akan kehilangan siapapun lagi Mas. Kecuali memang sudah takdir Tuhan, maka kita bisa apa? Kita tidak akan bisa melakukan apa-apa. Jadi kamu tenang saja ya, aku janji akan memberikan lagi kamu seorang anak nanti. Aku akan berusaha menjadi istri yang sempurna untuk kamu"


Gevin menggeleng pelan mendengar ucapan Zaina. Bukan itu maksudnya, Zaina tidak salah apapun dalam hal ini. "Kamu sudah menjadi istri yang sempurna Sayang, jadi jangan pernah menganggap jika apa yang terjadi ini adalah kesalahanmu. Karena kamu tidak salah apapun"

__ADS_1


Zaina hanya tersenyum dan memeluk Gevin saja.


#########


Genara tersenyum sendiri mengingat tentang kejadian tadi siang. Bagaimana dirinya yang berhasil mendapatkan nomor ponsel milik Aldo. Genara senang sekall. Ah, mungkin memang aku yang sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Aa.. Aku tidak bisa melupakan wajahnya itu.


Genara yang benar-benar sedang di mabuk asmara saat ini. Senang juga karena dirinya bisa lebih mendekatkan diri pada Aldo. Meski sadar jika Aldo masih sangat menjaga jarak darinya.


"Ah, aku coba menghubunginya. Aku harus mendekatkan diri padanya, agar dia tidak merasa canggung lagi padaku"


Genaran meraih ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia melihat bagaimana kecanggungan yang masih sangat terlihat jelas di tatapan mata Aldo.


"Em, aku kirim pesan apa ya?" Bergumam sendiri sambil mencoba untuk mengetikan sesuatu di ponselnya itu. Tentu saja dia bingung harus memulai seperti apa.


Hai, ini aku Genara.. Bagaimana motornya?


"Masa udah menanyakan hal motor saja. Kan baru saja tadi di bawa ke bengkel, pastinya belum selesai di perbaiki juga"


Genara berpikir sangat keras untuk mencoba mengirimkan pesan pada Aldo agar dirinya tidak merasa malu saat mengirim pesan itu. Harus pesan yang terlihat biasa saja, jangan sampai dia sadar kalau aku itu memang suka padanya.


Hai Kak, ini Genara. Di save ya.


Send.. Akhirnya Genara memilih untuk sekedar memberi tahu saja jika itu adalah nomor ponselnya. Meski dirinya sangat ingin mengobrol lebih jauh lagi pada Aldo.

__ADS_1


Aaa.. Aku malu sendiri jadinya. Genara membalikan tubuhnya jadi tengkurap di atas tempat tidur itu. Merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa mempunyai nomor ponsel Aldo dengan cara dia sendiri. Tidak meminta dari Kakak iparnya.


Menunggu cukup lama dan Genara tidak mendapatkan balasan apapun dari Aldo. Ah, mungkin dia memang sedang sibuk. Dia 'kan guru, pasti sibuk dengan nilai-nilai muridnya. Aaa,, tapi aku ingin dia membalas pesanku. Genara kembali menatap ponselnya, dan dia hanya melihat dua centang biru yang artinya jika Aldo sudah membaca pesan yang dia kirim. Namun mungkin memang Aldo tidak berniat membalasnya.


"Ck, memang tidak di balas ternyata. Ah, bikin kesal saja"


Genara memilih untuk scrol media sosialnya yang tidak menarik sebenarnya. Hanya sedang menghilangkan kebosanan saja. Karena menunggu balasan dari Aldo tapi tetap tidak ada pesan masuk dari pria itu.


########


Duduk bersandar di atas tempat tidur dengan Zaina yang memeluk tubuh suaminya. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.


"Mas, bagaimana ya hubungan Genara dan Aldo. Apa mereka berlanjut jadi temanlah dulu setidaknya 'kan" ucap Zaina.


Genara mengelus rambut istrinya, mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Sepertinya kamu semangat sekali untuk menjodohkan mereka berdua. Padahal aku tidak suka dengan pria itu"


Kenapa masih saja cemburu buta tidak jelas si. Dia itu bukan siapa-siapa aku juga, masa aku tidak boleh berteman dengan siapapun. Zaina benar-benar merasa heran dengan suaminya yang memiliki tingkat kecemburuan yang sangat tinggi. Padahal jelas dirinya sudah beberapa kali menjelaskan jika Aldo itu hanya teman saja. Tidak lebih dari itu.


"Sudahlah Mas, kenapa masih saja tidak suka pada Aldo. Padahal dia itu orangnya sangat baik loh. Mas harus mengenal dia lebih dulu. Karena nantinya Mas akan mengerti bagaimana Aldo yang memang baik" ucap Zaina sambil mendongakan wajahnya dan menatap wajah suaminya yang terlihat tidak suka dengan apa yang Zaina ucapkan barusan.


"Aku tidak suka, apalagi kamu sampai membelanya seperti itu. Memuji dia itu baik, memangnya aku tidak baik apa" kesal Gevin.


Zaina hanya terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya itu yang terkadang memang d luar nalar. Namun Zaina senang karena akhirnya dia bisa benar-benar mendapatkan hati suaminya. Seutuhnya.

__ADS_1


"Mas, aku senang deh kamu cemburu seperti itu padaku. Meski ya, cemburu kamu itu tanpa dasar yang jelas. Tapi dengan begitu aku bisa merasakan jika aku ini memang benar-benar kamu cintai" ucap Zaina, mengeluarkan isi hatinya.


Bersambung


__ADS_2