Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Masih Belum Siap Menikah


__ADS_3

Detik jarum jam yang terus berbunyi, memecah keheningan di ruangan ini. Tidak ada yang bersuara, padahal ada dua orang yang berada di tempat ini. Seolah keduanya mengunci mulut untuk tidak berbicara atau mengucapkan satu patah kata pun. Suasana hati yang belum membaik membuat keduanya harus memiliki keberanian yang cukup untuk memulai pembicaraan. Takut jika nantinya malah memancing pertengkaran kembali.


Sesekali Genara melirik ke arah kekasihnya, ingin sekali membuka suara untuk membuka pembicaraan ini. Namun dia juga tidak tahu harus melakukan apa untuk saat ini. Dirinya sendiri yang tidak mempunyai waktu untuk bertemu karena terus memikirkan tentang pembicaraan mereka saat bertemu kali ini. Jadi untuk  saat ini Genara benar-benar mencoba menyelesaikan semuanya.


"Kak, jadi kita akan seperti ini sampai kapan?" tanya Genara.


Aldo menghela nafas pelan, dia menatap kekasihnya itu dengan lekat. Sebenarnya beberapa hari ini juga cukup membuatnya kacau dan tidak tahu harus melakukan apa untuk permasalahannya bersama dengan Genara.


"Aku juga tidak tahu harus melakukan apa, tapi memang saat ini aku tidak siap untuk menikah" ucap Aldo.


"Tapi sampai kapan Kak? Sampai kapan Kakak tidak siap menikah denganku?" tanya Genara dengan menatap kekasihnya itu.


Aldo menghembuskan nafas kasar, dia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Genara yang membuatnya lemah. "Aku belum pantas jadi suami kamu. Kamu tahu sendiri pekerjaan aku yang seperti ini, jelas sangat berbanding terbalik dengan pekerjaan kamu. Aku dan kamu memang terlalu berada di perbedaan yang jauh"


Genara berdiri dan menatap Aldo dengan tatapan mata yang sudah berkaca-kaca. Dirinya yang masih tidak habis pikir pada Aldo yang terus menganggap status sosial sebagai penghalang dari kebersamaan mereka berdua.


"Kak, apa pernikahan harus karena status sosial yang sama. Aku tahu jika sebuah pernikahan memang membutuhkan uang. Tapi ingat Kak, tidak semuanya juga harus dengan uang. Karena apa? Karena terkadang kebahagiaan juga bisa datang dari hal sederhana yang bukan karena uang" ucap Genara berapi-api.


Aldo menghembuskan nafas kasar, sekarang dirinya semakin bingung dengan keadaan saat ini. "Gen, memangnya kalau kita menikah sekarang. Apa kamu bisa menjamin kita tidak akan kesulitan, atau kamu bisa menjamin kalau kamu tidak akan menyesal karena terburu-buru menikah denganku?"


"Ini tidak terburu-buru Kaka, memang diriku ini sudah pasti untuk pilihan ini. Aku ingin menikah dan hidup bersama Kakak selamanya. Aku tidak memikirkan hal lain lagi, karena nantinya juga akan berjalan saja tanpa harus ketakutan dengan apa yang kita pikirkan sebelumnya"

__ADS_1


Aldo meraih tangan Genara, dia menariknya perlahan agar Genara kembali duduk disampingnya. "Duduk dulu, kita bicarkan baik-baik. Jangan terpancing emosi seperti ini. Gen, aku tahu bagaimana kamu yang sekarang begitu ingin menikah. Tapi apa kamu benar-benar yakin dan siap secara lahir batin untuk menjalani pernikahan kedepannya. Sebuah pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang menyatu dan tinggal dalam satu atap. Tapi harus menyatukan dua sifat dan watak orang itu juga untuk saling mengerti dan saling menghargai"


Genara terdiam beberapa saat, dia mengerti maksud dari kekasihnya itu. "Aku siap, karena umur kita yang sekarang sudah cukup untuk menikah dan memulai kehidupan yang baru. Apa kamu tidak mau?"


"Aku mau, tentu saja aku mau menikah denganmu dan menjalani kehidupan baru bersamamu. Tapi aku tidak bisa jika harus menikah dengan tergesa-gesa seperti ini" ucap Aldo yang masih teguh dengan pendiriannya. Merasa jika dirinya memang belum siap untuk menikah.


Genara menghembuskan nafas kasar, dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Di ruang tamu sederhana rumah Aldo ini, hanya ada mereka berdua. Kedua orang tua Aldo masih berada di sekolah, sementara adiknya masih sekolah juga. Aldo yang hari ini tidak ada jadwal mengajar, membuat dia tidak pergi ke sekolah.


"Terserah kamu saja deh, aku sekarang tidak akan lagi membicarakan tentang pernikahan lagi. Aku hanya akan menunggu sampai kamu siap dengan pernikahan ini" ucap Genara.


Ado mengelus kepala Genara dengan lembut, terkadang sering merasa lucu dengan tingkah kekasihnya yang masih terlalu labil ini meski usianya sudah dewasa.


"Kenapa si harus buru-buru menikah, nanti juga kita pasti menikah. Tapi tidak untuk sekarang ini" ucap Aldo dengan lembut.


########


Zaina menghampiri suaminya yang baru saja selesai mandi setelah pulang bekerja. Gevin terlihat begitu lelah, Zaina memberinya teh untuk diminum oleh Gevin. 


"Minum teh nya Mas, jangan kopi dulu" ucap Zaina yang duduk di samping suaminya itu.


Gevin mengangguk, dia menoleh pada Zaina sambil tersenyum. "Sayang, hari ini Genara ada datang kesini tidak?"

__ADS_1


Zaina menggeleng pelan. "Seharian ini aku tidak kedatangan siapapun. Genara juga tidak ada datang kesini. Memangnya kenapa?"


"Dia tidak masuk bekerja dan tidak memberikan alasan yang jelas kenapa dia tidak datang bekerja. Padahal dari rumah berangkat, kata Papa. Gak tahu kemana perginya anak itu" ucap Gevin, dia meraih secangkir teh yang dibuat istrinya, lalu meminumnya sedikit.


Zaina menyandarkan kepalanya di bahu Gevin. "Mungkin memang ada urusan mendadak kali Mas, kamu jangan salah sangka dulu"


Gevin tidak menjawab, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Mungkin memang begitu"


Zaina memeluk suaminya, tangannya melingkar di perut suaminya itu. Waktu berdua seperti ini harus di manfaatkan untuk berbincang, karena seperti itulah cara memperkuat komunikasi dalam pernikahan. Ketika keduanya sibuk, tetap harus ada waktu untuk sedikit berbincang agar tidak memutuskan komukasi suami istri ini.


"Mas, kalau misalkan disini ada seorang anak pastinya akan ramai" ucap Zaina, tiba-tiba saja dia merindukan kehadiran seorang anak dalam rumah ini.


Gevin meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan lembut, lalu dia mengecup punggung tangan istrinya itu. "Nanti akan ada anak yang meramaikan rumah ini, Sayang. Kamu tenang saja. Lagian 'kan kita sedang berusaha untuk bisa menghadirkan seorang anak diantara kita ini"


Zaina mengangguk, semoga saja memang dirinya akan segera hamil dan memberikan keturunan untuk suaminya. Sudah lama sekali dia mengharapkan saat itu tiba, semoga saja akan segera.


"Mas, semoga saja kali ini usaha kita tidak akan sia-sia ya. Semoga saja kita akan mempunyai anak yang banyak" ucap Zaina yang selalu antusias jika sudah membicarakan tentang anak.


Gevin terkekeh mendengar itu, dia mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Memangnya kamu ingin punya anak berapa?"


Zaina terlihat berpikir sejenak, dia memang ingin suasana ramai. Seperti saat dia masih tinggal bersama keluarganya. "Sepertinya tiga cukup deh, biar kayak aku dan adik-adik"

__ADS_1


Gevin hanya tersenyum mendengar itu.


Bersambung


__ADS_2