
Ketika malam ini masih terasa mencekam, apalagi ketika dia melihat Dokter yang sudah keluar dari dalam ruangan operasi. Dokter membuka maskernya dan menatap anggota keluarga yang sedang menunggu kabar baik darinya.
"Bagaimana Dok?" tanya Zaina yang sudah tidak sabar untuk mengetaui keadaan suaminya saat ini.
"Pasien sudah di tangani, semoga saja bisa dengan segera melewati masa kritisnya. Semuanya banyak berdo'a saja" ucap Dokter.
Tubuh Zaina semakin lemas, dia tahu bagaimana sekarang suaminya yang masih belum dikatakan baik-baik saja. Pastinya Gevin yang masih dalam keadaan kritis dan masih belum bisa di bilang baik-baik saja.
"Tenang sayang, Gevin akan baik-baik saja. Kamu tenang saja"
Vania yang terus menenangkan Zaina, meski dirinya sendiri tidak setenang itu untuk memikirkan tentang keadaan anaknya itu.
Akhirnya setelah Gevin dipindahkan ke ruang rawat, Zaina baru bisa melihat keadaan suaminya ini. Zaina menatap suaminya yang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bagaimana kepala Gevin yang di perban, leher yang memakai gifs dan juga selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Rasanya terlalu menyedihkan untuk melihat keadaan suaminya saat ini. Zaina tidak bisa menahan air matanya yang terus menetes begitu saja.
"Bangun dong Mas, jangan membuat aku sedih begini. Katanya tadi mau pulang cepat, kenapa malah ke rumah sakit seperti ini. Aku menunggu kamu loh Mas" ucap Zaina dengan suara bergetar dan isak tangis yang mengiringi.
Zaina mengelus tangan suaminya yang juga memakai gifs. Sepertinya tangan Gevin juga mengalami patah tulang. Zaina merasa sangat lemah saat ini, ketika dirinya melihat keadaan suaminya yang seperti ini sekarang.
"Mas, ayo bangun. Aku menunggu kamu" bisik Zaina di telinga suaminya dengan tangisan yang pecah.
Vania yang sejak tadi duduk di sofa, dia langsung menghampiri menantunya dan mengelus punggung Zaina yang bergetar akibat tangisan yang begitu kencang. "Sayang, kamu tenang ya. Pasti Gevin akan segera sadar, kita tunggu dan banyak berdo'a"
Zaina hanya mengangguk saja, dia menyandarkan kepalanya di sisi kepala suaminya. Dia tidak ingin jauh-jauh dari Gevin untuk saat ini. Dia takut jika suaminya akan kenapa-napa.
"Aku akan menunggunya disini Bu, kalau Ibu mau pulang, bisa pulang saja. Biar Zaina saja yang menunggu Mas Gevin disini" ucap Zaina.
__ADS_1
"Ibu akan menunggu kamu disini, biarkan Papa dan Genara saja yang pulang" ucap Vania sambil mengelus punggung menantunya ini.
Semalaman Zaina hanya duduk diam di dekat ranjang pasien dengan menyandarkan kepalanya di sisi ranjang. Bahkan dia tertidur juga dengan posisi seperti itu. Hingga pagi ini dia baru menyadari ada sesuatu yang beregerak mengenai jari tangannya, membuat Zaina langsung bangun dan menatap ke arah tangan Gevin yang bergerak-gerak.
"Mas.."
Zaina yang terkejut dan juga senang, dia langsung menatap ke arah wajah Gevin. Suaminya itu sudah mengerjap-ngerjapkan matanya yang perlahan terbuka. Sungguh Zaina sangat senang sekali ketika dia melihat suaminya yang pagi ini sudah bisa membuka matanya. Segera Zaina menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.
"Ibu, Mas Gevin sudah sadar" teriak Zaina ketika menoleh dan melihat Ibu mertuanya yang masih terlelap di atas sofa.
Mendengar teriakan dari Zaina, membuat Vania langsung bangun dan menghampirinya. Dia tersenyum bahagia ketika melihat anaknya yang sudah sadarkan diri sekarang.
"Ya ampun Nak, Ibu benar-benar sangat takut kamu tidak akan sadarkan diri lagi"
Zaina langsung memeluk Ibu dengan bahagia, dia menatap suaminya yang masih belum bisa melakukan apa-apa karena tubuhnya yang masih terbatasi gerak tubuhnya.
"Kalau memang sakit, jangan di paksakan dulu" ucap Dokter.
Gevin langsung melirik pada istrinya, dia ingin istrinya berada di dekatnya. Melihat lirikan mata Gevin ke arahnya, membuat Zaina langsung mendekatinya. Dia duduk di kursi samping ranjang pasien, mengelus lembut pipi suaminya.
"Ini Mas, aku disini. Mas harus segera sembuh ya, aku mau berikan hadiah untuk kamu" bisik Zaina di telinga suaminya.
"Sebaiknya seperti itu Nona, ajak bicara terus hingga pasien ingin mengungkapkan kata-kata. Nanti suaranya akan segera kembali normal" ucap Dokter.
Zaina mengangguk, bisa melihat suaminya yang kembali sadar saja sudah sangat baik untuknya. Setidaknya Gevin sudah bisa melewati masa kritisnya. Zaina yang sekarang merasa sangat senang ketika melihat suaminya sudah bisa membuka mata, meski masih belum bisa melakukan apapun atau berkata apapun.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya Mas"
Dengan lembut dan telaten, Zaina mengelap tubuh Gevin dengan air hangat dan handuk kecil. Gevin hanya menatapnya, dia ingin sekali mengatakan sesuatu pada istrinya itu dan memeluknya jika dia bisa. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan itu.
Papa Gara yang datang siang hari ketika dia mendengar anaknya sudah sadar. Papa Gara baru saja selesai dari tempat kejadian peristiwa kecelakaan Gevin bersama dengan anggota kepolisian. Untuk menyelidiki tentang kecelakaan Gevin yang terjadi tadi malam.
"Bagaimana keadaan Gevin?" Tanya Papa Gara pada Ibu.
"Masih belum bisa melakukan apa-apa, bicara pun masih belum bisa karena lehernya sakit ketika dia berbicara. Tapi bersyukur karena sekarang dia sudah sadarkan diri" ucap Ibu.
Papa mengangguk, dia melirik menantunya yang sejak tadi berada di samping Gevin. Seolah tidak mau sedetik saja meninggalkan suaminya itu. Sekarang Papa Gara merasa sangat bangga karena dia telah menyerahkan anak laki-lakinya pada wanita seperti Zaina yang selalu memberikan perhatiannya pada Gevin.
"Bu, ada yang mau Papa bicarakan sebentar lagi. Ayo kita keluar" ucap Papa Gara.
Vania mengangguk, dia izin pada Zaina untuk keluar ruangan. Dan Zaina mengangguk saja. Dia yang masih fokus pada suaminya. Tangannya tidak henti mengelus punggung tangan Gevin yang tidak kena gifs.
"Sa-yang"
Zaina langsung menoleh ke arah suaminya ketika mendengar suara serak dan lirih itu. Zaina tersenyum saat Gevin yang sudah mulai berusaha untuk berbicara padanya, meski dia belum bisa berbicara banyak karena lehernya yang masih terasa sakit.
"Iya Mas, aku berada disini. Jangan terlalu banyak bicara dulu, nanti lehernya sakit lagi" ucap Zaina dengan lembut.
Gevin mengedipkan mata, seolah dia sedang menganggukan kepalanya menuruti ucapan Zaina saat ini. Hal itu membuat Zaian tersenyum. Dia berdiri dan membungkukan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipi Gevin.
"Aku mencintaimu, Gevin. Jadi cepat sembuh"
__ADS_1
Gevin hanya menatap Zaina dengan matanya yang berkaca-kaca. Sangat terharu dengan cinta tulus yang diberikan istrinya itu padanya. Dan Gevin ingin segera sembuh sekarang.
Bersambung