
Mengungkapkan cinta? Genara yang masih terngiang dengan ucapan Ibu yang memintanya untuk mengatakan cinta pada Aldo. Seolah memang Genara harus mengungkapkan perasaannya itu. Tapi dirinya juga tidak bis amelakukan itu, tidak terlalu berani karena sudah membayangkan bagaimana nanti reaksi Aldo ketika dia dengar tentang pengungkapan cinta dirinya pada dia.
"Aduh, aku harus gimana ya? Mengungkapkan cinta benar-benar bukan hal yang mudah"
Genara berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Genara berniat untuk pergi ke rumah Kakaknya hari ini. Dia ingin bercerita saja, karena Zaina yang juga pernah mengalami hal yang sama dengan Genara, membuat dia bisa mencari tahu bagaimana cara mengatasi perasaannya saat ini.
Sampai di rumah Kakaknya, Genara langsung disambut hangat oleh Zaina. Tentu saja, karena Zaina juga sangat senang jika adik iparnya itu datang ke rumah. Membuat dia tidak terlalu kesepian.
"Kak, aku bingung.." Genara langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan wajah yang cemberut.
Zaina hanya tersenyum saja melihat kelakuan adik iparnya itu. Dia duduk di kursi tunggal yang ada disana. "Bingung kenapa lagi? Memangnya kamu kenapa?"
Genara menatap Kakak iparnya itu dengan menghembuskan nafas pelan. "Kak, aku bingung dengan semuanya. Kata Ibu, aku harus mengungkapkan perasaan aku pada Kak Aldo. Tapi aku tidak seberani itu juga"
Genara menjatuhkan kepalanya ke atas sofa, menyembunyikan wajahnya di sofa dengan tangan memukul-mukul sofa dengan kesal. Kesal karena dirinya tidak bisa mengungkapkan perasaan cinta itu. Kesal karena Genara tidak bisa mempunyai keberanian untuk sekedar mengungkapkan cinta pada Aldo.
Zaina menghela nafas pelan, tentu saja dia juga pernah merasakan hal yang sama. Bagaimana sakitnya menahan perasaan dan ternyata memang dirinya yang juga harus mempunyai keberanian yang besar untuk mengungkapkan perasaan cintanya.
"Mungkin memang benar apa yang Ibu katakan. Sebaiknya coba saja kamu ungkapkan perasaan kamu itu. Karena takutnya nanti kamu malah terlambat mengungkapkan perasaan kamu dan malah keduluan sama orang lain"ucap Zaina.
Genara langsung menoleh ke arah Zaina, menatap Kakak iparnya dengan bingung. Dia kembali bangun duduk tegak di atas sofa. "Tapi gimana caranya Kak? Aku tidak tahu harus mulai darimana"
Sebenarnya Zaina juga tidak tahu harus membantu seperti apa tentang apa yang di alami oleh adiknya itu. Namun entah bagaimana dirinya yang harus mengungkapkan semuanya. Zaina juga mencoba berpikir bagaimana caranya untuk membantu Genara mengungkapkan perasaannya pada Aldo.
__ADS_1
"Begini saja, kamu tunggu sebentar ya" ucap Zaina yang berlalu darisana.
Zaina pergi ke kamarnya dan mengambil ponslenya, dia menghubungi Aldo hanya untuk membantunya pergi dan datang ke rumahnya. Sengaja tidak memberi tahu Genara agar dia tidak menghindar.
Karena mau sampai kapan adik iparnya itu selalu bercerita padanya tanpa bisa melakukan apapun tentang perasaan yang saat ini dia rasakan. Zaina segera kembali ke ruang tengah dan menemui Genara.
"Kamu tunggu saja sebentar disini ya, Kakak mau antarkan makan siang dulu ke Kantor Mas Gevin. Tadi dia yang suruh, kalau mau apa-apa ada Mbak kok" ucap Zaina.
"Yah, kok malah pergi si Kak, padahal aku ingin bercerita banyak sama Kakak" ucap Genara dengan nada penuh kekecewaan.
Zaina hanya tersenyum saja, dia mengelus kepala Genara. "Udah ah, hanya sebentar kok. Hanya antar makan siang saja, kalau tidak dituruti nanti Kakak kamu marah"
"Ck, biarkan saja dia ngambek" ucap Genara dengan helaan nafas kesal.
Zaina hanya tersenyum mendengar itu, dia tidak menghiraukan ucapan adik iparnya lagi. Zaina segera pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal. Sebenarnya dia sengaja pergi agar nanti ketika Aldo datang, Genara bisa mempunyai waktu berdua lebih lama. Dan semoga saja Genara bisa mengungkapkan perasaannya pada Aldo.
Zaina sampai di perusahaan suaminya dengan menggunakan taksi. Lalu dia segera ke ruangan suaminya yang sudah di tunjukan oleh asistennya itu. Zaina mengetuk pintu sebelum langsung membuka pintu ruangan suaminya ini. Melihat Gevin yang masih fokus dengan sebuah berkas di tangannya, kacamata baca bertengger di hidungnya membuat dia semakin terlihat tampan dan berwibawa.
"Mas"
Panggilan lembut itu membuat Gevin langsung mendongak dengan membenarkan kacamatanya. Dia cukup kaget ketika melihat istrinya yang datang.
"Loh Sayang, kenapa kamu datang tidak bilang-bilang sama aku?" tanya Gevin, memang tidak ada rencana dari awalnya jika Zaina akan datang di waktu makan siang.
__ADS_1
Apa yang Zaina ucapkan pada Genara tadi hanyalah sebuah alasan saja agar dia bisa meninggalkan Genara disana dan ketika nanti Aldo datang, maka keduanya bisa berbicara lebih dekat lagi. Semoga saja. Zaina berjalan ke arah sofa yang berada di ujung ruangan, duduk disana dan menyimpan paper bag yang dia bawa di atas meja.
"Aku tiba-tiba ingin datang saja dan makan siang bersama denganmu, Mas" ucap Zaina sambil tersenyum pada suaminya.
Gevin langsung berdiri dan menghampiri istrinya itu. Dia duduk disamping Zaina, memberikan sebuah kecupan di kening istrinya itu. "Tumben sekali, padahal jika sengaja saja aku suruh datang kesini pastinya tidak mau"
Memang seperti itu Zaina, dia hanya merasa malu saja saat harus datang ke perusahaan suaminya. Merasa jika dirinya bukan siapa-siapa disini dan tidak mempunyai pengalaman apapun dalam bisnis. Jadi Zaina berpikir jika dirinya juga percuma datang ke perusahaan suaminya, karena nantinya hanya akan membuat Gevin terganggu saja waktu bekerjanya.
"Hanya sedang ingin datang saja, memang biasanya aku malas datang kesini karena takut mengganggu pekerjaan kamu. Apa sekarang juga mengganggu kamu bekerja?" tanya Zaina dengan melirik tumpukan berkas di atas meja kerja Gevin.
Gevin menggeleng cepat, tentu saja dia tidak merasa terganggu sama sekali dengan kedatangan istrinya ini. "Aku malah sangat senang dan merasa telah kembali lagi bersemangat saat melihat kamu berada disini sekarang"
Zaina tersenyum mendengar itu, dia membuka paper bag dan menyiapkan makanan yang dia bawa di atas meja. Mengambil minum dan meletakannya juga di atas meja.
"Kalau begitu ayo segera kita makan sekarang" ucap Zaina.
Gevin menatap makanan yang dibawa oleh istrinya. Semuanya memang terlihat begitu mneggiurkan, membuat Gevin langsung menelan ludah kasar. "Semuanya terlihat enak sekali. Ayo segera kita makan Sayang, aku sudah tidak sabar"
Zaina tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang memang sangat menginginkan makanan yang berada di atas meja itu. Zaina langsung mengambilkan makanan itu dan meyuapi suaminya. Menerima suapan dari istrinya, tentu saja membuat Gevin senang sekali. Tanpa menolak, dia langsung menerima suapan dari Zaina dan melahap makanan itu.
Siang itu keduanya makan bersama di dalam ruangan Gevin. Dan perasaan Gevin yang semakin bahagia karena bisa merasakan makan siang bersama dengan istrinya di Kantor seperti ini.
"Sayang, aku benar-benar mempunyai semangat baru untuk bekerja" ucap Gevin.
__ADS_1
Zaina hanya tersenyum, dia mengambil tisu dan mengelap bagian sudut bibir suaminya yang sedikit berlepotan. Hal sederhana ini yang membuat keduanya bahagia.
Bersambung