
"Tidak! Ini hanya milikku" tegas Zaina
Gevin langsung menahan lengan Zaina agar menghentikan langkahnya. Membuat tubuh Zaina berputar dan menghadap ke arahnya dengan memegang bahu Zaina dan memutar tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa membohongiku, Za. Tidak mungkin jika dia ini bukan anakku" ucap Gevin tajam, tangannya mencoba untuk mengelus perut Zaina.
"Dia hanya milikku" ucap Zaina yang masih saja tegas untuk tetap memiliki anak dalam kandungannya ini.
"Cukup Za. Dia adalah anak kita" ucap Gevin lembut, tangannya sampai bergetar ketika dia mengelus perut Zaina. Rasa haru dan bahagia langsung menjalar ke hatinya.
Masih seperti mimpi besar ketika Zaina harus bertemu dengan suaminya setelah hampir 7 bulan ini mereka tidak pernah bertemu. Waktu yang berlalu tidak terasa, namun sesingkat itu hidup hingga Zaina lebih memutuskan untuk pergi dari kehidupan Gevin karena dia yang tidak mau terus bersama Gevin dan malah membuat dirinya terus tersakiti. Namun kenyatannya, saat ini mereka malah kembali bertemu.
Masih berada di taman dengan Gevin yang masih mengelus perut istrinya. Hatinya bergetar ketika dia merasakan sebuah pergerakan di dalam perut istrinya. Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
"Sayang, ini Papa Nak" lirih Gevin, dia membungkukan tubuhnya dan mengecup lembut perut buncit Zaina.
Tess..
Air mata Zaina juga ikut menetes begitu saja, dia juga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ketika suaminya yang sudah bertemu dengannya saat ini, entah harus bagaimana Zaina mengambil sikap. Namun hatinya benar-benar hancur ketika dia melihat suaminya yang mencium perutnya, ada getaran berbeda di hatinya.
"Mas, aku mohon untuk memberi aku waktu. Aku butuh untuk memikirkan keputusan apa yang akan aku ambil" ucap Zaina pada suaminya
Gevin menghela nafas pelan, dia cukup mengerti dan tidak mungkin bisa memaksa istrinya untuk langsung kembali padanya setelah apa yang dia lakukan pada Zaina selama ini.
"Tapi aku harus tahu dimana kamu tinggal selama ini? Bahkan aku sudah mencari kamu ke rumah orang tua kamu, tapi kenapa kamu tidak ada disana. Lalu selama ini kamu tinggal dimana?" ucap Gevin yang masih merasa bingung dengan keberadaan Zaina selama ini
__ADS_1
"Aku tinggal di tempat yang kamu mengetehuinya juga"
Gevin mengerutkan keningnya dengan bingung, dia tahu tempat dimana Zaina tinggal? Tapi jelas selama ini dia tidak pernah bisa menemukan keberadaannya.
"Memangnya dimana kamu tinggal selama ini?" tanya Gevin dengan rasa penasaran yang tinggi
Zaina tersenyum tipis, dia juga terkadang merasa aneh ketika Ibu mertuanya meminta dia untuk tinggal di rumah mereka yang satu lagi. Ternyata memang ini maksud Ibu mertunya, karena Gevin tidak akan pernah berpikir jika Zaina berada di rumah itu.
"Aku tinggal di rumah Ibu yang katanya rumah untuk kamu, tapi tidak pernah mau kamu tinggali" ucap Zaina
Mendengar itu tentu saja Gevin langsung terkejut mendengar itu. Merasa sangat tidak percaya dengan ucapan Zaina barusan. Ternyata selama ini istrinya itu berada dekat dan masih di sekitar dia. Namun dia yang bodoh sampai tidak menemukan keberadaannya.
"Sial, ternyata Ibu yang menyembunyikan kamu selama ini" kesal Gevin
Zaina hanya tersenyum, dia melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Gevin yang masih di landa kekesalan itu. Gevin segera menyusul Zaina yang sudah pergi lebih dulu darinya.
"Aku mau pulang ke rumah yang itu saja, sudah hampir gelap juga"
Gevin pun tidak bisa melakukan apa-apa, dia tidak boleh banyak memaksa Zaina untuk ikut dengan segala keinginannya. Takut jika nantinya Zaina akan pergi lagi dan Gevin tidak akan bisa menemuinya lagi.
"Yaudah, tapi aku antar ya" ucap Gevin dengan lembut
Zaina hanya mengangguk, nyatanya hatinya tidak bisa membenci Gevin. Disaat pria itu kembali, nyatanya dia tidak bisa membencinya. Selama ini dia hanya sedang marah dan kecewa, bukan benci. Begitulah yang di tafsirkan Zaina dengan perasaannya saat ini.
Zaina masuk ke dalam mobil suaminya, dia menatap Gevin yang sudah siap di balik kemudi. Ada getaran kerinduan dalam hati dan dirinya. Nyatanya, Zaina tetap tidak bisa menghilangkan Gevin dari tahta pria yang dicintainya selama ini.
__ADS_1
"Mas, aku langsung pulang saja. Sudah ingin istirahat juga" ucap Zaina, mencoba untuk tidak memberi celah pada suaminya untuk tidak membawanya pergi kemana pun sebelum mnegantarkannya pulang.
"Baiklah" ucap Gevin dengan lesu, padahal dia sudah berniat untuk mengajak istrinya itu untuk makan malam dulu. Tapi sepertinya Zaina masih menjaga jarak darinya.
Selama perjalanan benar-benar tidak banyak obrolan yang terjadi. Gevin juga tidak banyak bicara karena tidak mau sampai istrinya merasa tidak nyaman dan akhirnya akan kembali menjauh darinya. Saat ini Gevin sedang mencoba untuk memahami apa yang Zaina inginkan, karena selama ini selalu Zaina yang memahami apa Gevin inginkan tanpa Gevin bisa mengerti perasaan Zaina.
"Aku masuk dulu ya, Mas. Hati-hati di jalan" ucap Zaina setelah mereka sampai di rumah.
Gevin menatap rumah yang memang sengaja orang tuanya belikan untuk dirinya. Namun Gevin yang tidak pernah mau menempatinya, tapi sekarang malah istrinya yang lebih dulu menempati rumah ini.
"Yaudah, kamu tidur yang nyenyak ya. Makan malam dulu sebelum tidur, kamu pasti belum makan 'kan? Besok pagi aku akan datang kesini"
Sebenarnya Gevin sangat ingin untuk ikut masuk ke dalam rumah dan sedikit berbincang terlebih dahulu bersama dengan Zaina. Namun terlihat jika istrinya masih menjaga jarak dengannya, membuat Gevin harus lebih sabar lagi dan menahan diri untuk tidak memaksa Zaina dalam hal apapun.
Gevin masih belum meninggalkan rumah itu, dia menatap istrinya yang berjalan ke arah pintu dan akhirnya masuk ke dalam rumah. Saat ini Gevin sedang tidak bisa menafsirkan kebahagiaannya karena dia bisa bertemu dengan Zaina kembali. Meski dia harus lebih bersabar lagi untuk bisa membuat istrinya kembali menerima dirinya.
"Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan kamu kembali, Sayang"
#########
Zaina duduk di atas sofa dengan mengelus perutnya. Masih teringat rasanya ketika Gevin mengelus perutnya dan mengecup dengan lembut. Saat ini Zaina masih tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Gevin. Meski memang dia pernah bertemu di pusat perbelanjaan dan juga di pemakaman waktu itu. Namun tidak menyangka jika Gevin akan menemukannya kali ini.
"Apa yang harus Mama lakukan saat ini, Nak? Mama bingung"
Zaina yang masih merasa bimbang dengan semuanya. Entah keputusan seperti apa yang akan dia ambil saat ini. Kembali pada Gevin, masih terlalu sulit untuknya. Rasa takut kecewa itu masih ada, takut dia akan menemukan kekecewaan lagi bersama dengan suaminya itu.
__ADS_1
Bersambung