
Baiklah setelah bermanja di salon, sekarang sudah waktunya mereka pergi dan menemui Aldo. Setidaknya harus segera diselesaikan tentang semua hal ini. Genara berhenti melangkah saat sudah melihat punggung Aldo di ujung Restaurant ini. Zaina langsung menatapnya dengan bingung.
"Ayo Gen, tidak papa kok"
Zaina merangkul lengan Genara dan segera membawanya ke meja dimana Aldo berada disana. Meski Genara sedikit takut dan cemas, tapi dia tetap berjalan mengikuti Kakak Iparnya ini.
"Kak, aku benar-benar gugup sekaran. Bagaimana ini?" bisik Genara.
Zaina terkekeh pelan mendengarnya, dia memukul gemas lengan adik iparnya itu. "Kamu ini aneh banget deh, bukannya ingin segera meluruskan semuanya. Kenapa juga harus gugup, kemarin saja saat mengungkapkan cinta tidak gugup. Ini hanya tinggal meluruskan sedikit kesalahfahaman itu kenapa harus merasa gugup"
Genara hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri, entah harus bagaimana dirinya yang harus gugup dengan hal seperti ini.
"Hai Al, sudah menunggu lama?" tanya Zaina
Aldo langsung menoleh, dia tersenyum pada Zaina. Lalu dia menatap Genara yang berada di belakang Zaina, perasaannya tiba-tiba saja langsung merasa bersalah. Entah bagaimana dia akan berbicara dengan Genara, setelah kemarin membuatnya marah. Salah dia sendiri yang tidak langsung menerima ungkapan cinta Genara. Padahal sekarang bukan tentang hal itu yang harus di pikirkan oleh Aldo, tapi tentang bagaimana dirinya akan memperbaiki semuanya dengan Zaina.
Zaina dan Genara duduk di depan Aldo, mereka masih membisu setelah memesan minum. Entah kenapa sekarang malah merasa bingung ketika harus memulai pembicaraan. Zaina yang melihat kecanggungan ini, membuat dia langsung ingin mencairkan suasana ini.
"Em, Al sebenarnya kita datang kesini memang ingin berbicara sesuatu denganmu" ucap Zaina.
Genara langsung menoleh pada Kakak Iparnya ini yang langsung begitu to the poin. Bahkan Genara saja masih mencoba mengumpulkan kata-kata yang benar untuk memulai pembicaraan dengan Aldo. Eh, Zaina malah sudah membuka pembicaraan itu.
"Memangnya ada apa Za?" tanya Aldo penasaran, menatap Zaina dan Genara secara bergantian.
__ADS_1
Zaina menatap ke arah Genara, dia ingin adiknya itu yang langsung menjelaskan semuanya. "Gen, cepat kamu jelaskan apa yang ingin kamu ceritakan pada Aldo. Kakak mau ke toilet dulu"
Hah? Genara langsung melongo melihat Kakaknya yang lempar batu sembunyi tangan itu. Dia yang memulai, tapi sekarang malah Genara yang harus menyelesaikan. Setelah Zaina berlalu darisana. Suasana di meja ini malah semakin hening. Tangan Genara sudah saling bertaut di bawah meja dengan meremas pakaiannya sendiri. Sekarang bingung harus melakukan apa.Memulai pembicaraan darimana dulu? Genara yang benar-benar bingung dan gugup.
Dasar Kak Zaina itu ya, malah membuat aku kebingungan seperti ini sekarang.
"Em, Gen sebenarnya aku juga mau berbicara serius dengan kamu" ucap Aldo, setelah beberapa menit hanya ada keheningan yang menemani mereka berdua.
Genara mendongak dan menatap Aldo, dan lagi-lagi setiap dia menatap wajah tampan pria itu, maka tidak bis di pungkiri jika dirinya ternyata sangat menyukai Aldo sampai jantungnya saja selalu berdebar ketika melihat wajahnya.
"Aku minta maaf karena kemarin sudah membuat kamu marah"
Genara langsung tersenyum dengan wajah yang memerah karena malu sendiri dengan apa yang terjadi kemarin. "Ah, masalah itu tidak usah dibahas lagi"
Aldo menatap Genara dengan lekat, mungkin dia tidak bisa terus membiarkan kesalah fahaman ini terus berlanjut. "Gen, aku tahu aku ini memang bodoh. Aku tidak menerima cintamu bukan karena aku tidak mencintaimu atau tidak ingin bersama denganmu. Tapi pikiran bodohku ini hanya bisa memikirkan tentang perbedaan kita ini. Kamu yang terlahir dari keluarga berada, sementara aku hanya dari keluarga biasa. Aku menganggap kasta kita ini terlalu jauh berbeda, sehingga aku merasa jika kita tidak akan cocok"
Genara menghembuskan nafas pelan, dia menatap Aldo dengan lekat. Tentu saja dia tahu bagaimana perasaan Aldo, karena Zaina yang sudah bercerita tentang ini. Namun sekarang Genara ingin menjelaskan semuanya, agar mereka bisa menjalani semuanya dengan tenang dan bahagia, jika memang bisa untuk bersama.
"Kak, sebenarnya aku tahu tentang ini. Em, tidak. Baru saja tahu dari Kak Zaina kemarin. Sekarang begini saja, apa Kakak merasa jika keluarga aku ini adalah orang-orang yang melihat seseorang dari sebuah kekayaan?" ucap Genara sambil menatap Aldo dengan lekat.
Aldo langsung menggeleng pelan, dia juga sadar jika keluarga Zaina dan Genara memang tidak seperti orang berada pada umumnya. Bahkan ketika Aldo datang ke rumah mereka untuk pertama kalinya saja, langsung disambut begitu ramah oleh Vania, Ibunya Genara itu.
"Jadi, apalagi yang Kak Aldo takutkan saat ini? Apa lagi yang Kakak khawatirkan? Aku juga akan melindungi Kak Aldo jika memang ada yang berbicara tidak baik sama Kakak ketika kita bersama nanti" ucap Genara dengan penuh rasa yakin.
__ADS_1
Aldo terdiam beberapa saat, tentu saja dia juga tidak tahu harus melakukan apa. Namun dirinya senang karena sekarang Genara dan dirinya sudah saling terbuka. Aldo hanya tinggal memikirkan kedepannya akan seperti apa setelah ini.
"Jadi, apa bisa kita memulai semuanya, Kak?" tanya Genara dengan harap-harap cemas.
Aldo menatap Genara, lalu tangannya perlahan meraih tangan Genara di atas meja dan menggenggamnya dengan begitu lembut. "Mari kita mulai berpacaran dan kita memulai semuanya mulai hari ini"
Genara tersenyum, tanpa sadar air matanya menetes begitu saja saking bahagaianya karena sekarang dirinya bisa lebih tenang. Pria yang dia cintai secara diam-diam selama ini, akhirnya menerimanya juga.
Dia balik dinding, Zaina tersenyum melihat pasangan itu yang bisa saling menyatu. Senang karena sekarang dirinya bisa melihat senyuman Genara yang begitu bahagia karena Aldo menerima cintanya.
"Hei, sedang apa kau?"
Zaina langsung terlonjak kaget ketika ada seseorang yang menepuk bahunya itu. Dia menoleh dan melihat suaminya yang berdiri di depannya saat ini. "Mas, kamu kok ada disini?"
"Aku baru saja selesai meeting disini, kamu yang sedang apa disini?" tanya Gevin sambil mengelus kepala istrinya.
Zaina tersenyum, dia langsung bergelayut manja pada suaminya. "Lihat deh, sekarang Gen sudah bisa bersama dengan Aldo. Kesalah fahaman diantara mereka sudah selesai"
Gevin menatap ke arah tunjuk Zaina, dia tersenyum tipis. Lalu mengecup kening istrinya itu. "Terima kasih ya sudah membantu Genara untuk mendapatkan kebahagiaannya"
Zaina tersenyum dan mengangguk, tentu saja dia juga senang ketika melihat adik iparnya bahagia seperti sekarang ini. "Yaudah kalau gitu kita pulang saja Mas, nanti aku biar telepon Genara kalau aku ketemu kamu dan pulang duluan.BIarin aja mereka ngobrol dulu"
Gevin mengangguk, dia membawa istrinya keluar dari Restaurant ini. Hari ini semuanya terselesaikan. Rasanya Zaina sangat tenang setelah melihat Genara yang bisa bersama dengan pria yang dia cintai itu. Sekarang tinggal memikirkan tentang dirinya dan suaminya.
__ADS_1
Bersambung