
Sebuah perasaan cinta yang tidak bisa di ungkapkan namun tetap sangat besar dan sulit untuk di lupakan. Membuat seseorang jadi merasa kesal dan akhirnya berubah menjadi sebuah dendam yang tidak bisa di tahan.
Pertemuan pertama yang membuat jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat sosok perempuan yang baik dan ramah, membuatnya sangat merasa kagum hingga perasaan cinta yang mulai tumbuh besar.
Namun ketika dia mengetahui jika wanita yang di dambakan sudah menjadi milik orang lain, membuatnya sedikit tidak terima akan hal itu. Meski pada awalnya dia akan menerima dan mengikhlaskan saja. Tapi ternyata semakin hari, perasaan itu malah semakin tumbuh besar.
Apalagi ketika dia tahu jika pernikahan wanita yang didambakannya itu tidak baik-baik saja. Membuat dia sedikit merasa mempunyai kesempatan untuk memilikinya.
Namun semuanya harus hancur ketika dia mengetahui jika wanitanya pergi dan menghilang. Dan ketika bertemu lagi saat keadaannya sedang mengandung anak dari suaminya. Bahkan dia yang terlihat bahagia telah bersama dengan suaminya. Hal itu yang membuat sangat kesal dan tidak bisa menahannya lagi untuk tidak marah dan obsesinya yang berubah menjadi sebuah dendam.
Aldo mengusap wajah kasar ketika mengingat semua perjalanan hidupnya yang terasa kacau setelah dia bertemu dengan Zaina. Bagaimana bayangan wanita itu yang selalu menghantui dirinya. Membuat Aldo tidak bisa tidur karena selalu memikirkan tentang dia, apalagi ketika terakhir kali dia melihat Zaina yang menangis di pinggir jalan karena melihat suaminya yang menemui mantan kekasihnya yang sedang sakit.
Sebenarnya Aldo tahu tentang semua itu, karena dia selalu menyelidiki Zaina dan pernikahannya itu. Ketika dia mengetahui jika pernikahan Zaina dan suaminya tidak baik-baik saja membuat dia sedikit saja mempunyai harapan. Tapi justru sekarang semuanya malah terasa kacau karena ternyata Zaina yang malah kembali pada suaminya itu.
"Kenapa kamu bisa menerima kembali pria yang sudah teramat melukai hatimu itu. Kenapa tidak memilih berpisah saja dan kau akan bahagia bersamaku"
Aldo yang merasa heran dengan Zaina yang bisa memberikan kesempatan kembali pada pria yang jelas sudah banyak menciptakan luka di hatinya. Tapi Zaina masih saja bisa memaafkannya.
"Aku benar-benar tidak bisa terus melihat kamu bahagia bersama dengan dia Zaina. Kamu sudah banyak tersakiti olehnya. Jangan sampai sekarang kamu juga harus terluka lagi"
Semua ini yang membuat Aldo begitu nekat untuk membuat Gevin pergi untuk selamanya dari kehidupan Zaina. Setelah itu maka dia akan bisa merebut Zaina dan perlahan masuk ke dalam hatinya.
Namun melihat sekarang Gevin yang selamat, bahkan Zaina yang merawatnya dengan begitu telaten dan penuh kesabaran. Membuat Aldo semakin kesal dan merasa dirinya yang seharusnya mendapatkan segala ketulusan dan kebaikan dari Zaina itu.
__ADS_1
"Kenapa harus dia? Kenapa kamu bisa kembali padanya dengan begitu ikhlas setelah apa yang dia lakukan padamu. Kenapa tidak memberikan aku kesempatan untuk bisa mendapatkan hatimu"
Aldo mengacak rambutnya dengan frustasi, segala hal yang dia lakukan tidak juga membuatnya bisa memiliki Zaina. Sudah bersikap baik dan selalu menjadi sosok yang bisa disukai oleh wanita, meski memang sebenarnya itulah sikap aslinya. Ramah dan baik, namun semuanya berubah saat dia terobsesi untuk memiliki Zaina.
"Sekarang aku malah harus terjebak dengan Genara yang sama sekali tidak aku cintai"
Bujukan dari Zaina juga yang membuatnya akhirnya menerima Genara. Meski sebenarnya tidak ada perasaan apapun dalam hatinya pada gadis itu selain kasih sayang kakak pada adiknya. Aldo menganggap Genara itu sama seperti adiknya sendiri. Sama sekali tidak mempunyai perasaan lebih dari itu. Entah tidak punya atau memang dia yang tidak sadar karena semuanya tertutup dengan obsesinya pada Zaina.
Sekarang Aldo malah semakin dibuat bingung, disaat dirinya sudah banyak melakukan hal. Bahkan sudah melakukan hal sejauh ini. Tapi sama sekali tidak bisa memiliki Zaina. Membuatnya kesal dan tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang ini.
#########
Hari ini Gevin sudah bisa pulang, meski sebelah tangannya yang masih belum bisa banyak melakukan pergerakan karena memang cedera cukup parah. Zaina mendorong kursi roda Gevin menuju tempat parkiran, dimana Papa Gara yang menjemput mereka bersama Daddy Hildan saat ini. Gevin tersenyum lega saat dia sudah bisa terbebas dari ruangan rumah sakit yang selalu bau obat-obatan.
"Sayang, terima kasih ya selalu merawatku selama ini" ucap Gevin yang sudah berada di dalam mobil dan langsung meminta istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
Zaina mengangguk dalam pelukan Gevin. "Sudah menjadi kewajiban aku Mas, aku tidak akan melewatkan satu hari pun untuk merawat kamu sampai kamu benar-benar sembuh"
"Oh ya, katanya ada hadiah yang akan kamu berikan padaku jika aku sudah sembuh" ucap Gevin.
Zaina tersenyum, dia ingat pernah menjanjikan hal itu pada suaminya. "Nanti akan aku kasih tahu hadiahnya. Aku sudah siapkan di rumah nanti"
Gevin tersenyum, dia mengecup puncak kepala istrinya. Senang rasanya karena bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga lagi.
__ADS_1
"Sudah siap semuanya" Hildan dan Gara yang masuk ke dalam mobil setelah mereka memasukan barang Gevin dan Zaina ke dalam bagasi mobil.
"Sudah, ayo jalan Pa" ucap Gevin.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan kawasan rumah sakit. Di dalam perjalanan, Gevin tidak melepaskan pelukannya pada istrinya itu. Selalu merasa jika istrinya itu adalah tempat ternyaman dalam hidupnya yang selalu membuat dia tenang dalam hal apapun.
"Vin, sepertinya dugaan kita benar" ucap Hildan tiba-tiba.
"Maksud Daddy?" tanya Gevin yang masih belum mengerti dengan maksud ucapan Ayah mertuanya barusan.
"Pemilik motor itu sudah ditemukan polisi dan dia bilang jika pada tanggal itu, hari itu dan jam sebelum kamu pergi membawa mobil. Motornya di pinjam sebentar oleh temannya, dan temannya itu adalah Aldo" jelas Hildan.
Mendengar itu Zaina langsung bangun dari bersandar nyamannya dalam pelukan Gevin. Namun tangan Gevin yang tidak terluka itu, menahannya agar tetap bersandar di dadanya. Akhirnya Zaina menurut saja.
"Jadi emang beneran Aldo ya. Ya ampun aku benar-benar tidak menyangka jika dia bisa melakukan hal seperti ini. Aku harus bertemu dengannya dan bertanya secara langsung apa yang menjadi motif sebenarnya dia melakukan hal ini" ucap Zaina.
"Jangan macam-macam, kau mau celaka jika menemuinya. Dia saja berani membuat aku seperti ini. Apalagi kau yang hanya seorang perempuan" tegas Gevin.
Zaina hanya cemberut saja mendengar itu, meski sebenarnya dia tidak selemah itu menjadi seorang perempuan. Tapi yang dikatakan suaminya memang benar juga. Aldo sangat berbahaya saat ini, apalagi ada yang harus Zaina jaga saat ini.
"Saat ini polisi sudah mulai pencarian, karena Aldo yang tidak ada di rumahnya dan juga sekolah tempat dia mengajar" ucap Papa Gara.
"Dia pasti takut karena sadar yang dia lakukan adalah kesalahan. Tapi yaudah, sekarang kita serahkan saja pada pihak kepolisan" ucap Gevin yang di angguki yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung