
Zaina terdiam mendengar itu, dia menatap suaminya yang sudah meneteskan air mata. Sekarang Zaina bisa melihat sendiri bagaimana Gevin yang sangat terpukul dengan semua ini. Zaina benar-benar sangat terpukul dengan kenyataan ini. Zaina memeluk suaminya, menyandarkan kepalanya di perut Gevin.
"Sudah Mas, jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri. Ini bukan kesalahanmu. Semua ini hanya sebuah takdir. Aku sedih, bahkan aku juga kecewa pada diriku sendiri. Tapi aku bisa apa? Kita tetap tidak akan bisa mengembalikan anak kita yang sudah meninggal. Terus bersedih hanya akan membuat dia kesulitan disana" ucap Zaina.
Gevin memeluk istrinya, air matanya tetap menetes begitu saja. Benar-benar tidak bisa menahan diri bagaimana nanti dirinya yang selalu merasa bersalah atas apa yang terjadi. Namun tetap ada Zaina yang mencoba menguatkan dirinya dalam segala hal.
"Sayang, aku tidak tahu harus bagaimana. Hatiku sangat sakit dan terluka dengan semua ini. Aku sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi saat ini. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu" lirih Gevin.
Zaina mendongakan wajahnya, menatap Gevin dengan matanya yang berkaca-kaca. Tidak menyangka jika suaminya akan serapuh ini dengan kepergian anak pertama mereka. Bahkan Zaina juga tidak pernah menyangka jika Gevin yang dia kenal akan bisa serapuh ini.
"Kita harus selalu bersama-sama dan saling menguatkan. Kalau kita saling menyalahkan diri kita sendiri seperti ini, maka sampai kapan kita akan terus terbelenggu dalam kesedihan ini" ucap Zaina sambil tersenyum pada suaminya.
Meski senyuman itu masih terlihat menyimpan banyak kesedihan atas apa yang terjadi. Namun Zaina hanya mencoba untuk membuat suaminya tidak terus terpuruk dalam kesedihan.
Gevin mengelus kepala istrinya dengan lembut. Dia tahu bagaimana istrinya yang selalu bisa membuatnya tenang dalam segala keadaan. Gevin beralih naik ke atas tempat tidur. Memeluk Zaina dengan lembut. Mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya itu. Setidaknya Gevin memang lebih merasa tenang ketika bersama dengan istrinya.
"Terima kasih Sayang, karena kamu selalu memberikan aku ketenangan dalam keadaan apapun" ucap Gevin.
Zaina tersenyum, akhirnya suaminya telah kembali. Beberapa hari ini dihindari oleh suaminya sendiri, benar-benar membuat Zaina merasa sedih. Belum lagi dengan kehilangan anaknya ini dan sekarang dia harus kehilangan Gevin juga. Tentu saja dia sangat terluka dengan itu.
"Mas, mulai saat ini kalau memang ada apa-apa jangan langsung pergi dan menghindariku. Kamu bisa membicarakan dulu semuanya. Kamu tahu kalau aku sangat sedih karena kamu yang menghindar dari aku. Aku jadi berpikir kalau kamu memang marah dan sangat kecewa sama aku" ucap Zaina dengan menatap wajah suaminya lekat.
__ADS_1
Gevin mengecup keningnya, dia juga tidak sadar jika apa yang telah dia lakukan telah melukai hati istrinya ini. Bahkan Gevin tidak berpikir kalau istrinya pasti akan sangat sakit dan terluka dengan sikapnya kemarin atas apa yang telah terjadi pada mereka.
"Maaf Sayang, memang aku menjadi lelaki yang terlalu lemah. Sampai aku tidak sadar kalau aku telah melukai hati kamu juga. Bukan hanya hatiku saja yang terluka, tapi kamu juga. Maaf" ucap Gevin dengan segala penyesalan yang ada.
Semuanya hanya karena perasaan bersalah yang Gevin rasakan. Tentu saja Gevin sangat merasa jika semua yang terjadi pada istri dan anaknya adalah kesalahan dia sebagai seorang suami yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Sekarang Gevin malah jadi menyesal sendiri karena dia sudah melakukan hal ini. Karena nyatanya menghindar bukan suatu hal yang bisa menyelesaikan masalah apapun.
"Mulai sekarang, kita harus lebih mengerti arti kehidupan dalam sebuah pernikahan ini, Mas. Jangan lagi ada hal seperti ini terjadi. Kalau memang ada masalah, maka harus saling terbuka dan jangan memendamnya sendiri" ucap Zaina
Dan Gevin mengangguk, mungkin memang saat ini adalah saatnya dirinya untuk memperbaiki semuanya dalam pernikahan ini. "Kita akan menjalani semuanya dengan baik"
#######
Vania menemui Gevin yang sedang duduk di teras belakang malam ini. Zaina sudah terlelap, jadi Gevin bisa berada disana. Sedikit menenangkan dirinya yang sedang kacau.
"Ibu tahu kalau kamu pasti bisa melewati semua ini, Vin. Jangan sampai kamu terus terpuruk dalam kesedihan yang berkepanjangan" ucap Vania sambil menepuk bahu anaknya.
Gevin tersenyum, dia bersyukur mempunyai Ibu seperti Vania. Yang selalu bisa menenangkan dirinya dan mempunyai kesabaran seluas samudera. Bagaimana dulu dirinya juga pernah melewati hal yang sangat berat untuk bisa bersatu dengan Ayahnya.
"Terima kasih ya Bu, karena sudah memberikan aku kekuatan dalam hal apapun. Aku senang sekali bisa mempunyai Istri yang mempunyai sifat yang hampir sama dengan Ibu. Sangat penyabar" ucap Gevin
Vania tersenyum mendengar itu, dia merangkul bahu anaknya itu. Masih tidak menyangka kalau sekarang ini anaknya sudah sebesar ini. Bahkan dulu Gevin sering sekali menanyakan tentang keberadaan Ayahnya ketika dia masih kecil dan belum bertemu dengan Gara.
__ADS_1
"Sampai kapanpun, kamu tetap anak ibu yang masih membutuhkan bimbingan Ibu dan Papa. Jadi jangan pernah kamu merasa sendirian dalam menghadapi hal apapun. Kamu punya kami yang akan selalu menemani kamu dalam hal apapun" ucap Vania.
Gevin tersenyum mendengar itu, menyandarkan kepalanya di bahu Ibunya. Sampai kapanpun hanya seorang Ibu yang selalu menjadi sandaran ternyaman dalam hidupnya.
"Terima kasih ya Bu, karena Ibu selalu menjadi yang terbaik untukku" ucap Gevin.
Vania hanya tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. Anak kecilnya yang sekarang sudah besar dan sudah banyak beban juga yang di pikul oleh Gevin.
"Sekarang kamu harus menguatkan istri kamu yang selalu memberikan yang terbaik untuk kamu. Saat ini kalian hanya perlu saling menguatkan. Karena semua ini juga tidak bisa di halangi oleh siapapun. Tidak akan ada yang pernah mau mengalami hal ini. Jadi sekarang kalian harus saling menguatkan" ucap Vania.
Gevin mengangguk, memang itu yang harus dilakukan oleh dirinya dan Zaina dalam keadaan seperti ini.
########
Pagi ini Zaina terbangun dengan suasana hati yang lebih tenang. Suaminya sudah tidak lagi marah padanya. Bahkan baru malam ini tidurnya terasa lebih nyenyak karena Gevin yang memeluknya dengan begitu hangat. Setidaknya semuanya bisa terlewati dengan baik. Zaina hanya berharap pernikahannya dan rumah tangganya tidak akan hancur.
"Mas, bangun sudah pagi" ucap Zaina pelan, sambil mengelus pipi suaminya.
Gevin menggeliat pelan. Dia mengucek pelan matanya yang terasa begitu perih. Mungkin karena dia yang masih ngantuk. Tersenyum ketika melihat istrinya yang tersenyum pagi ini.
Bersambung
__ADS_1