
Zaina keluar dari kamar dengan rambutnya yang kembali basah. Kedua kalinya dia mandi pagi ini gara-gara ulah suaminya.
"Aku jadi telat buat sarapan 'kan? Gara-gara kamu si, Mas" gerutu Zaina dengan kesal
Gevin hanya tersenyum, suasana hatinya kembali baik ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dan telah memuaskannya. Gevin mengucap kepala Zaina dengan pelan.
"Sayang, kita sarapan yang ada saja. Lagian aku bisa sarapan di kantor"
Zaina mencebikan bibirnya kesal, dia berjalan ke arah meja makan dan membuatkan roti lapis yang simple. Dia menyapa Lolyta yang sudah berada disana dan juga sedang menyantap roti lapis yang dia buat sendiri.
"Maaf Ly, aku kesiangan jadi tidak sempat membuat sarapan"
"Iya Za, tidak papa kok"
Sebenarnya Lolyta tahu apa yang telah terjadi di pagi hari tadi. Terlihat dari rambut Zaina yang masih basah dan wajah Gevin yang terlihat lebih segar pagi ini.
"Kamu tidak mengajar hari ini, Za?" tanya Lolyta
Zaina menggeleng pelan, dia menggigit roti lapis yang dia buat. "Aku ambil cuti hari ini Ly, soalnya kemarin masih terasa pusing takutnya sampai hari ini. Tapi sebenarnya hari ini sudah lebih baik"
"Iya Za, kamu jangan terlalu kecapean. Kamu terlalu mandiri hingga tidak pernah meminta bantuan orang lain" ucap Lolyta sambil menatap Zaina
Gevin mengelus kepala Zaina dengan lembut, memang benar apa yang dikatakan oleh Lolyta barusan jika Zaina yang terlalu mandiri sehingga dia jarang sekali meminta bantuan pada siapapun, termasuk Gevin sebagai suaminya.
"Iya Sayang, kamu jangan terlalu mandiri. Aku juga butuh sosok manja kamu sebagai istriku" ucap Gevin pada Zaina
Zaina menatap Gevin dengan tidak enak pada Lolyta. Apa Gevin lupa jika di ruangan ini juga ada Lolyta, kenapa dia harus menunjukan perhatiannya seperti itu di depan Lolyta, membuat Zaina merasa tidak enak pada Lolyta.
"Kenapa? Benar 'kan apa yang aku katakan? Kalau kamu terlalu mandiri hingga kamu tidak pernah menunjukan sikap manja kamu padaku" ucap Gevin yang seolah tidak mengerti sebuah kode yang diberikan oleh Zaina.
Zaina menghela nafas pelan melihat suaminya yang malah tidak mengerti dengan kode yang dia berikan padanya. Zaina kembali memakan rotinya dan tidak lagi melanjutkan pembahasan itu.
__ADS_1
Lolyta hanya tersenyum tipis melihat Zaina yang tidak enak karena sikap Gevin padanya. Namun sebenarnya Lolyta sudah lebih tahu bagaimana perasaan Gevin yang sebenarnya. Lolyta hanya sedang mencoba menerima keadaan dan kenyataan yang ada tentang dirinya yang sudah tidak lagi Gevin cintai, seperti dulu.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Sudah siang nih" Gevin berdiri dari duduknya dan memberikan kecupan di puncak kepala Zaina.
"Iya, hati-hati ya"
Gevin mengangguk, dia menatap ke arah Lolyta dan tersenyum. Gevin juga menghampiri Lolyta dan mengelus kepalanya. "Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah. Sekarang ada Zaina juga yang bisa menemani kamu di rumah"
"Iya Vin, kamu hati-hati ya"
Gevin mengangguk, dia mengambil tas kerjanya yang dia letakan di kursi kosong di meja makan itu. Lalu segera pergi.
Selesai sarapan seadanya itu, Zaina membawa Lolyta ke ruang tengah untuk menonton acara televisi pagi hari yang jarang sekali Zaina tonton jika dia sedang mengajar.
"Lolyta, bagaimana keadaan kamu sekarang?"
Lolyta menoleh pada Zaina, dia tersenyum pelan. "Ya seperti yang kamu lihat, Za. Aku masih dengan rasa sakit yang sama yang tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk kesembuhanku"
Zaina memegang tangan Lolyta yang berada di sampingnya. "Jangan putus asa, kamu pasti akan sembuh, kamu harus yakin itu"
"Yang penting kamu yakin kalau kamu pasti bisa sembuh"
Lolyta tersenyum menatap Zaina yang tersenyum penuh semangat padanya. Tidak pernah terpikirkan oleh Lolyta jika dia telah menjadi duri di pernikahan Zaina yang begitu baik padanya.
"Za, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu. Tentang pernikahan ini, aku sudah pikirkan baik-baik" kata Lolyta
Zaina menatap Lolyta dengan wajah yang berubah serius. "Maksudnya berpikir dengan baik-baik?"
Lolyta menghela nafas pelan, dia sudah tidak bisa menjadikan dirinya sebagai benalu dalam hidup Gevin dan Zaina. Apalagi setelah dia mengetahui bagaimana Gevin yang sudah tidak lagi mencintainya.
"Zaina, aku sudah tidak bisa berada diantara kalian. Aku sudah tidak mau menjadi duri di pernikahan kalian"
__ADS_1
Zaina semakin tidak mengerti mendengar ucapan Lolyta barusan. "Apa maksudnya?"
Lolyta memegang tangan Zaina dan menatapnya dengan lekat. "Zaina, bantu aku pergi"
#######
Gevin pulang sedikit malam, karena tadi pagi dia berangkat bekerja terlalu siang. Jadi dia mengerjakan banyak pekerjaan yang harus selesai hari ini juga.
"Mas, sudah pulang ya"
Gevin menatap pada Zaina yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Tidak biasanya dia melihat istrinya menunggunya pulang bekerja seperti ini. Gevin langsung menghampiri istrinya itu, mengelus kepala Zaina dan mengecup puncak kepalanya.
"Sayang, tumben kamu menunggu aku pulang kerja"
Zaina terdiam beberapa saat, lalu dia berdiri dan mengalungkan tangannya di leher Gevin. "Ya, aku tidak bisa tidur karena seharian tadi hanya diam di rumah jadinya aku tidur siang juga. Jadi lebih baik aku menunggu suamiku pulang saja"
Gevin tersenyum mendengar itu, dia menaruh tas kerjanya di atas meja lalu mengangkat tubuh Zaina dan menggendongnya. Membwanya ke dalam kamar. Kedua kaki Zaina melingkar di pinggang Gevin.
Cup..
Gevin mencium bibir Zaina dengan kakinya yang terus melangkah ke arah kamar. Rasa lelah yang dia rasakan tadi, langsung menghilang begitu saja ketika melihat istrinya. Masuk ke dalam kamar dan menutup pintu menggunakan kakinya.
"Mas, kan udah tadi pagi" kata Zaina saat suaminya menjatuhkan dia di atas tempat tidur, lalu dia langsung mengukungnya.
Gevin tersenyum, dia kembali mengecup bibir istrinya dengan lembut. "Memangnya ada batasan untuk melakukannya dengan istri sendiri?"
Zaina menggeleng pelan, memang tidak ada batasan apapun untuk seorang suami melakukan haknya pada istrinya. Namun, Zaina tidak menyangka saja jika suaminya akan terus merasa tidak puas, padahal baru tadi pagi mereka melakukannya.
"Boleh ya Sayang" ucap Gevin dengan tatapannya yang terlihat sayu dan penuh gairah itu.
Zaina juga tidak mungkin menolak, karena ini adalah kewajibannya juga. Akhirnya dia hanya mengangguk dan membiarkan suaminya melakukan apa yang ingin dia lakukan.
__ADS_1
Dan semuanya dimulai dari ciuman di bibir, hingga tangan Gevin yang mulai menarik tali pita gaun tidur yang digunakan oleh Zaina. Dan malam ini keduanya kembali menikmati malam yang panjang dengan penuh gairah.
Bersambung