Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Bermanja


__ADS_3

Masih harus menunggu sampai saat ini, hingga membuat Genara membiarkan saja semuanya berlalu semestinya. Dia tidak akan lagi meminta Aldo untuk segera menikahinya, karena memang Aldo yang selalu bilang jika dia belum siap untuk melakukan hal itu. Entah bagaimana caranya, namun memang Genara yang sekarang ini harus lebih mengalah.


"Yaudah Gen, kamu biarkan saja Aldo mempunyai waktu untuk berpikir sampai dia benar-benar siap dengan segalanya" ucap Zaina yang berjalan ke arah adik iparnya sambil membawakan minum untuk adik iparnya itu.


Genara menoleh pada Zaina, memang dia paling nyaman bercerita dengan Zaina. Kakak iparnya itu yang selalu mengerti keadaannya dan bisa merasakan apa yang Genara ikut rasakan saat ini.


"Kak, kalau misalkan nanti Kak Aldo tetap tidak mau menikahiku bagaimana?" tanya Genara, entah kenapa pikiran itu yang terus menghantuinya sejak awal.


Zaina duduk disampingnya, mengelus punggung Genara dengan lembut. "Rasanya tidak mungkin jika Aldo memang tidak mau menikahimu sampai akhir. Tapi kalau misalkan hal itu memang terjadi, kamu tinggalkan saja dia. Jangan terus menunggu kepastian dari orang yang tidak pasti"


Genara langsung mengangguk mendengar ucapan Kakak iparnya itu. Mungkin memang seharusnya seperti itu, karena semua perempuan yang menjalin hubungan pastinya harus mendapatkan kepastian atas hubungan yang sedang berjalan itu.


"Memangnya kamu ragu jika Aldo juga pasti akan menikahimu suatu saat nanti. Apa kamu ragu akan hal itu?" tanya Zaina.


Genara menghela nafas pelan, sebenarnya keraguan itu tidak  terlalu besar. Tapi tetap ada dalam hatinya. "Hanya takut saja jika nanti aku menunggu lama, tapi dia memang tidak berniat untuk menikahiku"


Zaina menepuk bahu adik iparnya itu, tersenyum padanya dengan lembut. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kamu dan Aldo pasti akan melanjutkan hubungan ini pada sebuah pernikahan dan keluarga yang harmonis nantinya. Jangan terlalu banyak yang dipikirkan. Lagian kalian juga masih muda, jadi kalau belum menikah juga masih wajar saja"


Genara mengangguk mendengar ucapan Kakak iparnya itu. Memang seharusnya seperti itu. Genara jangan terlalu membebani dirinya sendiri dengan pikiran yang tidak seharusnya dia pikirkan saat ini.


"Yaudah Kak, kalau gitu aku balik lagi ke Kantor ya. Jam makan siang sudah habis, makasih ya sudah di jamu makan siang hari ini" ucap Genara sambil terkekeh.


Zaina hanya tersenyum. "Yaudah sana pergi, nanti bos kamu marah lagi kalau kamu terus datang terlambat dan banyak bolos bekerja"

__ADS_1


Genra terkekeh mendengar itu. "Iya Kak, kamarin aja karena aku tidak masuk kerja dan tidak izin, langsung kena marah Bos yang galak itu"


Zaina tertawa kecil, tahu jika suaminya yang selalu tegas dalam menindak pegawai. Meski dia adalah adiknya sendiri. Karena memang Gevin tidak pernah pandang bulu ketika menyangkut pekerjaan. Ditambah lagi dengan Genara yang malah seenaknya tidak masuk bekerja dan tidak memberikan surat izin juga. Membuat Gevin semakin kesal dan marah saja.


Setelah adik iparnya pergi, Zaina pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Dan dia melihat tiga panggilan tidak terjawab dari suaminya. Zaina langsung menghubungi balik suaminya itu, karena pastinya Gevin sedang sangat kesal sekarang karena teleponnya tidak di angkat.


"Hallo, kemana saja kamu? Aku telepon dari tadi tidak diangkat"


Benar 'kan, sudah terdengar nada kesal dari suara suaminya itu. Sudah seperti dirinya yang ketahuan selingkuh saja, Gevin memang selalu tidak bisa tenang ketika Istrinya yang tidak bisa dia hubungi seperti itu. Takut jika Zaina kenapa-napa, bayangan masa lalu yang selalu menghantuinya. Sangat takut jika Gevin akan kehilangan Zaina.


"Mas, tadi ada Genara datang dan makan siang disini sama aku. Ponselnya aku simpan di kamar, jadi tidak tahu kalau kamu telepon. Maaf ya"


Terdengar helaan nafas pelan di sebrang sana, mungkin Gevin lega ketika mendengar ucapan Zaina. Karena dia yang sudah berpikir kemana saja hari ini. Sangat takut jika Zaina kenapa-napa. Padahal kenyataannya Zaina memang tidak kenapa-napa. PIkiran Gevin saja yang terlalu berlebihan.


"Mau apa dia datang ke rumah, apa ada yang dia ceritakan padamu?"


"Baiklah, memang bagus kalau seperti itu. Kita juga bisa melihat seberapa besar keseriusan Aldo padanya. Apa memang dia berniat untuk menikahi Genara dalam hubungan ini. Atau bahkan hanya untuk sekedar bermain-main saja"


Zaina mengangguk pelan, meski dirinya tahu jika Gevin tidak akan melihatnya. "Iya Mas, memang seharusnya seperti itu saja untuk saat ini. Oh ya, apa kamu sudah makan?"


"Sudah barusan, aku makan bareng rekan kerja"


Zaina mengangguk, setelah cukup lama berbincang, dia segera memutuskan sambungan telepon ketika suaminya yang harus kembali bekerja lagi. Zaina menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, lalu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang.

__ADS_1


#######


Sore ini Gevin kembali pulang, dia tidak melihat istrinya di ruang tengah, membuat dia langsung pergi menuju kamarnya. Melihat Zaina yang sedang terlelap di atas tempat tidurnya. Gevin selalu merasa tenang ketika melihat wajah istrinya yang sedang terlelap seperti itu. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus kepala Zaina dengan lembut, lalu memberikan kecupan di kening istrinya itu.


"Emmm"


Sepertinya apa yang dia lakukan telah membangunkan sang istri. Zaina langsung mengerjap pelan dan membuka kedua matanya. Tersenyum saat melihat Gevin yang berada di sampingnya itu.  Tanpa berkata apapun, Zaina langsung beringsut mendekati Gevin dan memeluknya. Tangannya melingkar di perut Gevin dengan kepala yang berada di dekat kakinya. Memeluknya dengan erat.


"Mas baru pulang ya, aku kangen" ucap Zaina.


Gevin tersenyum melihat istrinya yang sedang bermanja seperti ini. Sungguh dirinya selalu merasa senang ketika Zaina manja padanya tanpa harus dia suruh. Gevin mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Aku juga sangat merindukan kamu, padahal hanya beberapa jam saja berpisah. Aku sudah sangat rindu" ucap Gevin.


Zaina terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya barusan. Memang Gevin yang selalu pandai merangkai kata-kata merayu seperti ini.


"Gombali banget deh Mas, sudah ah ayo kamu mandi dulu" ucap Zaina yang langsung melepaskan pelukannya dan segera bangun.


Gevin terkekeh pelan, dia mengelus pipi Zaina dengan lembut. "Yaudah, kamu tidur lagi saja kalau masih mengantuk. Aku mau mandi dulu"


Zaina mengangguk. "Aku mau keluar, siapin makan malam untuk kita hari ini. Kamu mau aku masakin apa?"


"Apa saja, aku suka semua makanan yang dimasak sama kamu" ucap Gevin.

__ADS_1


Zaina mengngguk, dia segera turun dari tepat tidur dan berlalu keluar kamar. Menuju dapur untuk segera memasak makan malam untuk dirinya dan suaminya.


Bersambung


__ADS_2