
Ternyata bukan karena cinta saja yang membuat Zaina kembali mengambil keputusan yang ada. Tapi juga calon anaknya yang akan lahir beberapa bulan lagi. Tentu saja Zaina tidak mungkin membuat anaknya menjadi korban dari permasalahan kedua orang tuanya. Anaknya juga berhak bahagia.
"Seandainya aku tidak mengandung, mungkin saja aku masih bisa egois dengan keputusan yang akan aku ambil. Namun sekarang aku tetap harus memikirkan tentang anakku juga"
Zaina berdiri di balkon rumah, menikmati sinar matahari pagi untuk menghangatkan tubuhnya. Perut besarnya dia elus dengan lembut sejak tadi. Merasakan tendangan dari dalam sana, selalu membuatnya bahagia.
"Mama akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak"
Drett...Drett
Ponsel di tanganya berdering, dia menatap layar ponsel yang menunjukan nama Ibunya disana. "Ya ampun aku sampai lupa untuk memberitahu Bunda tentang ini. Bagaimana ya reaksinya ketika dia tahu kalau aku telah kembali dengan suamiku?"
Dengan tangan sedikit gemetar, Zaina menekan icon hijau itu. Menempelkan ponselnya di telinganya.
"Hallo Bunda"
"Kak, kamu dimana sekarang? Apa benar jika kamu sudah kembali lagi dengan suamimu?"
Zaina memejamkan matanya, memang sudah dia duga jika Bundanya itu akan menanyakan tentang hal ini. Tidak mungkin juga kalau dia tidak tahu tentang dirinya yang sudah kembali bersama dengan Gevin.
"Iya Bunda, sekarang Kakak juga harus memikirkan masa depan anak Kakak ini. Tidak mungkin kalau Kakak harus tetap egois dan nantinya akan membuat anak Kakak lahir dengan keadaan orang tuanya yang kacau. Lagian Mas Gevin juga sudah berjanji untuk berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Intinya kami berdua memang harus saling memperbaiki diri" jelas Zaina
Terdengar helaan nafas pelan di sebrang sana, dia tidak bisa melakukan apapun lagi ketika anaknya sudah mengambil keputusan dalam hidupnya ini. Cukup sekali Jenny merasa sangat salah karena dirinya telah memaksakan diri untuk menjodohkan Zaina dan Gevin karena dia tahu jika putrinya sangat mencintai pria itu. Tapi ternyata, semuanya malah menjadikan Zaina terjebak dalam sebuah sandiwara pernikahan yang melukai hatinya.
__ADS_1
"Kalau memang Kakak yakin dengan keputusan Kakak itu. Bunda tidak akan melarang, Bunda hanya bisa mendo'akan semoga Kakak dan Gevin bisa lebih baik lagi hubungannya setelah ini. Jangan sampai hal seperti ini akan terjadi lagi. Oh ya, Daddy tetap ingin bertemu langsung dengan suamimu setelah tahu kabar ini"
Zaina menghela nafas pelan, dia tahu jika Ayahnya itu tidak mungkin membiarkan begitu saja dirinya mengambil keputusan ini. Pastinya Hildan ingin memastikan jika anaknya akan baik-baik saja dan tidak akan terluka lagi seperti sebelumnya.
"Iya Bun, nanti aku akan pulang bersama dengan Mas Gevin untuk menemui Bunda dan Daddy"
Zaina mengakhiri sambungan teleponnya, dia menatap layar ponselnya yang sudah mati itu dengan helaan nafas panjang. "Mungkin memang Gevin juga harus meyakinkan Daddy yang tidak akan bisa langsung percaya begitu saja padanya setelah semua yang terjadi"
Sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang, Gevin baru saja selesai mandi dan bersiap. Dia sedang sangat bahagia karena sekarang sudah bisa bersama dengan istrinya lagi. Membuat pagi ini terasa cerah baginya.
"Sayang sedang apa?" Gevin menyandarkan dagunya di bahu Zaina.
"Mas, barusan Bunda telepon aku. Katanya kita harus menemui mereka, Daddy ingin berbicara dengan kamu"
"Kita akan pergi ke sana akhir pekan ini" ucap Gevin
Zaina mengangguk saja, dia juga ingin semuanya segera selesai. Biarkan saja dirinya yang terlihat bodoh sampai bisa menerima kembali Gevin setelah apa yang dia lakukan padanya. Namun, Zaina hanya memikirkan tentang calon anaknya juga. Bukan hanya tentang dirinya dan suaminya. Tapi sekarang ada anaknya juga yang harus dia pikirkan masa depannya.
"Yakinkan Daddy, maka aku juga akan yakin padamu. Karena dulu saja Daddy sangat yakin denganmu yang akan menikahiku. Mas tahu, kalau Daddy sangat senang ketika aku akan menikah denganmu. Karena dia tahu kepribadian kamu yang sangat baik. Mungkin Daddy tidak pernah menyangka jika akhirnya akan seperti ini" jelas Zaina
Zaina melepaskan lingkaran tangan Gevin di perutnya. Lalu dia membalikan tubuhnya hingga menghadap Gevin, menatap suaminya dengan lekat. "Tolong jangan pernah sakiti aku lagi, Mas. Karena semua yang telah berlalu saja masih sangat membekas di hatiku dan ingatanku"
Gevin mengangguk, matanya berkaca-kaca mendengar itu. Bagaimana dia melihat kebaikan istrinya yang bahkan mau menerimanya kembali setelah semua yang dia lakukan. Saat ini Gevin, benar-benar sedang mengalami penyesalan seebenarnya. Ketika dia bisa melihat bagaimana ketulusan Zaina padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Sayang, bahkan aku sendiri tidak bisa memaafkan diriku sendiri setelah apa yang pernah aku lakukan padamu"
Aie matanya menetes begitu saja, menunjukan bagaimana dia begitu menyesal dengan apa yang terjadi. Tentang dirinya yang menduakan Zaina, terkadang membuat Zaina merasa tersisihkan. Namun yang paling parah ketika dia menuduh Zaina menyembunyikan Lolyta, bahkan dia sampai mengatainya munafik. Bagaimana Zaina yang tidak bisa lagi bertahan dengannya.
"Semuanya sudah berlalu, Mas. Aku hanya mencoba untuk tetap menerima kamu, semuanya juga demi anak kita" ucap Zaina, dia mengusap air mata suaminya
Kerapuhan Gevin yang baru pertama kali Zaina lihat. Bahkan sebelumnya Zaina hanya mengetahui jika suaminya itu adalah sosok yang ramah dan baik. Selalu terlihat baik-baik saja. Tapi ternyata saat ini Gevin sedang menunjukan kerapuhan dalam dirinya.
"Terima kasih untuk semuanya, kamu yang telah memberikan aku kesempatan kedua untukku"
Zaina hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Mendengarkan suara detak jantung suaminya. Zaina hanya mencoba meyakini jika semuanya akan baik-baik saja.
"Sekarang ayo sarapan dulu, sudah ada Mbak yang datang kesini. Aku sudah suruh dia buatkan sarapan tadi" ucap Zaina
Gevin mengagguk, dia menuntun istrinya keluar dari kamar. Menuju ruang makan dimana sarapan untuk mereka sudah tersedia disana. Gevin menarik kursi meja makan untuk di duduki oleh istrinya.
"Aku ambilkan ya, kamu harus makan yang banyak supaya bayi kita juga sehat" ucap Gevin sambil mengambilkan makanan untuk istrinya itu.
"Oh ya Mas, aku hampir lupa kalau hari ini adalah jadwal periksa aku ke Dokter kandungan" ucap Zaina
Tangan Gevin yang baru saja akan menyendok makanan untuknya, langsung terhenti seketika. Entah kenapa hatinya langsung berdebar mendengar ucapan Zaina barusan. Dia belum pernah menemani istrinya periksa kandungan. Entah apa yang akan dia lakukan nanti. Gevin benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Pastinya akan menjadi kesan yang indah untuk dirinya jika dia bisa mendengar detak jantung anaknya untuk pertama kalinya.
"Aku akan menemanimu" ucap Gevin dengan hati yang berdebar tak karuan.
__ADS_1
Bersambung