
Masih dalam perjalanan menuju tempat bekerja Zaina. Gevin sedang memikirkan bagaimana caranya dia bisa menceritakan tentang Lolyta saat ini. Beberapa kali Gevin melirik Zaina yang hanya duduk diam sambil melemparkan pandangannya keluar jendela, melihat setiap pemandangan di luar jendela mobil.
"Za, aku menemukan Lolyta..." Gevin mencoba untuk melihat ekspresi dari wanitanya ketika dia mulai berbicara. "...Dia sakit parah, dan selama ini dia meninggalkan aku karena dia yang tidak mau merepotkan aku dengan sakitnya itu"
Zaina tidak terlihat terkejut, dia menoleh dan menatap Gevin. Namun dari tatapannya terlihat sebuah gurat kesedihan. "Lalu, apa yang akan Mas lakukan saat ini?"
"Aku ingin menemaninya hingga sembuh, mau bagaimana pun aku merasa bersalah karena selama ini dia sakit dan aku tidak tahu tentang itu. Aku tidak menemaninya dalam hari tersulitnya, sementara dia selalu ada untuk aku dalam keadaan apapun. Aku juga akan membantu biaya pengobatan dia, karena di kota ini dia tidak memiliki siapa-siapa"
Zaina mengangguk, dia mencoba untuk menahan diri agar tidak menangis. Menurutnya apa yang di katakan Gevin masih wajar, mengingat bagaimana hubungan mereka yang terjalin baik-baik saja, dulu. Lolyta menghilang juga karena alasan ini. Bukan karena dia yang tidak lagi mencintai Gevin.
"Baiklah, yang penting kita masih menjalani sandiwara pernikahan ini dengan baik. Aku tahu kalau Lolyta lebih membutuhkanmu saat ini"
Bodoh Zaina! Kenapa berkata seperti itu? Kau ingin terlihat jika kau baik-baik saja? Ya, aku akan tetap mencoba untuk baik-baik saja.
Bukannya Zaina tidak mempertahankan keteguhan rumah tangganya saat ini. Bukan dia tidak mempertahankan suaminya, namun apa yang harus dia lakukan di saat dia bahkan tidak memiliki hati suaminya. Pernikahan yang terjadi ini hanya karena sebuah sandiwara.
"Bukan begitu Za, aku hanya ingin membantu Lolyta untuk kembali sembuh. Itu saja"
"Iya Mas, aku mengerti"
Gevin menatap Zaina yang memalingkan kembali wajahnya ke arah jendela mobil. Sampai mobil terhenti di depan gerbang sekolah tempat Zaina mengajar. Gevin tidak langsung membiarkan Zaina turun.
"Sayang, dengarkan aku dulu..." Gevin membalikan tubuh Zaina agar menatapnya. Dia menggenggam tangan istrinya itu. "...Aku hanya menemani dia untuk sembuh, aku hanya membantunya saja"
Zaina menghela nafas pelan, dia tahu apa yang di maksud oleh suaminya ini. "Iya Mas, aku mengerti"
Lagian tidak mungkin juga kamu berkata kalau kamu akan menikahinya setelah dia sembuh saat ini. Aku tahu jika kamu masih merasa tidak enak padaku.
"Yaudah Mas, aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalannya" Zaina mencium punggung tangan suaminya yang di balas dengan sebuah kecupan di keningnya oleh Gevin.
"Semangat kerjanya ya"
__ADS_1
Zaina mengangguk, dia langsung turun dari dalam mobil. Berjalan masuk ke dalam kawasan sekolah. Melihat anak-anak yang masih berlarian di lapangan, membuat senyum Zaina terbit begitu saja. Semua beban dalam pikirannya seolah hilang ketika dia berada dalam suasana sekolah seperti ini.
Masuk ke dalam ruang guru dan menyapa guru-guru lain yang sudah datang lebih dulu disana. Zaina duduk di meja kerjanya di ruang guru itu, mengambil beberapa buku yang harus dia bawa kembali ke kelas setelah dia periksa kemarin tugas anak-anak didiknya itu.
"Mis Zaina, Mis ini sudah menikah atau belum si?" tanya seorang guru paruh baya yang duduk di meja bersebelahan dengan Zaina. Di meja itu tertera namanya, Cicin.
Zaina tersenyum dengan ramah pada Ibu Cicin itu. "Iya Bu, saya sudah menikah. Baru satu bulan lebih menikah"
"Wah, sedang hangat-hangatnya nih. Suaminya yang mana dong, saya belum pernah lihat. Kenalin ke kita dong"
"Iya Bu, kapan-kapan saya akan kenalkan"
Bersyukur karena di tempat bekerjanya yang baru ini, Zaina masih menemukan orang-orang yang baik padanya, meski belum tentu tulus.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya semuanya, saya mau membagikan buku tugas anak-anak"
"Baik Bu"
"Kalian jangan lari-lari, nanti kalau jatuh bagaimana? Takutnya juga akan membahayakan orang lain"
Kedua anak laki-laki itu menunduk, keduanya tahu jika mereka salah. "Maaf Mis"
"Sudahlah, kalian masuk lagi ke dalam kelas"
"Baik Mis"
Saat Zaina membereskan buku-buku itu ada sepasang tangan kekar yang terulur untuk membantunya. Zaina mendongak dan dia melihat pria tampan dengan tubuh yang tinggi tegap.
"Mis Zaina ya?" tanyanya ketika dia sudah selesai membereskan buku-buku yang jatuh itu.
Zaina hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Mereka kembali berdiri setelah semua buku berada di tanganya.
__ADS_1
Pria itu mengulurkan tangannya pada Zaina. "Saya Aldo, guru olahraga disini"
Zaina tersenyum, dia menerima uluran tangannya. "Saya Zaina, mengajar bahasa inggris disini"
Aldo mengangguk, dia menatap Zaina sambil tersenyum. "Biar saya bantu bawa buku-buku ini ke kelas, Mis. Kebetulan saya masih belum ada kelas"
Zaina mengangguk, dia bukan tipe wanita yang suka menolak bantuan dari seseorang yang memang tulus ingin membantunya.
"Terima kasih Pak Aldo"
"Panggil Aldo saja kalau hanya kita berdua, Mis. Saya berasa tua kalau Mis memanggil saya Bapak" ucapnya sambil terkekeh
Zaina ikut tersenyum mendengar itu, dia mengangguk kecil. "Baik Aldo, kalau begitu panggil saya Zaina saja. Masa saya panggil kamu Aldo, kalau kamu masih panggil saya Mis"
"Baiklah Zaina"
Keduanya terlihat lebih bisa menyesuaikan obrolan karena sepertinya umur mereka juga tidak terlalu jauh. Zaina merasa menemukan teman baru yang sebaya dengannya di sekolah ini.
Aldo menyimpan buku-buku yang di bawanya di atas meja guru di kelas enam ini. Kelas yang akan di ajar oleh Zaina pagi ini.
"Terima kasih Aldo"
"Iya Zaina, sama-sama. Kalau begitu aku keluar dulu ya. Sebentar lagi anak-anak masuk kelas"
Zaina mengangguk dan membiarkan Aldo berlalu dari sana. Dan benar saja bell tanda masuk sudah berbunyi. Banyak anak-anak dengan seragam merah putih itu berlarian masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing.
Seorang ketua kelas langsung memimpin untuk mengucapkan salam pada Zaina sebagai guru mereka pagi ini.
"Good morning children, introduce Miss Zaina. I will share your assignment books that were collected with Mrs. Weni last week"
Zaina memulai mengajarnya di kelas ini. Dengan memulai membagikan buku tugas yang di kumpulkan kemarin. Sebenarnya tugas yang di berikan pada anak-anak kelas enam ini, adalah tugas yang di berikan oleh guru sebelumnya satu minggu yang lalu. Karena sekarang dia cuti melahirkan, jadi Zaina yang menggantikan untuk memeriksa dan membagikan buku tugas anak-anak kelas enam ini.
__ADS_1
Bersambung