Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan
Menjenguk Aldo?!


__ADS_3

Waktu yang terkadang berlalu terlalu cepat dan tidak kita sadari. Selama hari yang terus berrganti, kehidupan yang terus berjalan. Bagaimana sekarang Gevin dan Zaina yang sedang menanti kelahiran anak kedua mereka. Kehamilan Zaina yang selalu sehat dan baik untuk kehamilan kedua ini. Semua keinginan Zaina yang selalu terpenuhi oleh Gevin. Karena memang sekarang dirinya tidak mau sampai melewati masa-masa ini.


"Sekarang aku sadar, kenapa Tuhan memilih untuk mengambil kembali anak pertama kita ini. Mungkin karena memang saat itu aku bukan suami yang baik. Bahkan aku tidak menemani saat awal-awal kehamilan kamu yang sebenarnya sangat menyusahkan kamu" ucap Gevin.


Zaina tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala suaminya yang berada di atas pangkuannya. Akhir pekan ini, Gevin sedang ingin bermanja pada istrinya. "Mungkin juga memang seperti itu. Tuhan memberikan kesempatan untuk kamu bisa mengetahui bagaimana proses kehamilan dari trimester pertama hingga akhir"


Gevin mengangguk, dia berbalik dan memeluk istrinya. Mengecup perut buncit istrinya itu. "Maaf Sayang, karena dulu aku belum menjadi suami yang baik untukmu. Bahkan sudah terlalu banyak luka yang aku ciptakan di hatimu"


Zaina menghembuskan nafas pelan, dia tahu bagaimana suaminya yang sampai saat ini masih sering mengucapkan kata maaf atas yang pernah dia lakukan dulu. Tentang sandiwara pernikahan yang diinginkan suaminya. Meski sebenarnya Zaina sangat berharap atas pernikahannya itu.


"Semuanya sudah berlalu, biarkan saja semuanya berlalu. Jangan terus menyesali semua yang telah terjadi" ucap Zaina.


Gevin tidak menjawab, dia memang sangat menyesali semuanya yang pernah dia lakukan selama ini. Tapi bersyukurnya karena sekarang dia bisa mendapatkan kembali istrinya yang sudah dia sakiti berulang kali. Ternyata Zaina memang sosok perempuan yang begitu besar hati, bisa memaafkan Gevin dengan segala kesalahan yang pernah dia lakukan padanya.


"Yang perlu kita ingat sekarang, hanya kebahagiaan kedepannya. Tentu saja jangan sampai membuat kesalahan yang sama yang membuat pernikahan kita ini mungkin saja berakhir" ucap Zaina.


Gevin bangun dari pangkuan Zaina, lalu dia menatap istrinya dengan lembut. Memeluknya dengan hangat. "Maafkan aku, maaf karena aku pernah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Ternyata memang kebodohan terbesar dalam hidupku ya saat itu. Ketika aku tidak bisa melihat seberapa besar cintamu untukku"


"Iya Mas, sudah ah, kenapa malah sedih-sedihan kayak gini. Sekarang kita harus bahagia untuk menyambut kelahiran anak kita yang tinggal beberapa minggu lagi" ucap Zaina.


Gevin mengangguk, tentu saja dirinya juga tahu bagaimana sekarang dia harus kembali fokus pada kelahiran istrinya ini yang sebentar lagi.


"Pokoknya mulai sekarang kamu sudah tidak boleh banyak pikiran, kamu harus memikirkan tentang kesehatan kamu. Kamu harus mulai menyiapkan mental kamu kalau memang mau lahiran normal" ucap Gevin.

__ADS_1


"Ya, Dokter bilang bisa melahirkan secara normal. Meski yang pertama aku melahirkan dengan operasi, tapi kehamilan sekarang lebih baik dan lebih sehat. Jadi aku bisa melahirkan normal, posisi bayi juga bagus" ucap Zaina.


Gevin hanya menghela nafas pelan, meskipun suaminya dirinya memang sedikit khawatir dengan keadaan istrinya. Melihat kelahiran pertama istrinya waktu itu saja sudah membuat dirinya ketakutan. Namun, dia juga tidak bisa melakukan apapun ketika memang istrinya memilih untuk melahirkan secara normal. Melihat Zaina kesakitan yang membuat Gevin takut. Merasa tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi karena memang itu adalah kodratnya perempuan.


Zaina mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Jangan takut dan jangan berpikir terlalu jauh, aku akan baik-baik saja"


Gevin memegang tangan istrinya yang berada di pipinya. Memang dirinya juga tahu jika sekarang keadaan dan kesehatan Zaina lebih baik. Dokter juga sudah menjelaskan semuanya. Hanya saja rasa khawatir itu tetap ada.


"Kamu harus baik-baik saja, bayi kita juga sama" ucap Gevin sambil menggenggam tangan Zaina.


Zaina mengangguk dan tersenyum, dia yakin jika kali ini dia akan berhasil menjadi Ibu.


#########


"Aldo keluar, ada yang menjengukmu"


Aldo terdiam mendengar itu, sudah hampir 6 bulan lamanya dan dia tidak pernah ada yang menjenguk. Kedua orang tuanya dan keluarganya bahkan seolah melupakan kehadirannya di dalam keluarga mereka. Hingga sekarang Aldo sedikit kebingungan dan terkejut dengan ucapan polisi barusan.


"Cepat"


Aldo mengerjap, dia segera berdiri dan keluar dengan di jaga oleh polisi itu. Menuju ruang besuk disana. Ketika Aldo masuk dan dia melihat punggung seseorang yang sepertinya dia mengenalnya. Aldo berjalan menghampiri orang yang sedang duduk itu. 


"Hai"

__ADS_1


Hampir saja tubuh Aldo limbung dan ambruk keatas lantai. Melihat siapa yang ternyata datang menjenguknya itu. Rasanya masih terlalu tidak percaya siapa yang dia lihat saat ini. Tubuh Aldo langsung jatuh begitu saja ke lantai, berlutut di depan gadis cantik yang mejenguknya di penjara saat ini. Air mata yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.


"Gen, maafkan aku" ucapnya dengan kepala menunduk.


Genara menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana Aldo yang sedang meratapi penyesalannya selama ini. Di sel penjara, Aldo hanya meratapi segala penyesalan atas apa yang dia lakukan selama ini.


"Sudahlah, aku sudah memaafkan kamu dan melupakan semuanya. Hari ini aku datang hanya untuk memberi tahu kamu kalau sekarang aku sudah mempunyai banyak teman. Aku sudah bukan Genara yang sulit bergaul lagi, semuanya berkat kamu yang selalu mengajarkan aku untuk bisa lebih percaya diri dan terbuka untuk bergaul dengan banyak teman. Terima kasih ya" ucap Genara.


Teringat saat mereka masih bersama dan berpacaran. Maka Aldo selalu meminta dirinya untuk membuka diri lagi untuk bisa lebih terbuka untuk bergaul dengan banyak teman. Dan sekarang Genara merasa semua berkat Aldo sampai sekarang di tempat kerjanya, dia bisa mempunyai banyak teman. Bahkan ada seorang pria yang terus mendekatinya dan memberikan perhatian lebih padanya.


Aldo duduk berhadapan dengan Genara, hanya terhalang sebuah meja saja. "Semuanya karena memang kamu yang menyenangkan membuat banyak teman yang mau berteman denganmu"


Genara tersenyum mendengar itu, dia meraih papper bag yang dia bawa. "Ini aku bawakan makanan buat kamu. Pastinya makanan disini tidak enak ya"


Aldo tersenyum dengan air mata yang menetes begitu saja yang langsung dia usap dengan kasar. Setelah semua yang dia perbuat pada Genara, dia masih bisa begitu baik padanya seperti ini. Bahkan sampai menjenguknya. Padahal banyak sekali luka yang dia ciptakan pada Aldo.


"Terima kasih ya Gen, kamu sudah menjengukku dan membawakan makanan juga. Maaf atas semua kesalahanku selama ini" lirih Aldo dengan suara parau.


Genara tersenyum, dia memegang tangan Aldo di atas meja. "Sudahlah, aku sudah melupakan semuanya"


Yang berarti Genara sudah melupakan semuanya tentang Aldo dan perasaannya. Lebih tepatnya sedang mencoba untuk melupakannya. Genara tidak mau sampai harus terus terjebak dengan cinta yang hanya akan menyakiti hatinya saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2