
Deg..
Tubuh Genara langsung terdiam seketika saat dia melihat Aldo yang berdiri di depannya saat ini. Genara yang bermaksud untuk membukakan pintu karena mendengar bell yang terus berbunyi, tapi ternyata dia malah bertemu dengan Aldo.
"K-kak Aldo" ucap Genara dengan tergagap.
Aldo tersenyum melihat wajah Genara yang bengong dan terkejut itu. Bahkan cara bicaranya yang tiba-tiba saja jadi tergagap seperti itu. Aldo mengacak rambut Genara dengan gemas.
"Iya Gen, aku kesini mau ketemu Zaina. Apa dia ada?" tanya Aldo.
Tubuh Genara masih mematung, karena usapan tangan Aldo di kepalanya itu. Sungguh, Genara masih sangat merasa tidak nyaman ketika Aldo melakukan hal seperti ini. Bukan tidak nyaman karena dia tidak suka dengan apa yang Aldo lakukan barusan. Tapi detak jantungnya yang tidak bisa di kendalikan jika Aldo melakukan hal seperti ini. Berdiri dekatnya saja sudah berhasil membuat jantung Genara berdetak kencang, apalagi dengan hal seperti ini.
"Em, Kak Zaina tidak ada Kak, sedang pergi ke Kantor Kak Gevin. Mau antar makan siang katanya" ucap Genara dengan memalingkan wajahnya yang sudah mulai terasa memanas.
"Oh gitu ya, yaudah kalau gitu aku pulang saja. Nanti bisa datang lagi kesini" ucap Aldo yang sudah berbalik dan siap pergi meninggalkan Genara yang masih terdiam di tempatnya.
Jangan biarkan dia pergi begitu saja Genara. Ini adalah kesempatan untuk kamu agar bisa lebih mendekatkan diri padanya. Akal sehat Genara yang sedang memberikan perintah pada dirinya untuk mencegah Aldo pergi saat ini.
"Tunggu dulu Kak.." teriak Genara, dia bahkan terkejut sendiri dengan suaranya itu. Aduh, kenapa harus berteriak si Gen.
Aldo langsung berbalik dan menatap Genara dengan salah satu alis yang terangkat. Seolah sedang bertanya dan sedikit heran dengan Genara yang menginginkan dirinya menunggu. Seolah sedang menunggu penjelasan dari Genara atas ucapannya yang tidak selesai itu.
"Em, tunggu saja sebentar Kak. Mungkin sebentar lagi Kak Zaina akan pulang, dia bilang tidak akan lama kok. Daripada nanti Kak Aldo harus bolak-balik kesini, mendingan tunggu saja dulu sekarang" ucap Genara dengan sangat gugup.
Aldo sedikit berpikir sebentar, sampai akhirnya dia mneyetujuinya. Genara menghela nafas lega karena Aldo yang mau menunggu, dia langsung mempersilahkan Aldo untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Duduk dulu Kak, biar aku ambilkan minum ya. Mau minum apa" ucap Genara.
"Apa saja"
Genara mengangguk mengerti, dia langsung berlalu ke dapur dan membuatkan Aldo secangkir kopi. Apa yang harus aku katakan ya? Aaa.. Aku harus memulai darimana nanti? Genara yang sedang bingung untuk bisa mencairkan suasana dengan Aldo nanti, hanya sekedar mnegobrol saja. Namun Genara tidak tahu caranya harus memulai percakapan yang seperti apa. Ah, dia memang benar-benar gadis yang kaku dalam hal seperti ini.
Genara meletakan sendok setelah dia selesai mengaduk kopi untuk Aldo, lalu segera dia membawa kopi itu ke ruang tamu. Melihat Aldo yang sedang fokus pada ponselnya, membuat langkah Genara memelan, dia melihat sosok pria yang benar-benar tampan sekarang. Ah, Genara kamu memang sudah jatuh cinta padanya.
"Minumnya Kak" Genara meletakan minuman yang dia bawa itu di atas meja depan Aldo.
Aldo langsung mendongak dan tersenyum pada Genara, senyuman yang selalu saja menarik perhatian Genara selama ini. "Terima kasih ya Gen, maaf sudah merepotkan"
Genara menggeleng cepat, dia duduk di sofa depan Aldo. Menatap wajah tampan pria yang sudah mengobrak-ngabrik hatinya ini. "Tidak repot sama sekali Kak, aku senang kalau Kakak bisa mencoba kopi buatanku itu. Semoga sesuai dengan lidah Kakak ya"
Aldo mengangguk, dia mengambil cangkir kopi di atas meja itu. Meminum cairan menghitam yang sudah diberikan gula di dalam cangkir itu. Lalu dia merasakan rasa yang cukup pas dan cocok dilidahnya.
"Enak kok, hanya kebanyakan gula saja sedikit" ucap Aldo apa adanya.
Genara tersenyum mendengar itu, tentu saja hal ini membuat Genara semakin tahu tentang Aldo. "Em Kak, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu sama Kakak"
Genara hanya mencoba untuk memberanikan diri untuk melakukan ini. Dia tidak tahu harus melakukan apa karena memang dirinya juga hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini dirinya rasakan. Meski Genara tidak tahu akan jawaban yang akan di berikan oleh Aldo nantinya.
Mungkin memang seharusnya aku mengungkapkan dulu perasaan aku ini, tidak peduli apapun reaksi Kak Aldo nantinya.
Aldo menoleh pada Genara, menatapnya dengan kening berkerut. "Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
__ADS_1
Genara meremas bajunya saat dia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya agar bisa mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Genara menghembuskan nafas pelan sebelum dia mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan saat ini.
"Sebenarnya selama ini aku, em..." Tiba-tiba saja semua kata yang ingin dia ucapkan langsung tercekat di tenggorokan begitu saja. Namun Genara mencoba untuk menetralkan perasaan gugupnya kembali. "...Kak, aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini. Perasaan itu tiba-tiba saja hadir begitu saja dalam hatiku. Kak Aldo, aku mencintaimu"
Deg..
########
"Jadi kamu sengaja datang kesini hanya untuk membuat Genara mempunyai waktu untuk berdua dengan Aldo?" tanya Gevin yang mendengar cerita Zaina hari ini.
Saat ini keduanya sedang berada dalam perjalanan pulang dan Zaina bercerita tentang Genara yang datang ke rumah dan rencana yang dia lakukan saat ini.
"Iya Mas, abisnya kasihan juga Genara kalau hanya terus memendam perasaannya.Kalau memang dia mencintai Aldo, memang seharusnya di ungkapkan saja" jelas Zaina.
Gevin hanya menggeleng pelan sambil tersenyum dengan kelakuan istrinya ini. "Memangnya kamu tidak pernah berniat mengungkapkan perasaan kamu padaku saat dulu?"
Zaina menggeleng pelan, tentu saja dia juga tidak mempunyai keberanian. Sebenarnya dia menyarankan pada Genara agar mengungkapkan perasaannya pada Aldo juga agar dia tenang saja, tidak seperti dirinya yang terus memendam perasaan bahkan sampai menikah sekalipun.
"Nah itu, kenapa kamu menyuruh Genara mengungkapkan perasaannya, kalau kamu saja dulu tidak berniat untuk mencoba mengungkapkan perasaan kamu padaku" ucap Gevin, merasa heran dengan istrinya ini.
Zaina menghela nafas pelan mendengar ucapan suaminya itu. "Ya memang aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaan aku itu. Kan waktu itu kamu sudah berpacaran dengan Lolyta, jadi aku sudah tahu kalau kamu memang tidak pernah mempunyai perasaan apapun padaku"
Gevin terdiam mendengar itu, memang benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Mungkin memang Zaina yang tidak mempunyai kesempatan untuk bisa mengungkapkan perasaannya itu padanya.
"Yaudah gak usah di bahas lagi, lebih baik sekarang kita bahagia saja dengan masa sekarang dimana kita sudah saling mencintai" ucap Gevin dan Zaina hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Bersambung