
Pertanyaan dari Ruby cukup membuat Ghea terkejut, namun dengan bakat acting-nya membuatnya terlihat biasa saja.
"Sebaiknya kamu pulang, kamu tidak akan menemukan apa yang kamu inginkan disini." Pinta Ruby.
Ghea masih tak mau beranjak, ia menatap Ruby yang sudah mulai geram.
"Satu lagi, orang yang memberitahumu tentang semua ini hanya memanfaatkanmu saja. Jika kamu tidak tahu, sebenarnya dia juga menginginkan suamiku."
Kalimat Ruby cukup membuat Ghea mengangkat pantatnya dari sofa, Ghea tidak bisa menutupi wajah kagetnya dan memilih untuk pergi.
Melihat gelagat Ghea membuat Ruby terpukul. Ia ingin sekali menyangkal hasil praduganya, tapi Ghea terlalu jelas menjawab kebenarannya.
Ruby bergegas kembali ke kamar dan berganti baju sambil tangannya sibuk memesan ojek online. Tak lupa ia mengirim pesan pada Hiko jika ia akan jalan-jalan keluar sebentar.
Driver ojek online sudah tiba didepan rumah ketika Ruby baru membuka pintu ruang tamu.
"Bi, saya keluar dulu ya?" pamit Ruby pada Inah yang mengantar kepergiannya.
"Iya, Non. Hati-hati." Ucap Inah.
Ruby mengangguk dan menghampiri driver ojek online.
"Sesuai aplikasi ya, kak?" tanya Driver.
"Iya, kak." Jawab Ruby sambil naik diatas motor.
Driver pun menuju ke tempat sesuai dengan yang ada di aplikasinya. Dengan sigap dan hati-hati driver ojol meliuk-liukkan kendaraannya di tengah padatnya kendaraan. Ruby sesekali menatap layar ponselnya dan mengetik sesuatu disana. Ia sedang sibuk berbalas chat dengan seseorang.
Roda motor driver ojol yang membawa Ruby mulai menapaki jalanan berpaving perumahan yang memiliki sebuah kenangan buruk untuknya.
"Rumah yang gak ada pagarnya itu ya, Mbak." Ujar Ruby.
"Oke, kak."
Motor berhenti tepat disebuah rumah yang memiliki halaman luas dan tak memiliki pagar.
"Makasih ya, Mbak." Ruby mengembalikan Helm pada driver kemudian beranjak masuk ke halaman rumah tersebut.
Rumah Nara, iya! Ruby sedang menduga Nara-lah yang menceritakan semuanya pada Ghea.
Ruby sudah mengetuk beberapa kali pintu dan memberikan jeda sejenak untuk pemilik rumah berjalan membukakan pintu.
ceklek!
Pintu terbuka, Nara terliat malas melihat kehadiran Ruby dirumahnya.
"Sebenci itukah kamu padaku, Ra?" tanya Ruby tanpa basa basi.
"Ya!" Jawab Nara tegas.
Ruby menarik nafas, menatap langit-langit rumah untuk menahan air matanya yang hampir terjatuh.
"Pergilah, aku tidak mau bicara apapun padamu."
Nara hendak menutup pintu namun Ruby segera menahannya.
"Kita harus bicara, Ra!"
Nara menggeleng, "Bicaralah padaku jika kamu sudah mengembalikan Hiko ke aku!"
Nara mendorong tubuh Ruby hingga terjatuh di teras rumahnya, kemudian menutup pintu keras-keras seakan tak sudi menerima kehadiran Ruby kembali.
Ruby terdiam dan menangis disana. Masih tak mempercayai jika sahabat yang sangat ia sayangi bisa menyakitinya seperti ini. Ia tak menyalahkan sepenuhnya jika itu salah Nara, Ia juga bersalah disini. Mungkin ini harga yang harus didapat dari keegoisannya.
**********
Pondok pesantren Darul Hikmah menjadi tujuan Ruby sepulangnya dari rumah Nara. Entah kenapa ia ingin menemui orang tuanya untuk menenangkan fikirannya.
"Assalamu'alaikum." Ruby mengetuk pintu ruang tamu Kyai Nur.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar sahutan suara Azizah dari dalam rumah.
Tak Lama pintu terbuka.
"Mbak Ruby!!" Azizah langsung memeluk Ruby erat-erat, "Mbak gimana kabarnya?" tanya Azizah setelah melepas pelukannya. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Ruby memberikan senyum terbaiknya, "Aku baik-baik saja, Zizah." Jawabnya.
"Ayo, Mbak. Masuk." Ajak Azizah.
Mereka berdua menuju ke ruang tengah. Suasana rumah sangat sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan kedua orang tuanya.
"Abi, Ummi, Pakdhe dan Budhe sedang ikut menemani kyai Marzuki, Mbak." Azizah menjawab pertanyaan Ruby yang masih belum sempat dikeluarkan.
"Kyai Marzuki?" Ruby memperjelas. "Apa hari ini mas Iqbal mau meng-khitbah cucu Habib Umar?" tanya Ruby.
Azizah terliat enggan untuk bercerita.
"Gak apa, Zizah. Aku sudah tak memiliki banyak perasaan pada mas Iqbal." Ruby meyakinkan.
"Zizah juga belum tahu kabarnya sih, Mbak. Cuma seoertinya ada kabar kurang mengenakkan jadi kyai Marzuki mendatangi rumah habib Umar."
"Kabar apa, Zizah?"
Azizah menggeleng, "Ummi masih belum cerita ke Zizah, Mbak"
"Semoga tidak menjadi penghalang niat baik mereka ya, Zizah."
"Aamiin, Mbak. Aamiin."
"Mbak sendiri bagaimana dengan mas Hiko? Dari cerita budhe, Mbak dan Mas Hiko udah makin romantis, nih?"
Ruby tersenyum, "Alhamdulillah, Allah berkenan melembutkan hati mbak untuk bisa menerima kehadiran orang lain di hati mbak."
"Alhamdulillah, Zizah ikut seneng."
Percakapan Ruby terhenti ketika ada panggilan masuk di ponsel Ruby. Nama 'SiGanteng' tampil di layar utama membuat Zizah memberikan senyum menggoda.
__ADS_1
"Mas Hiko yang kasih nama, bukan mbak, Zizah." Ruby buru-buru membela diri, tak mau Azizah berfikir Yang tidak-tidak.
"Iya, Mbak. Iya."
Ruby masih ingin meyakinkan sepupunya itu, tapi ia juga harus segera menerima panggilan telepon suaminya.
"Assalamu'alaikum, Mas." Sapa Ruby.
"Wa'alaikumsalam, Ruby. Kamu sudah di Darul Hikmah?"
"Sudah, Mas."
"Gak usah kemana-mana lagi, ya. Disana aja, nanti sore aku jemput."
"Iya, Mas."
"Jangan lupa makan siang ya, By."
"Mas juga ya, jangan telat makan."
"Assalamu'alaikum, Ruby."
"Wa'alaikumsalam, Mas."
"Ciyeee..." Goda Azizah setelah Ruby mengakhiri panggilan teleponnya. "Mesra banget ya sekarang."
"Makanya, buruan di kelarin kuliahnya, trus nikah."
Azizah menggeleng, "Abi mau aku cari pengalaman dulu, Mbak. Gak mau nikahin aku cepet-cepet katanya."
"Paklek emang te o pe be ge te. Tahu kemajuan zaman. Gak harus maksa dulu, kaya mbak maksa pak kyai Abdullah Al Mutsanna." Sahut Ruby, "Emang gak ada yang ngajakin kamu ta'aruf, Zizah?"
"Ada sih, Mbak. Tapi aku masih belum bisa terikat dengan apapun, Mbak."
Ruby tersenyum dan menepuk punggung tangan Azizah.
Percakapannya dengan Azizah cukup mengalihkan kesedihan dan kepiluan hatinya. Bagimanapun juga, ia haru menyembunyikan fakta ini dari Hiko. Ia tidak mau Hiko berbuat nekat pada Nara hingga merugikan keduanya.
**********
Tepat sebelum matahari tenggelam, rombongan kyai Abdullah datang. Tentu Iqbal menjadi salah satu diantara mereka. Bagaimanapun juga, Ruby masih terlalu canggung bertemu dengan Iqbal. Ia memilih untuk menyiapkan hidangan bersama Azizah dan beberapa santri putri di dapur.
Sejak menyapa dan bersalaman dengan Iqbal dan kedua orangtuanya, Ruby tidak berani menampakkan diri dihadapan mereka. Walau Nyai Hannah sudah memintanya, Ruby tetap bersikeras berada di dapur.
"In Shaa Allah kamu akan mendapat jodoh yang lebih baik lagi, Nak."
Samar suara Abinya terdengar ketika Ruby mengambil tasnya yang ada di kamar Azizah. Ia menatap Azizah yang sudah berada di dalam kamar.
Ruby dengan cepat menutup pintu kamar dan menghampiri Azizah.
"Zizah! Mas Iqbal batal ..."
"Sssttt" Azizah memperingatkan Ruby untuk menurunkan suaranya.
Ruby mengangguk dan duduk disamping Azizah. "Kamu tahu?"
"Tadi kamu bilang gak tahu."
"Zizah sendiri juga belum yakin tadi, Mbak."
Ruby terdiam, entah kenapa Ruby ikut sedih mendengar kabar itu. Kenapa seburuk itu nasib percintaan Iqbal. Dua kali ia diputuskan oleh pihak perempuan, bagaimana perasaannya saat ini.
tok tok tok.
"By... Suamimu datang, Nak." Suara nyai Hannah terdengar di luar kamar.
"Iya, Ummi." Sahut Ruby.
Ia bergegas keluar menghampiri Hiko Yang sudah bergabung di ruang tamu bersama keluarganya dan keluarga Iqbal. Ada Genta yang turut hadir disana.
"Sholat magrib disini dulu aja ya, By. Sekalian makan malam disini sama-sama." Pinta kyai Nur.
Ruby menatap Hiko, ia setuju dengan tawaran kyai Nur.
"Inggih, Paklek." Jawab Ruby.
"Ya sudah, kita ke masjid aja dulu." Ajak kyai Abdullah.
Semua beranjak berdiri, termasuk Ibu Nyai semua ikut pergi sholat berjamaah di Masjid.
Saat beranjak pergi, tak sengaja tatapan Ruby dan Iqbal bertemu hingga membuat Ruby salah tingkah dan tertunduk. Ia segera menghampiri Hiko yang masih berdiri menatapnya dengan senyuman. Ada sorot mata cemburu disana, tapi tak ditunjukkan terang-terangan dihadapan Ruby.
"Mas mau ku pinjamkan baju ganti milik Ehsan?" tanya Ruby.
Hiko menggeleng, "In Sha Allah masih suci kok, By." Ia menatap pakaiannya.
"Mas Genta juga?" tanya Ruby pada Genta.
"Boleh pinjem ya, By?" tanya Genta.
"Boleh lah, Mas. Bentar ya." Baru beranjak masuk, terlihat Azizah yang keluar kamar mandi. "Zizah!" Panggil Ruby.
"Iya, Mbak?"
Ruby menghampiri Azizah, "Bisa pinjem baju koko dan sarungnya Ehsan? Buat temennya mas Hiko."
"Iya, Mbak. Aku ambilkan."
"Mbak ke kamar mandi dulu ya, minta tolong nanti kamu anter ke depan." pinta Ruby.
"Iya, Mbak."
Azizah pergi ke kamar Ehsan dan mengambil baju koko serta sarung.
Sementara itu Genta sedang harap-harap cemas ingin mengetahui wajah gadis bernama Azizah itu seperti apa.
Mengerti jika Hiko akan menjemput Ruby di Darul Hikmah membuat Genta bersikeras memaksa ikut hanya untuk bertemu Azizah.
__ADS_1
Gadis manis dengan senyum yang lembut muncul membawa sepasang pakaian untuk Genta. Entah darimana asalnya, Genta seakan mendengar lagu Bidadari Surga milik Alm. Uje mengiringi tiap-tiap langkah Azizah.
Engkaulah ... bidadari surgaku...
"Ta!"
Sebuah dorongan kecil dibahu Genta membuatnya tersadar dari dunia imajinasinya. Ia menatap pria disampingnya itu dengan kesal.
"Tuh, baju ganti Lo!!" Hiko menjawab sorot mata kesal Genta.
Genta menatap Zizah yang dengan sabar menunggu Genta mengambil pakaian ditangan Zizah.
"Maaf..." Ucap Genta.
"Mari saya antar ke kamar mandi, Mas." Zizah menawarkan diri.
"Baik, Dik Zizah."
Hiko hampir muntah mendengar cara Genta memanggil Zizah.
Ruby yang sudah selesai dari kamar mandi terlihat bingung ketika melihat tingkah suaminya yang tertawa geli. "Kenapa, Mas?" tanya Ruby.
"Genta naksir Zizah tuh, bisa bisanya manggil Zizah dengan sebutan 'Dik." jawab Hiko sambil bergidik ngeri.
"Hush! Jangan gitu." Ruby menepuk lengan Hiko pelan.
Keduanya dibuat tertawa dengan kelakuan Genta pada Zizah. Setelah Genta selesai berganti baju, ia kembali menghampiri Hiko dan Ruby di ruang tamu.
"Gue udah putusin mau nikah muda kaya lo aja, Ko. Gue takut Zina." kata Genta tiba-tiba.
Hiko menyebikkan bibirnya, sedangkan Ruby tertawa kecil.
"Mas Genta ada rasa sama Zizah?" tanya Ruby.
Genta mengangguk cepat.
"Hadeeeh, rukun islam aja gak hafal mo nikahin anak kyai." Cibir Hiko. "Lagian nikah muda juga bukan satu-satunya cara ngehindari Zina, Ta."
"Trus?"
"Mati muda juga bisa ngehindari Zina."
"B*ngs*at Lo, Ko!" Genta segera menutup mulutnya yang mengumpat tidak pada tempatnya.
Ekspresi Genta membuat gelak tawa Hiko dan Ruby.
"Sudah, buruan ke masjid, Mas. Nanti ketinggalan loh." Ujar Ruby
"Iya, By. Aku berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Hiko dan Genta segera pergi ke masjid. Sedangkan Azizah memilih sholat dirumah saja dan membantu Ruby menyiapkan makan malam.
Sudah kebiasaan keluarga untuk tetap berada di masjid setelah sholat magrib untuk menyambung ke sholat isya'. Barulah usai sholat isya' mereka kembali ke rumah kyai Nur.
Ruang tengah menjadi tempat untuk makan malam keluarga besar itu. Tentu saja Ruby duduk tepat disamping Hiko. Semuanya membaur, bertukar cerita dan canda tawa untuk menghibur Ruby dan Iqbal yang sedang menjalani cobaan dari Allah. Ruby sudah mencoba untuk menikmati menikmati moment ini, tapi tetap saja ia tak bisa terlalu larut didalamnya. Senyum palsu pun sering ia keluarkan saat itu.
Hiko menyadari hal itu, ia pun juga menyadari jika sedari tadi pria yang pernah menjadi pemilik hati Ruby itu tak berhenti memperhatikan istrinya hingga makan malam berakhir.
Usai makan malam, Ruby, Hiko dan Genta ikut bercakap-cakap sejenak dan kemuian langsung berpamitan untuk pulang.
Hiko pergi mengantar Genta untuk pulang terlebih dahulu, barulah ia kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, Ruby merasa ada yang berbeda dengan suaminya yang terus menerus diam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?" tanya Ruby.
Hiko menatap Ruby sejenak dan tersenyum tanpa memberikan jawaban.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu." Ruby masih membujuk.
"Aku hanya tidak ikhlas melihat Iqbal masih peduli padamu." Jawab Hiko.
"Apa kamu sedang cemburu, Mas?" tanya Ruby.
Hiko menggeleng. "Aku hanya sedang tidak percaya diri."
Ruby bingung, tak tahu maksud pernyataan Hiko. "Maksud, Mas?"
"Aku tidak percaya diri bisa mendapatkan seluruh hatimu, By."
"Mas..."
"Melihat Iqbal yang sesempurna itu membuat kesombonganku tercabik-cabik, rasa percaya diriku menguap begitu saja, aku terlihat begitu kerdil dihadapannya."
"Mas ..."
"Dan lagi," Hiko menatap Ruby sejenak, kemudian kembali menatap jalanan. "Dimatamu masih ada sosok Iqbal."
"Maafkan aku, Mas."
"Enggak, Ruby." Hiko mengusap kepala Ruby, "Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah. Aku tidak akan memaksamu membuang cinta pertamamu. Biarkan aku yang berjuang memantaskan diri untukmu dan aku bisa sepenuhnya mendapatkan cintamu."
Ruby tersenyum, inilah salah satu yang membuat Ruby bersikap egois tak mau melepaskan Hiko. Pria arogan dengan segala kecongkaannya itu bisa mengakui kekurangan dirinya sendiri dan selalu bisa mengerti keadaan Ruby hingga membuat Ruby tetap nyaman bersamanya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan votenya ya kakak.
__ADS_1
Terimakasih.